Kau dan Aku yang Berjalan Di Persimpangan Keraguan

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 04 Februari 2017
Kau dan Aku yang Berjalan Di Persimpangan Keraguan

Keraguan itu seperti angin badai

Merusak keindahan 
Melahirkan kegelisahan

Keraguan itu seperti degup harapan berbisik-bisik tapi senantiasa

Mencoba hendak berlepasan 

Sepotong pernyataan di atas kutulis untukmu, gadis yang membuatku disesaki keraguan.

Bagaimana harus kunikmati segala perjumpaan indah denganmu?

Kamu yang terlahir dari rahim kasih sayang bernama orang tua. Kamu yang tersenyum saat keluar dari pertapaanmu dan menatap dunia sambil menangis.

Kamu yang bertahun-tahun dipelihara bapak ibumu dengan segenap cinta dan kasih sayang.
Tiba-tiba dalam perputaran waktu harus menjumpaiku. Iya. Kamu ditakdirkan menjumpaiku.

Aku gugup mengatakan kamu terlahir untuk menemaniku. Aku gugup mengatakan kamu terlahir untuk melengkapi kehidupanku.

Begitulah maksudku. Agar kamu mengerti seadanya.

Kamu terlahir untuk mengajakku berperang melawan keraguan. Melawan segala jenis penyesalan di suatu hari saat kita memutuskan berpisah.

Aku yang terlantar dihinggapi deretan rasa ragu. Tiba-tiba seperti mendapatkan kesejukan saat membaca hadis Nabi Muhammad Swt seperti ini :

"Tinggalkan sesuatu yang meragukan menuju dan kerjakan yang tidak meragukanmu" (Hadis Nabi)

O, Tersebab kamu adalah kisah penyejuk kehidupanku

Kuanggap keraguanku sebagai ujian kesetiaan. Kuanggap keraguanku sebagai ajakan untuk berjuang.

Aku tak mengerti bagaimana harus memaknai segala pertemuan ini. Kamu yang terlahir dengan Bujuk rayu keluarga untuk pulang ke kampung halaman.

Kamu yang terlahir untuk menerima petuah bijak agar menambatkan hati ke orang-orang terdekat kampung halamanmu.

Kamu yang terlahir hanya untuk berbakti orang tua
Dan aku yang berdiri untuk mengajakmu bergandengan tangan tanpa harus saling melukai sanak kerabat yang jauh.

Aku terjebak ruang-ruang kebimbangan. Biarpun aku bimbang, aku takkan melepaskanmu berjuang sendirian.

Hai kamu yang namanya kutuliskan dengan penuh ketulusan.

Hai kamu yang seringkali kuceritakan kepada sang pencipta

Hai kamu yang seringkali menemaniku dan seolah-olah menyunggingkan senyuman termanismu

Maafkan aku yang terlalu sering dihinggapi rasa keraguan

O,

Diam-diam aku belajar menyudahi pagi hari dan malam hari untuk mendoakanmu

Seperti detak jam, seperti itulah detakan doaku untuk melepaskan ruang-ruang keraguan

Yogyakarta,  4 Februari 2017

Dilihat 68