Mengutuk Teori, Biarkan Rasa Menemui Nasibnya

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 27 Januari 2017
Mengutuk Teori, Biarkan Rasa Menemui Nasibnya

Di awal tahun 2017, aku terilhami banyak momen yang hilir mudik mengganggu akal sehatku dan mengecewakan perasaanku. 

Pada saat-saat seperti itu, aku ingin membagikannya. Ini soal dentuman rasa. Ini soal alur pemikiran, yang tak selalu mengalir bagai abjad dari A hingga Z.

Namun, sebelum menulis. Aku kadang dihinggapi sehimpun rasa cemas. Aku pernah membayangkan bagaimana jika tulisan itu ternyata hanya sekadar ketikan. Bukan jejak pemikiran jenius dengan struktur kalimat tertata rapi mirip akademisi menunjukkan hasil risetnya.

Itu diam-diam menggangguku. Rasa cemas yang mirip hutan angker dan aku enggan memasukinya. Aku enggan untuk menjadikan hutan itu sebagai lahan petualangan.

Beruntungnya, sebelum berhenti dan mengakhiri hobi menulis. Diam-diam aku dihinggapi hasrat mengabadikan. Sebuah dentuman hasrat menjalari diri ini kuat-kuat. Lalu meleburkanku dalam hasrat menulis berbau puitik-melankolis.

Atas kebaikan seorang gadis bernama Laelatul Badriyah, meminjamkan sepotong kumcer berjudul, Reruntuhan Musim Dingin karya penulis dengan kekayaan imajinasi bernama Sungging Raga.

Buku itu seperti surga. Aku berdiam diri di antara baris demi baris suatu cerita yang ditulis lelaki kelahiran Situbondo, Jawa Timur.

Aku berdiam diri di relung-relung kata. Di saat dunia begitu kejam. Menelantarkan banyak orang. Jutaan manusia hilir mudik membicarakan nasib, keletihan, kesia-siaan.

Aku duduk manis membaca kata dan dentuman rasa. Aku melepaskan beban moral. Beban sosial. Aku hidup menyendiri berteduh dengan hamparan kata.

Ya, rasa belajar melepaskan teori dan inilah saatnya menulis untuk menyampaikan rasa.

Rasa itulah yang mengalirkan percikan pemikiran. Rasa itulah yang menumbuhkan rimbunnya rasa kerinduan. Diam-diam aku mulai menulis lagi. Berpijak pada awal tahun 2017 untuk mengalirkan jutaan pemikiran di otak kepalaku ini.

Tulisan ini hanya bahan refleksi, jika menulis sebenarnya harus dimulai dari rasa. Terlalu dijejali teori. Lama-lama kita terkekang. Lama-lama kita terjebak pada keputusan bahwa menulis harus begini dan begitu. Jika dibiarkan terus menerus seperti itu, mengutip M. Faizi, guru saat di pesantren itu sangat mengganggu kinerja kreativitas.

Setiap dari kita memiliki keunikan. Setiap dari kita memili rasa sebagai hasrat awal mula tempat berteduhnya ide-ide besar. Maka, biar menyelamatkan rasa itulah. Menulislah, sampaikan apa yang bergejolak di dada.

Tak perlu khawatir. Bagaimana suara-suara bising diluar menyoroti bagaimana menulis itu? Biarkan saja apa yang ada dikepala. Kita tuliskan. Kita bagikan kepada publik. Jika nanti hasrat dari rasa kita menulis semakin membaik. Ada saatnya kita membaca lebih serius.

Kata Sungging Raga, "Kalo setiap penulis sadar untuk terus meningkatkan kualitas karyanya dengan memperbanyak kuantitas plus kualitas bacaan, tidak merasa sudah "bisa menulis" dan "tinggal mencari kenalan", tentu ia tidak perlu mendengar ucapan kritikus di luar sana. Sebab bacaan yang baik akan otomatis mengkritik karya dia. Adapun kritikus di luar sana berkata sesuai dengan seleranya. Apalagi kritikus yang punya murid-murid semacam kelas menulis. Dijamin lulusan-nya pun seragam gitu-gitu aja produksi bahasanya."

Aku menyukai pernyataan Sungging Raga di atas. Dan dia menuliskan kegelisahannya terkait dunia menulis itu pada 9 Oktober 2013 di dinding Facebook-nya.

Mulai saat ini. Mari kutuklah teori. Mulailah menuliskan rasa. Biarkan ia menemui nasibnya, orang-orang yang mendambakan potongan cerita untuk mengobati jiwa-jiwa mereka sendiri.

Nb :
Mungkin perlu juga mendengarkan petuah Arswendo Atmowiloto, dalam petuahnya yang meringankan beban, "Mengarang itu Gampang", bacalah lalu klik! 

Baca juga tulisan refleksi awal tahun 2017. Klik! 

  • view 96