Dzikir dan Wirid, sebuah Hasrat Memenangkan Hidup

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Agama
dipublikasikan 31 Januari 2017
Dzikir dan Wirid, sebuah Hasrat Memenangkan Hidup

Suatu hari saat duduk-duduk mengerjakan tugas aku pernah ditanya pemilik kos, "Kamu tahu  apa bedanya dzikir dan wirid, nggak?" ujarnya.

Aku jelaskan apa yang kuketahui dengan sederhana. Ternyata, penjelasanku kurang lengkap dan terlalu simple. 

Lalu, dia menjelaskan pengertian dua kata itu, menurut versi yang diketahuinya. Menurutnya, dzikir itu tindakan mengingat yang fokus kepada Allah Swt.

Sedangkan wirid itu tindakan mengingat yang lebih universal tak hanya kepada Allah Swt tetapi juga kebutuhan-kebutuhan lain. Misalnya, jika orang memimpikan hidup kaya, menghidupi istri, melakukan amal untuk kebaikan, berkarya, itu wirid.

Dengan tegas, dia menyebutkan jika dua-duanya penting dilakukan untuk meraih status sebagai hamba Allah Swt dan meraih kesuksesan sebagi hamba-Nya.

Wirid. Aku tidak asing dengan kata wirid sih. Hanya belum begitu paham secara tekstual atau secara pendefinisian.

Saat kutanya lagi ke orang-orang dan aku searching di Google, aku bertemu sebuah penjelasan di FB dengan akun Rumah Belajarku dengan pemaknaan seperti ini :

Wirid itu berasal dari bahasa Melayu dan dinyatakan sebagai tatacara pembacaan kalimat-kalimat Allah yang dilakukan berulang-ulang dengan maksud dan tujuan tertentu (baca: hajat) dan dijadikan ritual yang dibaca pada waktu-waktu tertentu.

Tetap pada artikel itu, perbedaanya jika dzikir adalah mengingat Allah setiap waktu. Sedangkan wirid pada waktu-waktu tertentu.

Apa yang Bisa Didapatkan dengan Dua Hal Itu? 

Tentu ini menarik. Sebab guru-guruku juga sering mengatakan jangan lupa wirid-nya untuk mewujudkan hajat agar diijabah ma Gusti Allah.

Dalam praktiknya, wirid dilakukan dengan membaca doa-doa tertentu, dengan jumlah dan doa-doa tertentu sebagai ritual khusus.

Nah. Dalam tulisan ini, aku ingin menekankan bahwa kekuatan dzikir dan wirid sebagai ritual dan bagian menguatkan spiritual seseorang sangat penting dikerjakan.

Memenangkan hidup untuk hidup kaya raya, berpengaruh, disegani, dan dijadikan tokoh di dalam kehidupan ini tidak semata-mata diraih dengan berusaha mati-matian. Namun, di balik itu meskipun secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan, ada praktik bernama ritual dengan doa-doa tertentu.

Itulah wiridnya orang-orang untuk meraih kesuksesan.

Saat meneliti Gaya Hidup Cultural Capital Pierre Bourdie pada Dukun Japa di Sumenep, Madura, aku menjumpai satu dua narasumber (nama dirahasiakan, red) untuk misi ketenangan, memperlancar rejeki, meraih status sosial, menggunakan ritual-ritual doa-doa itu.

Tak bisa kubayangkan dengan akal sehat betapa mereka mampu membaca doa-doa tertentu dengan jumlah yang cukup banyak sekali. Mencapai ratusan dan ribuan doa-doa.

Nah. Apakah kalian masih ragu? Ternyata untuk memenangkan hasrat-hasrat hidup keduniawian. Tak bisa dilepaskan dengan hadirnya dzikir dan wirid.

Di era serba maju seperti ini. Dua elemen ini tetap dibutuhkan.

Anda boleh tak percaya?

Tapi, itu seringkali terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca tulisan sebelumnya klik! 

  • view 107