Para Penentang Hari Valentine

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 13 Februari 2017
Para Penentang Hari Valentine

Perayaan Valentine mendapatkan penolakan keras dari sejumlah umat muslim. Berbagai aksi digelar untuk menolak perayaannya.

Hari Valentine dianggap lebih condong menjadi ajang menabur kemaksiatan di kalangan pemuda daripada menebarkan kasih sayang yang sebenarnya.

Lalu apa yang salah dari Hari Valentine sehingga memunculkan reaksi sengit dan penentang itu?

Ternyata, tradisi perayaan Hari Valentine menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. tidak sedikit para pemuda merayakan hari itu bersama pasangannya. Kaum muda akan selalu berbicara cinta dan kasih sayang sesuai  selera dan kemauannya.

Meski itu kadang bertentangan dengan aturan halal dan haram dalam agama islam. sebenarnya, inti perlawanan dan penentangnya tersebut karena hari valentine lebih banyak membuat pemuda terbawa arus gelombang kebebasan, mengumbar hawa nafsu daripada menabur kasih sayang yang sebenarnya.

Kasih sayang yang menguatkan, memberikan kenyamanan, dan perlindungan. Maka, anjuran menolak Hari Valentine pun marak. Karena, selain tradisi ini besarl dari luar islam, tradisi ini juga mencampurbaurkan antara yang halal dan haram dalam konteks hubungan anak manusia.

Dalam islam tidak ada aturan merayakan hari kasih sayang pada hari-hari tertentu sebab kasih sayang harus tetap dirayakan setiap hari, dalam suka atau duka. Kasih sayang tetap harus disebarkan.

Nah, dalam konteks hari Valentine, kasih sayang tersebut justru disalahgunakan karena lebih bermuatan kemaksiatan daripada merayakan cinta.

Tentu merayakan kasih sayang karena unsur cinta kepada pasangan adalah sesuatu yang dianjurkan dan ini akan berbuah pahala. Tetapi, berbagi kasih sayang kepada seseorang terlebih yang mah belum ada ikatan pernikahan merupakan salah satu ujian terberat keimanan seseorang.

Felix Y Siauw dalam bukunya Udah Putusin Saja menyampaikan bahwa punya cinta tidak berarti harus mengumbar cinta, kan?

Mencinta tidak berarti membolehkan segala yang dilarang Allah SWT, kan?

Itulah sebabnya perayaan Hari Valentine harus ditentang. Perayan ini bukan saja membuat cinta hanya sebagai komoditas- lewat hadiah-hadiah, cokelat, bunga, lilin, dan berbagai jenis lainnya  melainkan juga membuat semangat penyimpangan dalam generasi Muslim menjadi semakin parah.

Ustad Anis Matta dalam buku Serial Cinta menulis bahwa inti cinta adalah pelajaran bagaimana menjadi lebih baik dan berkesinambungan.

Tentu merayakan cinta merupakan sebuah upaya agar cinta bertambah lebih menyenangkan dijalani dan dilalui, dan cinta pun akan tumbuh bersemi.

Tetapi, merayakan cinta lewat momentum apalagi terpaku pada sesungguhnya membuat cinta hanya sebagai tradisi. Padahal, cinta harus dirayakan setiap hari. Maka tak salah kalau merayakan cinta di lahan yang salah. Tentu ini sebuah penyimpangan, bukan?

Bagaimana menurut Anda?

Tulisanku di atas pernah dimuat di salah satu rubrik di Harian Republika 2 tahun silam. Semoga menjadi refleksi diri dan hati.

  • view 89