Belajar dari Kak Yusran Darmawan

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 Februari 2017
Belajar dari Kak Yusran Darmawan

Di tengah bisingnya kebiasaan hujat menghujat, menyalurkan hasrat-hasrat kebencian melalui sosial media, yang sebenarnya dari tindakan itu tak memberikan efek lebih baik bagi diri sendiri, apalagi orang lain.

Kebiasaan kurang baik dari sejumlah orang di sekitarku itu sungguh membuatku cemas. Aku tak ingin seperti mereka. Aku pun menempuh cara lain saat ber-sosial media, yaitu mencari sesuatu yang bisa menjadikan diri terinspirasi dan termotivasi untuk perjalanan yang lebih baik di masa depan. 

Tanpa kuduga, aku bertemu blog, timur-angin.com (sebuah blog berisi tulisan menginspirasi, ditulis dengan sangat memikat dan di dalamnya aku menemukan kemasan gagasan yang luar biasa menarik dibaca dan direnungkan).

Blog itu ditulis Yusran Darmawan. Selanjutnya, aku menyebutkan Kak Yusran saja biar lebih asyik dan akrab.

Aku belum kenal di dunia nyata, apalagi berjumpa dengan sosok ini sih. Tapi itu tidak penting. Yang terpenting adalah bagaimana blog itu menginspirasiku untuk menjadikan aktivitas nge-blog sebagai jalan menyuarakan gagasan dan mencatat aktivitas yang kujalani dan belum tentu sama dengan apa yang dimiliki orang lain di muka bumi ini.

Di blog kak Yusran, ada banyak catatan sehari-hari yang ditulis dengan sangat memikat. Penulisnya pembaca buku yang akut. Isi blognya tidak kering hanya sekadar curhatan. Tapi juga berisi catatan tentang apa-apa yang dilihatnya, disesuaikan kontek persoalan yang ada.

Di blog itu Kak Yusran bercerita apa saja. Aku suka dengan blogger yang seperti itu. Dari curhatan itu, aku menjadi mengerti antara pure curhatan dan curhatan yang memberi makna pada kontek persoalan yang terjadi di sekitarnya.

Ah kak Yusran. Kau menggodaku saja!

Biar sedikit memahami siapakah kak Yusran Darmawan itu? Aku lebih suka menyebutnya sebagai blogger keren dan layak ditiru untuk membudayakan semangat ngeblog.

Prestasi akademisnya, kak Yusran sangat layak ditiru, prestasi ngeblog, apalagi. Tak kalah penting, dia adalah salah satu di antara blogger yang mampu menyajikan pengalaman sebagai menu untuk tulisan-tulisanya.

Yusran menjalani aktivitas ngeblog sejak tahun 2005 dan kian produktif pada rentang tahun 2008 hingga 2016 dengan postingan mencapai 262 hingga 344 tulisan per tahun.

Saat kuliah di UI, Yusran menulis segala hal mengenai pengalaman menikmati hiruk pikuk sebagai mahasiswa ditingkat master. Kemudian, saat mendapatkan beasiswa untuk studi lagi di negeri Paman Sam, seabrek tulisannya juga bertebaran tentang kota yang ditempatinya.

Lelaki kelahiran Buton yang mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Ohio, Amerika Serikat ini, sangat layak disebut blogger yang bisa menginspirasi para blogger lainnya.

Bukan hanya ide dan gagasan yang disodorkan kepada pembaca. Tapi kemampuan Yusran untuk meracik segala aktivitas yang ditemukannya di rentetan hari-hari yang dilewati dan dikemas menjadi tulisan yang menarik dibaca.

Yusran juga tercatat sebagai kompasianer aktif dan tulisannya seringkali jadi headline dan disukai para pembaca di akun citizen media tersebut.

Dari ribuan tulisan dengan postingan yang sangat kaya dengan beragam tema itu, aku menyukai postingan yang satu ini, judulnya : Penulis korea yang berbisik follow your passion!

Kalian layak membaca postingan di atas. Aku setuju dengan penulis korea yang disebutkan kak Yusran tersebut yang berisi pernyataan Life is Messy : Hidup memang tak seindah imajinasi kita.

Saat kita dihantui rasa jenuh dan rasa bimbang dan penat bertubi-tubi menjalani rutinitas. Lalu bisikan dari penulis korea yang (Yusran sendiri tidak menyebutkan namanya) berikut ini layak disimak.

“Ketika kamu merasa jenuh dan bosan, ikuti hal-hal yang membuatmu bahagia. Passion adalah satu-satunya hal yang akan membuatmu gembira! Follow your passion!”

Dari semua tulisan - tulisan kak Yusran itulah, aku menemukan inspirasi tentang menulis yang membuatku merasa ada. Menemukan diriku dan suara-suara yang keluar masuk dari hati yang layak dicatatkan. Dari suara-suaraku itu juga, aku menemukan suara-suara manusia lain, yang ditunjukkan dengan verbal maupun non verbal.

Sebagai blogger, aku hanya ingin menuliskannya lebih banyak lagi. Memberi makna pada setiap konteks yang kulalui dan kulewati.

Aku setuju dengan pernyataan yang ditulis kak Yusran, apakah menulis bisa membuat saya hidup layak? Entahlah. Yang pasti, saya bahagia saat melakukannya. Saya menemukan passion saya.

Kak Yusran, terima kasih ya !

Mulai tahun 2017 dan seterusnya, aku dipastikan ngeblog untuk melakukan hal yang sama.

Aku yang suka ngoceh di Akun Twitter @fendichovi

Baca tulisan keren Kak Yusran di link ini ; klik!  dan tulisan penyemangat untuk rajin menulis : klik! 

  • view 1.3 K