Membaca Perlawanan Ditubuh sebuah Esai

Membaca Perlawanan Ditubuh sebuah Esai Membaca Perlawanan Ditubuh sebuah Esai

Dua hari yang lalu, aku punya janji dengan teman untuk menghabiskan waktu seharian membaca buku di perpustakaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Niatku adalah mencari buku-buku lawas dan tidak lagi dijual di toko buku.

Saat di ruangan Perpustakaan UGM, aku mencari dengan searching terlebih dahulu buku-buku yang tersedia. Saat itu, aku mencari buku, Podium Detik : Esei dan Perlawanan yang ditulis A.S Laksana.

A.S Laksana merupakan penulis yang karya-karyanya selalu kusukai dengan rasa suka paling akut.

Nah. Membaca karya AS Laksana di buku Podium Detik ini, aku seperti membaca iktiar seorang penulis untuk menyindir keadaan di sekitarnya dalam relasi pejabat publik-bawahannya.

AS Laksana dengan cara yang ringan, mudah dipahami mengisahkan kembali beberapa kisah para sufi, yang dijadikan panutan saat hidup di tengah kekuasaan yang begis dan cenderung hendak dipuji-puji.

Di buku itu, esei tersebut dikelompokkan menjadi 4 bab. Yaitu podium 1 hingga podium 4.

AS Laksana menulis judul-judul di esei-nya untuk menyindir relasi raja-abdi dengan gagasan kontemplatif mengutip kehidupan orang-orang terdahulu yang berhadapan dengan para penguasa.

Judul esei, seekor lalat dan raja, misalnya bisa dijadikan percontohan. Di esai ini dijelaskan tentang titah raja yang cenderung diktator dan menjadi kan abdi-abdinya sebagai budak yang harus menghamba kepada titah sang raja.

Nah, di tengah abdi yang cenderung menjadi budak itu, hadirlah seekor lalat yang dengan riang berlari-lari dan hinggap ke tubuh raja. Lalat itu pun ternyata menjadi pembeda. Lalat digambarkan sedikit nakal dan tanpa berpikir harus mencuci kaki dan mandi dengan parfum mewangi. Berhinggapan ke bagian-bagian tubuh raja.

Lalat digambarkan mahluk antikemapanan dan memilih hidup di ruang-ruang penuh kekotoran.

Namun, ternyata menghadapi lalat bukan perkara mudah. Ia susah diperintah. Untuk menghilangkan jejaknya, lalat harus digepak dan tubuhnya disingkirkan jauh-jauh.

Aku tersenyum-senyum membaca bagian-bagian esei yang kontennya ini berisi perwakilan suara-suara mahluk yang terkekang dan merindukan kebebasan.

Ciri Khas Tulisan AS. Laksana

A.S Laksana merupakan salah satu penulis Indonesia yang dikenal sangat khas tulisan-tulisannya esei-nya. Penulis yang belakangan rutin mengisi rubrik Ruang Putih Jawa Pos ini, sangat piawai mengajak orang berefleksi dan membuka pikirannya melihat realitas yang ada.

Gagasannya cenderung tak terbayangkan dan meledakkan imajinasi para pembacanya.

Tulisannya cenderung memiliki alur seperti pencerita yang memulai dengan kegelisahan, lalu menyajikan obrolan, suasana maupun pernyataan-pernyataan menarik yang dikutip hingga disajikan peristiwa yang bisa dijadikan bahan renungan.

Namun, di esei Podium Detik : Esei dan Perlawanan ini, AS Laksana cenderung menyajikan esai dalam bentuk kisah-kisah yang bahannya diambil dari kehidupan para sufi, cerita ramayana, hingga kisah-kisah raja di Nusantara.

Ya. Dia cenderung berkisah namun dalam kisah-kisahnya itu, seolah-olah dia hendak menegur hal-hal yang ada di sekitarnya, utamnya soal kebebasan yang dikekang, rakyat yang harus tunduk pada raja, dan para penentang yang cenderung bernasib sial dan hidupnya tragis di medan juang.

Membaca Esei ini, aku cenderung melihat potensi besar bagi esais untuk ikutserta menyuarakan gagasan dalam bentuk tulisan yang cenderung reflektif dan dikemas semenarik mungkin.

Hmm. Saat menyelesaikan buku itu seharian penuh. Aku juga belum paham. Kenapa kata "esai" ditulis "esei"?

Dari buku AS Laksana yang satu ini, aku kembali belajar bahwa menulis harus dilakukan dengan cara-cara kreatif.

Ya semacam upaya meleburkan hasrat mengikuti arus kepenulisan yang cenderung digunakan banyak orang dan mengikuti formula harus begini dan begitu.

Jika tidak begini dan begitu (baca : mengikuti aturan menulis yang ada), maka tulisan dinilai kurang berkualitas. Ahai!

Aku ingin menulis saja. Sebab, setiap penulis selalu hadir dengan para pembaca yang siap menikmatinya.

 

 

Fendi Chovi

Membaca Perlawanan Ditubuh sebuah Esai

Karya Fendi Chovi Kategori Buku dipublikasikan 08 Februari 2017
Ringkasan
Dalam Buku Podium Detik : Esei dan Perlawanan yang ditulis A.S Laksana ini cukup menarik dijadikan renungan.
Dilihat 21 Kali