Yang Terdiam Saat Tersakiti

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 14 Februari 2017
Yang Terdiam Saat Tersakiti

Saat mengikuti launching buku kumpulan puisi karya Nata Timothy, Sisa-Sisa Picesty di Omah Kopi, Yogyakarta pada 12 Februari 2017, keterkesananku perihal momen tersakiti ataupun disakiti menyeruak di kepala.

Setidaknya, selama berjalannya acara bedah buku itu, penulis dan dua pembedah yang diundang hadir ikutserta menyinggung ikhwal perihal kesakitan yang dimaknai sebagai momen kreatif perjalanan seorang penulis.

Apa yang kamu maknai dari momen tersakiti?

Berdasarkan pernyataan kedua pembedah, yaitu Raedu Basha dan Alfin Rizal, tersakiti atau disakiti lebih menjadi ruang kegelisahan yang suatu hari bisa menjadi pemantik berkarya.

Raedu secara khusus menyoal perihal jatuh cinta dan patah hati sebagai ruang penghayatan untuk melahirkan karya.

Di esai yang ditulis dan dibagikan kepada peserta, Raedu menulis dengan judul yang sangat melankolis, patah cinta akan menyulap seseorang menjadi penyair.

Dalam pemahaman Raedu, Siapapun yang terlibat pada kondisi jatuh cinta dan tersakiti berpotensi menjadi penyair. Esai singkat itu mendedahkan jika patah hati menjadi ihwal spirit berkarya.

Tak percaya?

Raedu mengutip guyonan Gus Dur saat kedatangan pemuda yang mengklaim jika karya tulisnya jelek. Lalu, apa jawaban Gus Dur?

"Kamu belum pernah disakiti perempuan. Pantas tulisanmu jelek," Kata Gus Dur.

Nah, cerita Gus Dur ini, kata Raedu memberikan sebuah pemaknaan jika tersakiti atau disakiti bisa dijadikan peristiwa jantung yang menyuburkan semangat berkarya.

Pernyataan Raedu semakin dipertegas Alfin Rizal, jika karya masih tetap kurang baik. Tolong minta Picesty untuk melukai dan menyakiti lagi.

"Picesty, sakiti aku lagi. Sakiti aku lagi! " ungkap Rizal.

Si penulis buku, Tata Timothy pun tak menolak penilaian jika penyertaan kenangan berpotensi melahirkan debaran jantung untuk menulis puisi.

Nata juga menceritakan bahwa proses kreatifnya dimulai dari kegelisahan yang dimiliki, terutama tentang hadirnya ingatan-ingatan tentang seseorang, yang secara khusus dinamai Picesty, yaitu gadis pertama dan gadis terakhir.

Kehadiran cinta dan momen tersakiti, pada suatu waktu bisa meledakkan semangat berkarya.

Kata Nata, mengutip cerita roman, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick karya Hamka tentang sosok Zainuddin yang terluka. Dengan tekun menulis cerita-cerita kesedihannya sehingga menyentuh sosok yang dicintainya. Cerita itu pun akhirnya menggugah ingatan Hayati, si gadis setelah membaca racikan kata si Zainuddin.

Memilih seperti Zainuddin. Jika suatu hari kamu jatuh hati. Maka menulislah.

Jadikan rasa sakitnya sebagai proses untuk menemukan dirimu. Menulis dan membukukan karya.

Yang dibutuhkan hanya permenungan dalam diam. Memikirkan tentang rasa sakit.

Memikirkan tentang kesendirian dan kemudian mewujudkan rasa cinta itu dalam bentuk karya.

Hanya yang serius menikmati ketersiksaan pada momen tersakiti dan disakiti itulah yang pada suatu waktu akan melahirkan karya yang baik.

Meskipun demikian, aku tak menyarankan kamu untuk tersakiti.

Jika kamu bisa berkarya lebih banyak lagi dalam keadaan bahagia. Kenapa harus menunggu hingga terluka dan lukanya semakin dalam?

Fendi Chovi, 2017