Untuk Seorang Gadis yang selalu Mengungkapkan, Kapan Kakak Menikahiku?

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Motivasi
dipublikasikan 08 Februari 2017
Untuk Seorang Gadis yang selalu Mengungkapkan, Kapan Kakak Menikahiku?

Apa kabarmu hari ini?

Masihkah dirimu gelisah dan tak lagi mampu tersenyum setelah memahami bahwa kakak tak benar-benar bisa menikahimu dalam waktu dekat?

Sekali lagi, kakak mohon maaf sebesar-besarnya rasa maaf.

Teruntuk kamu, gadis yang sekian tahun kakak panggil dengan sebutan adik dan sangat sabar telah menemani dengan rasa setia, membantu menyemangati, memberikan bantuan perihal keuangan, dan membantu segala hal yang kakak butuhkan.

Sejak mendengarkan permintaan yang kesepuluh, berupa pertanyaan, kapan kakak hendak menikahi adik? Kakak tidak benar-benar kuasa untuk menyepakati permintaan adik.

Aku mohon maaf atas waktu menunggu yang begitu lama. Aku mohon maaf jika ternyata adik benar-benar sesunggukan menangis dan berkali-kali mengutuki diri kakak.

"Kakak jahat!"
"Kakak pengecut!"
"Kakak tak gentle!"

Mungkin kakak benar-benar menjadi bagian orang-orang yang baru saja adik sebutkan tadi.

Saat mengatakan ini kepada adik, kakak hanya menginginkan jika adik benar-benar mendapatkan yang lebih sesuai dengan apa yang diharapkan orang tua adik.

Kakak berjalan kaki. Kakak tak punya rumah mewah bahkan untuk sekadar makan harus banting tulang dan sesekali pinjam hutangan.

Lha adik, sejak kecil sudah berlimpah kasih sayang. Berlimpah materi yang cukup untuk sekadar merasakan kenikmatan akhir pekan di tempat tongkrongan termewah.

Untuk adik yang dulu pernah mengajari kakak untuk berjuang mati-matian, berjuang habis-habisan, belajar sungguh-sungguh, ternyata tulang-tulang ditubuhku tak cukup kuat melayani hasrat untuk menjadi manusia maju dan mencapai kemajuan, utamanya soal finansial.

Kakak tetaplah seorang lelaki yang tak ada perubahan apa-apa kecuali hanya seonggok daging yang tidur-tiduran, bercanda, sesekali merenung.

Itu kenapa kakak membiarkan adik untuk menunggu dulu.

Siapa tahu nasibku terus membaik. Nasibku yang papa bisa naik kasta dengan keberlimpahan harta kekayaan, mobil mewah, relasi yang bertebaran di mana-mana.

O, ternyata tak sesuai dengan harapan.

O, keadaan itu menyebabkan kakak berpikir, ternyata kata cinta tak kunjung layak dimuarakan jika air bening harus bersatu dengan angin keruh.

O, untuk adik yang sering bertanya? Kapan kakak menikahiku?

Kakak tak tahu. Kakak tak bisa menjawab. Ada baiknya kakak harus pergi sejauh-jauhnya.

Adikku yang baik. Maafkan, maafkan, maafkan!

Ternyata cinta itu tak selalu soal memberi ruang di dalam hati. Cinta itu tak selalu soal memberi harapan dalam waktu yang lama untuk menunggu.

Tapi cinta juga berbicara soal harapan untuk menyatukan status sosial, status kekayaan, status pekerjaan.

Sayang, harapan-harapan itu tak kunjung dipertemukan dengan kakak.

Kapan kakak hendak menikahiku? Tanya adik waktu itu, kan?

Kakak ngga tahu, mungkin hanya cinta yang ada, tapi kakak tak kuasa melawan perlawanan-perlawanan orang tuamu.

O, adikku!

Tanpa sepengetahuanmu, kakak dihardik mati-matian oleh keluargamu.

"Memang kamu bisa memberi makan, memberi hiburan dan segala keindahan untuk anakku?" tanya orang tuamu.

"Bisa. Pak! Sangat bisa!" jawabku.

Tapi orang tuamu selalu pesimis dan menatapku tajam seraya menepuk pundakku.

"Aku tak percaya dengan kata-katamu!" balasnya.

"Kamu bisa apa?" Ungkap orang tuamu sesekali memperlihatkan segala yang dimiliki, segala hal yang dicapainya.

Diriku menjadi gelap seketika. O, adikku!

"Pencapaiku selama ini hanya bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Selebihnya tak ada lagi kecuali melawan nasib di tengah persaingan industri yang memperkejakan manusia seperti mesin."

O, aku bukan mesin yang siap dipekerjakan industri. Aku tetap manusia yang belajar memanusiakan manusia.

O, adikku!

Kamu tahu ngga, aku sakit hati jika cinta ini diperlakukan seperti mesin yang harus mengepulkan kekayaan.

O, adikku!

Kamu tahu tidak, jika cintaku juga harus dijadikan sebagai mesin yang harus memproduksi kebahagiaan untukmu.

"Adikku. Menurut orang tuamu. Kamu tak perlu diriku yang dengan tulus mencintaimu."

Menurut mereka, kamu butuh sandaran orang-orang dengan wajah sejernih embun, dengan rumah sebesar stadion sepak bola.

Orang-orang seperti mereka. Sosok yang bekerja keras bak mesin-mesin industri di era terkini.

Orang tuamu tak percaya dan nasibku yang benar-benar payah dan papa dan tak bisa dinyatakan layak untuk menyanggupi kehidupan masa depanmu.

Jika kamu masih terus menerus menungguku lagi, adik?

Aku tak bisa menjawab, berapa tahun lagi aku bisa sekaya orang tuamu dan cinta bisa dilabuhkan dengan tanda-tanda persetujuan hadirnya kekayaan.

O, sedih aku mendengarnya!

Baca tulisan sebelumnya biar belajar berdamai dengan orang lain klik! 

....... 

Ini bukan ceritaku. Hehehe
Biar menginspirasi kalian jika nanti menjadi orang tua.

 

  • view 127