Seratus Tahun Perdamaian yang Menyesakkan

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Januari 2017
Seratus Tahun Perdamaian yang Menyesakkan

Antonio Guterres, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa saat menyampaikan pidato pertamanya, sebagai pengganti Ban Ki Moon, lalu mengajak masyarakat dunia dengan perkataan begini :

"Memasuki tahun baru 2017 ini, saya mengajak Anda semua untuk bergabung dengan saya dalam membuat resolusi bersama. Jadikan tahun ini sebagai tahun perdamaian. Kita letakkan perdamaian di atas segala-galanya,"

Aku tersenyum. Sudah selayaknya bangsa-bangsa di dunia menjadikan setiap awal tahun sebagai resolusi perdamaian. Jika mereka percaya bahwa damai adalah cara terbaik untuk merasakan dunia sebagai rumah untuk semua pihak.

Hingga seratus tahun nanti, kita tetap merindukan perdamaian. Kita atau anak-anak kita kelak sejatinya merindukan perdamaian. Entah, aku tidak mengetahui perdamaian seperti apakah nanti wujudnya.

Hidup bersenang-senang. Berbicara di depan publik tanpa harus ada intervensi. Atau tidak ada pihak-pihak yang mengusik mereka utamanya dalam praktik menjalankan ibadah maupun menjalankan bisnis.

Jika kembali ke masa lalu, perang sudah meletus berkali-kali dan menyebabkan ribuan juta manusia menjadi korbannya. Lalu, kita hadir ke dunia sebagai generasi baru, perang hadir kembali dan lagi-lagi manusia-manusia lain yang menjadi korbannya. 

Mari berpikir dan bertanya kembali. 

Apakah perdamaian adalah tiadanya perang? Apakah perdamaian tiadanya intervensi-intervensi sekelompok orang atas kehidupan kita. Apakah perdamaian adalah upaya agar manusia menjadi sesantun-santunnya manusia, hidup tanpa menyakiti orang lain?

Entah.

Pada titik ini. Aku hanya ingin berbicara damai dengan diri sendiri. Aku ingin berdamai dengan diri sendiri. Damai yang sebenar-sebenarnya perdamaian. Ketika kita mampu berdamai dengan diri sendiri.

Selama ini, percuma kita berbicara perdamaian. Tetapi diri kita sendiri belum damai. Belum menjadi tenang. Ini hanya bom waktu yang suatu saat meledak dan menyebabkan apa yang kita gembor-gemborkan sebagai penyesalan.

Antonio Guterres mungkin begitu bijak mengajak kita berdamai. Kontek berdamai yang dipesankan petinggi PBB itu berskala global. Setiap pemilik kebijakan publik di seluruh adalah mereka yang seharusnya diajarkan untuk menerapkan perdamaian. Sebab dari kebijakan-kebijakan itu, berbagai persoalan dihadirkan di masyarakat.

Masyarakat itulah yang menjadi korban. Menjadi tidak damai. Menjadi tidak harmonis. Merasa tersingkirkan. Dan pada saat tertentu di waktu yang mereka layak sebagai momen perseturuan. Muncullah mereka melakukan tindakan kekerasan.

Mari. Kita sebarkan pesan Antonio Guteres. Tak sekadar untuk para pemegang kebijakan publik. Para pemuka agama, musisi, penulis maupun diri kita sendiri sebagai bagian dari masyarakat.

Mari kita memulainya dari sekarang. Jika tidak dimulai dari sekarang, maka pada seratus tahun kemudian perdamaian itu hanya ilusi. Tentu saja. Harapan perdamaian seperti itu tetap menyesakkan dada.

 

  • view 53