Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 1 Februari 2017   00:33 WIB
Menjenguk Setan yang Kesepian

Hai setan! Di mana dirimu?

Apakah kamu lagi cemas setelah menyaksikan bangsaku, ternyata bisa lebih kejam darimu. Apakah kamu malah tersenyum tapi menjadi gagal mempertahankan statusmu sebagai jagoan terjahat.

Di mana dirimu sekarang?

Aku tak lagi melihatmu. Aku tak lagi menemukanmu di aliran darahku. Kemarin aku masih bersamamu. Sayangnya, setelah semalam aku bersujud syukur diam-diam kamu menyingkir dari hadapanku.

Apakah aku mahluk yang ditakuti?

Aku rindu bisikanmu. Aku rindu tawamu ketika menyaksikan bangsa-ku saling hujat. Saling melempar berita Hoax. Saling meracuni pemikiran generasi muda dengan ramuan energi kejahatan.

Sebab menerima bisikanmu itulah, aku menjadi belajar memfungsikan diriku yang dikaruniai akal pikiran untuk melawan kutukan nafsu yang diam-diam terus kau bisiki dengan cerita-cerita gombal.

Hai setan ... Di mana dirimu sekarang!

Apakah dirimu mencari strategi baru untuk membuat bangsa-ku militan dalam mendukung ide-idemu?

Ah, kamu sering bercanda kepadaku, setan!

Dulu kamu bilang jika pacarku adalah yang tercantik. Setelah aku berjumpa dengan gadis-gadis cantik lainnya. Ternyata pacarku masih nomor ke 25. Eh, mirip daftar para utusan yang harus diketahui umat Manusia.

Aku paham. Ternyata penentuanku saat itu karena campur tanganmu.

Dalam selera-seleraku. Dalam imajinasi-imajinasiku. Dalam khayalan-khayalan gelapku. Juga dalam kesepian-kesepianku. Dalam kekonyolan-kekonyolanku.

Diam-diam aku menyesal pada apa-apa yang kulakukan atas bisikan-bisikanmu.

Kini setelah aku sadar dan menyadari kelebihanku. Aku ingin mengajakmu berdiskusi tentan kejahatan. Aku ingin berdiskusi tentang kejahatan untuk membandingkan kehidupan yang indah dan yang jahat.

O, Berdiskusi denganmu tentu sangatlah indah!

Namamu disebutkan 88 kali di dalam kitab suci Al-Quran yang kami imani sebagai kitab petunjuk menuju jalan yang benar.

Jika kamu tak hebat dan memiliki akar sejarah yang lama. Pasti namamu tak diabadikan.

Hai setan ...  Dimana kamu sekarang?

Jangan-jangan kamu sudah duduk manis di dekat jemariku. Dan diam-diam memintaku menuliskan bahwa namamu dicatat di kitab suciku.

Ahai!

Begitu ya caramu agar tak kesepian. Kamu suka minta namamu diabadikan di mana-mana sebagai penggoda dan pahlawan. Padahal, nyatanya kamu tercipta sebagai musuh utama bangsaku, manusia. 

                 Yogyakarta,  31 Januari 2017.  

 

Karya : Fendi Chovi