Seruan Montaigne terhadap Esais Muda

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 02 Februari 2017
Seruan Montaigne terhadap Esais Muda

Di Universitas Trunojoyo Madura, berapa tahun lalu, saat masih mahasiswa, saya didaulat menjadi moderator untuk mendampingi Ach. Nurcholis Madjid, salah satu peraih esai terpuji pada ajang lomba esai yang digelar Majalah Tempo, pada workshop tentang menulis esai.

Dari kegiatan itu, aku mulai mencerna belajar mengenal esai sebagai bentuk perayaan menyuarakan gagasan dengan cara paling menyenangkan.

Dari pemaparan Ach. Nurcholis Madjid, aku mengutip sekilas tentang pendefinisian esai. Menurut dia, esai adalah imaji di antara keterpurukan ide yang kaku, penabuh gendang di antara waktu yang sunyi.

"Esai berusaha menghindar dari kemujudan yang mengekang, ia tak memiliki definisi dan berada jauh dari alur konveksi," tegasnya.

Dalam makalahnya yang dibagikan kepada peserta, Nurcholish menulis jika asal katanya, esai berasal dari kata Perancis, essayer, yang bermakna "mencoba" atau "menantang".

Dia juga menekankan, jika esai merupakan produk karya yang bersudut pandang personal subjektif si penulis, bukan paper ilmiah dengan catatan kaki dan taburan kutipan teori.

Secara gamblang, dia menyebutkan jika esai berisi pemikiran yang dipadu dengan pengalaman, observasi lapangan, anekdot, dan pergulatan batin si penulis tentang subjek yang ditulisnya.

Menulis esai tentu saja tidak bisa dilepaskan dari sosok Michel de Montaigne (1533-1592), salah satu esais dari Perancis dan dijadikan kiblat para esais terkenal di dunia.

Apa yang diserukan Montaigne?

Seruan Montaigne, yaitu mengajak siapapun menulis dengan nada skeptis.

Mointagne sendiri mempertanyakan teori, konsep dan juga memapanan. Sebab, menurut pandangannya, manusia, senatiasa tidak selalu bisa menjadi perwakilan kebenaran sejati.

Untuk itu, esai berfungsi menantang pemikiran, konsep dan juga tatanan yang ada.

Apa yang disampaikan Nurcholis dengan mengutip pandangan Mointagne di atas memang layak direnungkan?

Dari Montaigne, seharusnya para esais muda belajar menulis sesuatu paling dekat dengan kehidupan kita. Dari Montaigne juga, para esais itu harus belajar menantang dalam tulisan-tulisannya, sesuatu yang kaku, sesuatu yang mapan.

Terakhir, boleh dikatakan jika esai bukan soal memberikan jawaban tentang hal-hal benar dan salah dalam sebuah tulisan. Tetapi, memberikan kontemplasi memikirkan kehidupan manusia di bumi ini, tempat kita berpijak saat ini. 

Bagaimana menurut kalian?

Baca juga tulisan sebelumnya, cukup klik! 

 

  • view 148