Kertas dengan Sederet Rasa Rindu

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 26 Januari 2017
Kertas dengan Sederet Rasa Rindu

Untuk A'yat G Khalili

Li, masihkah engkau ingat tentang masa-masa indah saat sekolah di pesantren dulu?

Sekiranya, engkau lupa dan tidak ingat sama sekali, aku dengan senang hati akan bercerita kembali untukmu.

Setiap malam Jum’at, kita paling senang berjanji bertemu di depan toko dekat Masjid. lalu membeli jajan seadanya, sesuai saku kita, lalu kita berangkat mengaji meski sekadar membaca surat Yaasin dan surat Waqi’a ke Pesarean K. As-Syarqawi, pendiri Annuqayah.

Sehabis itu, kita pun menelusuri jalanan yang agak remang-remang menuju ke makam pahlawan, KH. Abdullah Sajjad, ke arah selatan dari pondok kita.

Lalu sepulangnya, kita membaca dan menulis puisi sampai kita benar-benar lelah tanpa kita sadari jika mata kita terpejam. Tertidur pulas di antara tumpukan buku-buku yang belum selesai kita baca.

Aku diam-diam merindukan masa-masa itu kembali.

Di pagi hari, saat di dalam kelas. Aku melihat engkau, begitu khusyuk membaca buku-buku puisi dan kau menuliskan deretan kata-kata, kalimat-kalimat puitis.

Dengan tanpa beban, kau menikmati kegiatan mojok menyediri di ruangan kelas. Menulis puisi yang kau sukai. Kau banggakan nama-nama penyair yang aku sendiri belum membaca siapa mereka.

Kau dulu bercerita tentang Dew, embun pagi yang selalu menjadi jejak bayang. Jejak harapan yang diam-diam terpisahkan. Lalu, kau abadikan namanya. Kau lukiskan keindahannya.
Saat itu diam-diam aku menjadi iri sendiri kepadamu, Li.

Saat awal mengenalmu, aku membaca tentangmu, saat itu sedang juara salah satu kompetisi menulis puisi tingkat nasional.

Aku membacanya ketika bel istirahat saat hendak ke masjid, tempatku terbiasa duduk membuka kamus bahasa inggris kesukaanku.

Pada saat itu, engkau menunjukkan sepotong puisi, “Sketsa Bukit Sajadah” puisi karyamu yang menjadi juara sayembara menulis puisi oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

Aku pun diam-diam ingin membaca puisi-puisimu yang lain, seperti sepotong puisi “Bujuk Saladi” yang menganjarmu hadiah sebagai peraih pertama sayambara puisi oleh Taman Budaya Jawa Timur(TBJT), Surabaya.

Sepotong puisi yang kamu tulis itulah, aku membaca baris-baris, larik-larik seindah dibawah ini.

Bukit ambar seribu malam

masih bergentayangan menyerupa layar bayang-bayang

merayapi dusun, perkampungan-perkampungan bertingkah seperti ayunan berputar menebar sampir kemenyan doa dan daun-daun terus gagar berlantun memajang paras senja sore hari

Lalu berdendang ke pandan lembut ladang-ladang rumput mengabarkan syair cinta yang lama tersimpan dengan sehelai nyanyian dari ladang tanah yang terkelupas membawa kembali perburuan panjang

Di saat usiamu berlanjut di antara langkah perjalanan mencari hidup. Engkau begitu bernas menulis puisi dan menggambarkan alam dengan seperangkat imajinasi petualangan-petualangan kesepianmu.

Di sana engkau menyatakan sebuah perjalanan untuk perjuangan yang terus dikobarkan.

Li, apakah engkau lupa?

Dulu engkau tidaklah bosan membawa buku-buku ke ruang kelas, sesekali engkau menunjukkan nama-nama penyair itu, aku melirik pada buku-buku tipis berisi puisi-puisi Raudal Tanjung Banua, Afrizal Malna, Rendra, Iyut Fitra, Ra M Faizi dan beberapa puisi yang aku sendiri sudah hampir lupa pengarangnya.

Ketika lama tak berjumpa dan dalam kunjunganku ke perkampungan Telenteyan, kampung halamanmu.

Di sana, dengan manis engkau bercerita kepadaku, tentang impian-impian untuk bepergian ke berbagi daerah, melihat Indonesia, lalu engkau bersajak indah tentang daerah-daerah itu.

Li, ketika engkau lelah menulis puisi

Sebenarnya ada nasib yang engkau pertaruhkan, bukan soal sepi atau kemewahan. Tapi, soal bagaimana engkau menghargai diri dan asal muasal puisi.

Ke dalam dirimu, aku menemukan sepotong puisi

Di kampung halamanmu itulah, puisi-puisi itu kelak akan hidup dan kau abadi dengan deretan kenangan yang engkau tuliskan.

Di kotaku sekarang ini, aku diam-diam pun rindu bercakap-cakap denganmu.

Ditulis Fendi Chovi, blogger, senang nulis esai

Nb : Tulisan di atas dimuat di antologi Buku : A'yat Khalili di An-Nuqayah pada 2015

 

  • view 384