Menyaksikan Aksi Barbarian Perusakan Di Kos

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Januari 2017
Menyaksikan Aksi Barbarian Perusakan Di Kos

Percayakah, jika kita seringkali begitu dekat dengan aksi-aksi barbarian di sekitar kita setiap saat ...

Kekerasan terjadi di mana saja. Di rumah, di jalanan, di gedung-gedung mewah, apalagi di jalanan sepi.

Suatu hari aku pun menyaksikan secara langsung tindakan barbarian di kos. Sebenarnya ini persoalan keluarga antara si pemilik kos dengan anaknya sendiri.

Tulisan ini hanya ingin menceritakan satu momen saat aku menyaksikan tindakan kekerasan di tempat yang kutempati saat itu.

Saat itu di kota Yogya sedang musim hujan. Gara-gara hujan itu, aku memutuskan mengerjakan tugas dari tempatku bekerja, di komunitasku sendiri dari kamar. Yaitu menyusun booklet.

Lama aku berdiam diri di kamar mengerjakan tugas-tugas itu, hingga tanpa sengaja seiring hujan yang terus menerus turun. Aku terlelap dan tidur hingga menjelang waktu ashar.

Saat terbangun, kepalaku menjadi pening. Suasana hujan di luar semakin menambah rasa pening itu.

Aku pun memutuskan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu' sekalian menunggu waktu sholat.

Sebelum tiba di kamar mandi di ruang belakang kosku itu. Tiba-tiba aku mendengar seperti ada pecahan kaca berhamburan ke tanah. Aku pikir pasti ini ada sesuatu yang tidak beres. 

Aku mencoba mendekati asal suara pecahan kaca yang menurutku berasal dari ruangan bapak kos.

Kuintip dari jendela Mushalla.

"Astaga!" kataku dalam hati.

Di depanku tiba-tiba seorang lelaki kurus, membawa linggis memecahkan kaca-kaca. Mendobrak pintu.

Pikiran dan suasana hatiku ini sontak menjadi tak karuan. Teror di depanku benar-benar nyata.

"Ada apa ini," tanyaku di dalam hati.

Aku mencoba keluar dari Mushalla.

Lalu lelaku kurus itu memukul kaca jendela tempat kami biasa menaruh piring dan gelas untuk aktivitas makan.

Kaca-kaca itu pun berjatuhan ke lantai dekat kamar mandi.

Saat itu tiba-tiba aku seperti kedatangan teror luar biasa. Tiba-tiba ada niat mau bertanya kepada lelaki kurus itu akan aksi barbariannya.

Tapi, kuurangku soalnya aku khawatir dia nanti malah menjadikanku objek bidikan amukannya.

Dia menatapku sekilas setelah memecah kaca di dapur.

Aku buru-buru ke kamar mandi. Mencuci muka agar pikiranku terlihat tenang. Lalu kuketuk pintu-pintu penghuni di kos, mungkin saja mereka bisa membantuku untuk mencegat aksi barbarian itu. Tak ada orang orang sama sekali. Semua pada di luar. Kerja.

Aku pun menuju ke pintu depan kosku. Tiba-tiba lelaki kurus itu muncul lagi. Dia lewat di depanku sambil mengeluarkan kata, "Maaf, ya Mas."

Lalu menggebuk kaca-kaca mobil milik bapak kos dengan linggis seperti menggebuk kasur yang sedang dijemur.

Aku semakin bingung. Lalu muncul Dhani, temanku dari Papua yang satu kos sekaligus memberikan penjelasan jika aksi barbarian itu dilakukan anak lelaki bapak kos kami.

"O, itu keluarga pemilik kos!" kataku.

"Masalah keluarga, Bro! Ujar Dhani.

Aku tak bisa menjelaskan dalam tulisan singkat ini. Motif dari aksi barbarian itu.

Aku hanya perlu menceritakan jika aksi barbarian ini sangat merugikan. Saat bapak kos tiba di tempat dan menanyakan aksi yang dilakukan anaknya itu.

Anaknya itu hampir menendang si bapak. Namun, aksi itu dicegat oleh warga yang kebetulan mulai berkumpul sejak aksi perusakan mobil di halaman depan kos kami.

Lalu, dia pun pergi sambil mengejutkan kami, para penghuni dan tetangga yang ada di lokasi.

"Maaf. Maaf. Maaf, ya!" katanya.

Lalu pergi dengan sepeda motor yang diparkir di halaman belakang kos.

Saat suasana agak tenang. Mulailah kami membersihkan kaca-kaca yang berantakan di kamar-kamar bapak kos kami bersama-sama.

Semua kaca jendela, TV, mesin cuci, perabot, hancur berantakan gara-gara ulahnya.

Aku menyaksikan sendiri di kamar pemilik kos tempat kami itu. Kaca hampir beterbangan ke mana-mana. Seisi rumahnya hancur.

Berantakan tidak elok dipandang.

Dengan teman-teman kami membicarakan jika kerusakan itu ditaksir menelan kerugian di atas 30 jutaan.

Pernahkah kalian berpikir jika aksi barbarian itu terjadi di rumah kalian.

Itulah kenapa aku menjadi sadar jika tindakan kekerasan itu tidak baik dilakukan. Apalagi, di ruang publik. Iya, kan?

Mari jaga sikap kita sebaik mungkin. Tahan amarah. Tahan segala tindakan sesaat yang merugikan.

 

 

  • view 63