Jogja dan Kenangan yang Menyertainya

Jogja dan Kenangan yang Menyertainya

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Februari 2017
Jogja dan Kenangan yang Menyertainya

Suatu hari aku berjumpa dengan gadis yang seluruh bibirnya adalah pelumas di kepalaku untuk melahirkan kata-kata unik dan melankolis.

Sayangnya, aku tak berjumpa lagi dengannya saat ini. Dia menghindar dariku. Aku juga menghindar darinya. Kita sepakat untuk saling menghindar seolah-olah kita hendak saling belajar melupakan pertemuan.

Saat mengenalnya, aku berpikir serasa dialah jodohku. Sambil melirik senyumnya, sambil menunggu canda tawanya. 

Dia mengajakku duduk menikmati keramaian.

Gadis yang bibirnya menjadi pelumas kata-kata di kepalaku ini ikut bersuara tentang Jogja menurut pandangannya dan menebar bisikan lembut di telingaku untuk ikut menerima pendapatnya.

"Jika engkau sudah lima bulan tinggal di Yogya maka lama-lama engkau semakin sulit untuk pulang kampung"

Jangan pulang kampung nanti ya. Di sini ada aku yang siap membaca karya-karyamu. Menetaplah disini. Bersamaku. 

O, tentu saja gadis manis.

Aku mendengarkan dia bersuara. Di depanku ada tiga bungkus nasi kucing dengan lauk sepotong tempe dan tahu asin kesukaanku.

Dia yang meneraktirku untuk menikmati Angkringan malam itu.

Kami duduk berhadap-hadapan dan seringkali melempar senyuman dengan rasa malu-malu di hadapan malam yang terasa semakin melankolis.

Aku merindukan gadis itu setelah berpisah sekian minggu. 

Sejak engkau menghilang belakangan ini. Aku diam-diam terus menerus merindukanmu dan hendak menyudahi perpisahan denganmu.

Hai gadis yang membuatku mengenal Jogja dan segala kenangan yang menyertainya.

Di mana engkau sekarang?
Di mana engkau sekarang?
Di mana engkau sekarang?

  • view 74