Proyeksi Menulis Buku

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Januari 2017
Proyeksi Menulis Buku

Menulis buku adalah impian terbesar seorang yang ingin dikenal sebagai penulis.

Menulis buku bisa menjadi tangga kesuksesan untuk menemukan siapa diri mereka di kemudian hari.

Semenjak memutuskan menyukai kegiatan menulis. Menulis buku adalah cita-cita terbesarku. 

Hal yang terbayang dibenakku bukan semata-mata keterkenalan atau apapun dibalik motif-motif itu.

Namun, hal yang terbayang adalah kebanggaan diri. Sungguh bukan hal mudah menulis buku apalagi dengan penemuan ide orisinal bukan sekadar kutip mengutip pendapat orang lain.

Sebagai anak yang menyukai creative writing, aku membayangkan memiliki buku yang lebih serius. Buku yang mencerminkan bagaimana diri ini bersuara lewat tulisan.

Sungguh sangat menyenangkan kedengarannya ketika mampu menghasilkan buku yang berisi gagasan sendiri dan menginspirasi orang lain.

Dalam Menulis Buku, Kau Mau apa?

Entahlah, aku tiba-tiba ingat saat memiliki teman ngobrol yang kujadikan seniorku di kampus dulu. Kita anak muda yang sama-sama memiliki ketertarikan yang sama pada buku dan menulis.

Setiap waktu, kita membahas seputar dunia kepenulisan. Setiap waktu kita berusaha berdiskusi tentang ide-ide dari buku-buku yang sedang kita baca dengan intensif.

Nah, berbekal hobi yang sama itulah. Kita diam-diam memimpikan cara terbaik mempunyai buku.

Aku dan dia sama-sama menulis buku. Dicetak indie. Ya setidaknya memiliki buku dulu. Karena dicetak indie.

Jadinya, buku itu tak menjangkau banyak pihak. Aku cukup bangga dengan apa yang aku kerjakan saat itu.

Sayangnya, ternyata tulisan yang kubuat beberapa tahun silam itu ternyata tak benar-benar sebaik yang kuinginkan.

Aku diam-diam ingin melupakan buku itu meskipun itu buku pertama yang terbilang nekat. Dicetak tidak sampai 50 examplar. Hahaha ...

Ketika bertemu kakak tingkat itu kembali. Aku masih bertanya, apakah masih bersemangat menulis buku?
Dia hanya menjawab, hahahah ...

Sebab, dia mulai ilfil. Ratusan bahkan ribuan buku dicetak setiap saat di negeri ini. Jika kita menulis buku dan dihitung dengan keuntungan materi. Apa yang bisa didapatkan? Terlebih jika buku itu tidak laris dan tidak terjual banyak di pasaran.

Menurutku itu refleksi yang bagus sih. Tapi jika menulis buku adalah soal untung rugi.

Aku mungkin sudah berhenti menulis sejak dulu. Ya sejak mengetahui ternyata menulis selalu diklaim ladang kesepian untuk banyak orang.

Hari ini aku sedang menyusun resolusi baru lagi, yaitu menulis buku dan menjadikannya sebagai karya untuk menunjukkan bahwa selama berbulan-bulan menekuni dunia menulis lebih serius.

Aku berkesempatan menerbitkan buku.

Buku tentu sebuah cara paling tepat. Memberikan identitas terhadap diri kita ini, setidaknya pertanyaan ini bisa menjadi penegasnya.

"Apakah kita bersetia menjadi penulis yang konsisten menemui pembaca dan memberikan ide-ide besar yang ada di kepala kita?

"Jika Iya, maka bersyukurlah."

Menulis adalah soal memanjakan pembaca. Ini proyeksiku. Menulis buku dan menjadikan diri dekat dengan pembaca.

Menginspirasi mereka untuk ikutserta menggerakkan peradaban dunia.

Semoga, ya!

  • view 71