Mengusir Mahluk Halus di Sebatang Pohon

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Januari 2017
Mengusir Mahluk Halus di Sebatang Pohon

Dari peristiwa ini, aku belajar tentang cara berpikir masyarakat terhadap alam dan menginspirasiku mengenal lebih jauh lagi.

Suatu hari saat masih di kampung di Pinggiran Sumenep, Madura, ayahku memperoleh sebatang pohon berwarna kecoklatan dan kelihatan sangat unik tumbuh di batang pohon Siwalan. Lalu, pohon itu diambil dan diserahkan padaku agar ditanam.

Pohon itu benar-benar unik. Batangnya kecoklatan dan sedikit berbulu. Saat kupegang batangnya masih sebesar sebesar jari-jari manis tanganku.

"Tanamlah pohon itu dipojokan halaman rumah, ya. Bulu-bulu halus dibatangnya sangat menarik," ! Pinta ayahku.

"Oke," ujarku sambil memegang pohon ajaib dengan batang kecoklatan dan daun hijau tua itu.

Aku menanamnya di depan rumah. Tepatnya di halaman sudut bagian timur pekarangan rumah.

Setiap hari aku siram pohon berwarna kecoklatan dan sedikit berbulu itu.

Di batang pohon yang tingginya satu meter itu. Semakin hari akar, batang dan daun-daunnya semakin elok dipandangi.

Aku berpikir ini pasti menarik jika semakin hari dan besar nanti. Di batangnya mengeluarkan getah berwarna putih mirip susu jika digores dan bagian-bagiannya ditumbuhi seperti temali yang menjalar kebawah. Mirip pohon beringin. Aku ngga yakin itu pohon beringin.

Hampir berbulan-bulan aku merawat pohon kecil itu. Ketika pohon itu sudah tumbuh dua kali lipat tingginya melebihi ketinggian diriku saat itu, aku semakin senang menarik-narik bulu-bulu di batang pohon itu.

Banyak nama yang diberikan orang-orang sekitar ketika melihat pohon dengan batang kecoklatan tersebut. Sayangnya. Nasib pohon tersebut tak lama. 

Suatu waktu, ayahku kecelakaan jatuh dari sepeda motor saat hendak ke Pasar Candi.

Gara-gara jatuh dari sepeda motor itulah, ayahku mengalami kesusahan menggerakan tangan dan tubuhnya selama berhari-hari.

Ayahku tidak bisa bergerak sama sekali. Tangannya terasa tidak bisa digerakkan.

Sejumlah dokter di puskesmas diundang untuk memberikan pengobatan dan resep agar kesehatannya kembali pulih. Tak ada tanda-tanda kesembuhan.

Yang menyedihkan. Orang-orang berspekulasi. Jika kejatuhan ayahku disebabkan diganggu penunggu pohon berwarna kecoklatan yang sudah berbulan-bulan aku tanam di depan pekarangan rumah.

"Pohon itu tempatnya mahluk halus. Kenapa dipelihara di depan rumah sih. Namanya saja ngga ada yang tahu. Sebagian orang hanya menyebutnya mirip pohon beringin. Tapi diperhatikan lagi tidak ada tanda-tanda itu pohon beringin," kata mereka berbincang di Langghar.

"Segera usir mahluk halus itu. Jangan dipelihara di depan rumah. Sangat berbahaya," kata mereka sekaligus merencanakan untuk mengeksekusi penebangan pohon tersebut. 

Saat itu teknologi informasi belum dikenal di kampung. Tidak ada kesempatan untukku memotret pohon yang kurawat tersebut. Aku hanya bisa memandang pohon yang semakin hari batangnya hampir sebesar pergelangan tangan yang dulunya hanya sebesar jari manis. 

Saat itu, aku masih usia anak kelas empat di salah satu sekolah dasar negeri. Banyak orang semakin sering mempersoalkan pohon yang aku tanam tersebut. "Bagaimana jika pohon itu dileyapkan saja," kata mereka.

Aku hanya mendengar mereka keberatan dengan pohon tersebut. Saat hendak meleyapkan pohon itu. Mereka tidak meminta ijin kepadaku. Mereka hanya bisik-bisik. Meminta persetujuan antar sanak kerabat. Sebab, mereka percaya jika pohon itu memiliki penjaga, yaitu mahluk halus.

Di kelas empat SDN saat itu, aku sudah diajari paham animisme dinamisme, yaitu masyarakat yang percaya jika pohon dan batu-batu itu ada penunggunya.

Namun, aku tidak mengerti. Apakah hal serupa benar-benar ada di pohon yang aku tanam dengan penuh rasa cinta itu?

Selama seminggu, ayahku tetap tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia hanya terlentang. Para tamu berdatangan. Bercerita ini dan itu. Dokter ini dan dokter itu. Obat ini dan obat itu. Dukun ini dan dukun itu. Semua diundang. Aku ngga tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk obat sakitnya orang tua tersebut.

Tapi yang benar-benar brengsek adalah orang-orang yang percaya jika pohon itulah penyebabnya. Penunggunya membawa petaka dan harus disikirkan jauh-jauh.

Seketika tiga sanak kerabat jauhku yang datang ke rumah, membawa parang dan busri, membawa cangkul dan senjata tajam lainnya. Benar-benar memotong pohon tersebut dengan akar-akarnya.

Aku hanya pasrah sebagai anak kecil melihat ulah para tetua di keluargaku menjadikan pohon sebagai biang kerok persoalan. Apalagi, pohon itu ditanam olehku sendiri.

Sejak kejatuhan orang dari sepeda motor dan berbulan-bulan dirawat hingga harus menyewa kamar di salah satu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di daerah Pamekasan, selama satu minggu.

Berbagai aksi-aksi berbau mistis bermunculan di rumah. Sampai-sampai ada anggapan jika ayahku menabrak mahluk halus yang sedang merayakan perkawinan.

Mulai dari selamatan, mengaji, yang menurut kepercayaan orang-orang sebagai upaya menolak malapetaka.

Aku tidak paham. Dari paranormal yang manakah, orang-orang itu mendapatkan kabar jika peristiwa kecelakaan yang menimpa orang tuaku berasal dari pohon kecil itu. Lalu, kira-kira jenis mahluk halus seperti apakah sih yang mengganggu.

"Bukankah mahluk halus itu harus berterima kasih, sudah kutanamkan pohon di pekarangan rumah, kenapa harus mengganggu keluargaku. Ngga masuk akal?" kataku.

"Ini pasti kerjaan sanak kerabat yang ndeso dan pengetahuannya sangat minim." Sesalku denga kenyataan itu.
Ingatan itu masih teringat hingga saat ini.

Benarkah pohon itukah penyebab kecelakaan orang tuaku?

Jika demikian. Apakah jika ditebang malah semakin mengganggu keluarga nanti? Ahh, akku gagal paham sendiri.

  • view 134

  • Regina Pamungkas
    Regina Pamungkas
    9 bulan yang lalu.
    Kalau memang ada penghuninya, ya biarkan saja, kita hidup memang berdampingan.
    Masalah sakit Ayah, jika medis tidak bisa disembuhkan, mungkin bisa dimulai dari introspeksi diri Ayah tsb, semoga cepat sembuh yaa