Mengajak Haruki Murakami ke Warung Kopi

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 03 Februari 2017
Mengajak Haruki Murakami ke Warung Kopi

Haruki Murakami merupakan sosok penting yang menyebabkanku senang mengeksplorasi gagasan dengan cara berbeda.

Sejak pertama kali membaca novelnya, Dengarlah Nyanyian Angin, aku seperti menemukan angin menyejukkan bagaimana menjadikan hasrat menulis sebagai sesuatu yang menyenangkan sekaligus kesempatan mengeksplorasi gagasan melalui kata-kata yang tidak menjemukan.

Dalam menulis aku hanya percaya bahwa proses adalah penentu takdir  yang sebenarnya. Dalam menulis, yang harus kita takutkan bukanlah komentar-komentar orang lain menyangkut apa yang kita tulis, tetapi yang harus ditakutkan adalah kejenuan diri kita sendiri.

Menulis adalah proses untuk menemukan diri sendiri, gagasan orisinal dari diri kita serta gaya-gaya ala kita sendiri. Berikutnya, yang harus ditanamkan bulat-bulat adalah kesetian untuk membaca terus menerus.

Dengan kebiasaan itu, lama-lama kita akan mengerti tentang tulisan-tulisan menarik dan diam-diam itu akan menginspirasi melahirkan karya yang sama baiknya.

M. Musthafa, salah seorang ustad di pesantren tempat belajar dulu pernah menuturkan untuk menemukan gaya dan cara tutur kita dalam menulis yang sesuai dengan gaya kita, memiliki blog menjadi alternatif.

Dengan tulisan yang malang melintang di berbagai media-media mainstream,  dia tetap rajin menulis di blog dan mempublish karya-karyanya.

Nah, dengan memiliki media sosial semi-blog semisal inspirasi.co ini, semangat menciptakan perubahan di dalam berkarya seharusnya dijadikan semangat untuk memantik untuk menebar inspirasi.

Untuk itulah, aku merasa perlu mengenal Haruki Murakami.

Haruki Murakami adalah satu di antara beberapa penulis besar yang memiliki keunikan.

Margareta Astaman, dalam satu wawancara dengan Harian Kompas menyebutkan jika membaca karya Haruki Murakami meskipun disampul buku itu tidak ditulis nama pengarang. Maka pembaca akan langsung paham.

Yang tak Terbayangkan

Menulis selalu menarik jika kita secara konsisten membayangkan diri sebagai maestro. Mencari sesuatu yang jarang dibidik orang lain, baik isu yang diangkat maupun cara menuliskannya.

Menulis itu akan selalu menarik jika membiarkan diri melawan arus kebiasaan yang dilakukan orang lain. Ya meskipun awalnya kita mendapatkan komentar-komentar miring, komentar sadis.

Percayalah jika kita melakukannya dengan penuh kesadaran untuk melakukan perubahan dan meramaikan diskusi maka lama-lama karya kita itu akan mendapatkan tempat di hati pembaca. Tidak harus hari ini, mungkin kelak ketika proses kita semakin matang.

Jika kamu masih penulis pemula atau sudah di perjalanan berproses sepertiku, ada baiknya kita belajar membuat kebiasaan baru, diksusi baru untuk membicarakan karya-karya itu.

Nah, setiap perjumpaan di warung kopi dengan teman-teman. Aku selalu merasa mengajak obrolan seputar Haruki Murakami dan memberikan kesempatan kepada teman-teman untuk membaca karyanya. Jika perlu ada obrolan ringan dan menarik untuk sekadar bertukar pikiran tentang penulis tersebut. 

Dari Haruki Murakami itulah, aku selalu berpikir tentang sesuatu yang unik dan layak dibicarakan.

Sebagai penulis pemula, aku selalu mengingat nasehat senior sekaligus teman diskusi, seorang penyair bernama Timur Budi Raja. Nah, penyair inilah yang seringkali mewanti-wanti jangan membuat sekat. Menulislah karena merasa perlu harus menulis. Tulislah apa saja. Menulis itu akan menjadi apa saja. Motivasinya bisa bermacam-macam.

Hal yang selalu terdengar manis seperti ini nasehatnya, kukira yang kau butuhkan sekarang ini adalah diam, membaca dan terus menulis, supaya cepat 'sakti'. Tak perlulah menyimpul2kan dulu, sebab hidup terus bergerak, dan usia beserta pengalaman menulismu masih sangat muda. Diamlah. Membaca dan menulisla saja. Aku akan melihat perjalanan dan kesungguhanmu. Kelak, kita akan bicara lagi bila itu dianggap perlu.

Bagaimana dengan kalian? Aku pikir kita susah menginspirasi jika hanya terpaku kepada yang ada. Iyakan?

 

  • view 54