RSB : Rumahnya Anak Muda Mengembalikan Kenangan

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2017
RSB : Rumahnya Anak Muda Mengembalikan Kenangan

Pada suatu hari, Ra Edu Badrus Shaleh yang kini menjelma menjadi Raedu Basha, seorang penulis muda berbakat yang mulai dikenal dipublik berkomentar :

"Komunitas Rumah Sastra Bersama (RSB) awalnya dibuat sebagai rumah untuk anak-anak muda berkumpul menjadi prajurit yang bisa tembus publikasi di media massa sekaligus memenangi lomba."

Komentar itu beralasan. Sebab kenyataannya beberapa anak-anak RSB benar-benar menjadi prajurit tangguh yang karya-karya mereka dimuat di media-media bergengsi sekaligus menjadi pemenang berbagai sayembara cipta puisi yang lahir di An-Nuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. 

Tentu saja Mpuh yang tetap dihormati adalah Raedu Basha dan A'yat G Khalili, dan Soemarda Paranggana, yang sekarang menjelma menjadi Mazdon, O!

Bagi saya sendiri. RSB bukan sekadar tempat belajar. Tapi juga tempat berkumpul dan berproses menjadi penulis. Tempat mengisi hari-hari dengan mendedahkan keasyikan berkarya.

Karena hidup adalah perjalanan dalam rentetan kesibukan dan setiap manusia ditakdirkan untuk menjalani nasibnya sendiri-sendiri. Semua anak-anak RSB tidak lagi kembali ke rumahnya. Hanya sebagian yang kembali. Sisanya pergi meninggalkan kenangan.

Pada saat-saat seperti itu, saya membayangkan jika RSB adalah rumah anak muda mengembalikan kenangan.

Nah. Sebagai rumah mengembalikan kenangan. Sepantasnya semangat mengembalikan itu diwujudkan dalam semangat berkarya.

Dunia boleh saja bising dengan berita Hoax. Pemerintah boleh saja pening dengan sekumpulan munculnya hate speech dan para pengkritiknya.

Itu hanya gejala kehidupan sosial di arus kebebasan berexpresi dan menumpahkan kemarahan di dunia nyata. Tentu yang salah adalah mengutip Raedu Basha.

"Indonesia mau perang kayak sekarang bukan salah pemerintah atau FPI, tapi salahnya anak-anak RSB yang tidak sanggup bersetia dengan kreativitas."

Sudah saatnya anak-anak Rumah Sastra Bersama (RSB) kembali menyatakan perang dalam bentuk tulisan dengan kreativitas. Mengikat hasrat untuk berkarya.

Siapapun yang memulai kebersamaan dengan berkarya (baca : menulis). Maka, sudah semestinya mereka mengembalikan kenangan untuk berkarya lagi. 

Setiap dari kita harus mengembalikan semangat dan kreativitas. Tentu saja kreativitas itulah penentu dari kembalinya para penulis muda tersebut untuk meramaikan belantika dunia kepenulisan.

Syukurlah. Mereka sudah kembali. Membuka Facebook. Menulis celotehan. Menulis candaan. Dan saling menyapa. Sisanya, saling mengingat kenangan.

Setidaknya mereka kembali untuk menulis di media sosial. Entah sampai kapan menghiasi media massa dan menang sayembara menulis.

Sehingga, mereka yang awalnya seorang prajurit kemudian bisa muncul menjadi naik pangkat  panglima yang terus menerus konsisten tembus publikasi media massa dan menjadi pemenang lomba kepenulisan.

Ya, tunggu saja! Entah sampai kapan?

Baca blog clik dan temukan tentang RSB! 

 

  • view 94