Saat Bung Hatta Menyukai Buku daripada Keelokan Wanita

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 25 Januari 2017
Saat Bung Hatta Menyukai Buku daripada Keelokan Wanita

Bung Hatta, nama besar dengan seabrek peran penting dalam masa-masa perjuangan mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia ini. Seharusnya dijadikan teladan untuk seluruh anak bangsa di negeri ini.

Sosok penting yang ikut menemani Bung Karno membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ini, adalah representasi bapak bangsa yang sebenarnya.

Tentu. Berkisah tentang Bung Hatta, yang memiliki nama lengkap Drs. H. Mohammad Hatta ini sungguh memikat dengan penuh nilai-nilai keteladan. Terlebih jika dikaitkan dengan buku, menulis dan wanita.

Dikisahkan, jika Hatta ini merupakan sosok yang tidak suka hura-hura. Berfoya-foya dan jarang terlihat bergandengan tangan dengan perempuan. Di sejumlah literatur, Hatta termasuk lelaki yang susah digoda perempuan cantik.

Hatta dilukiskan lebih sibuk membaca buku dan menulis untuk Indonesia daripada berpacaran. Bahkan, dia menyatakan tidak akan menikah hingga Indonesia Merdeka. Tekad luar biasa sebagai anak bangsa yang layak diteladani.

Saat menikahi Rachmi Rahim pada 18 November 1945, bapak Bangsa Republik Indonesia ini memberikan maskawin berupa buku. Hatta memberi maskawin buku berjudul, Alam Pikiran Yunani, kepada Yuke, nama panggilan Rachmi Rahim, istrinya.

Tentu saja. Hatta memiliki alasan tidak memberikan emas maupun harta sebagai maskawin. Sebab, menurut Hatta. Buku dan ilmu pengetahuan adalah harta berharga.

Seperti ditulis Merdeka.com disebutkan bahwa sempat beredar guyonan jika Yuke, sebenarnya istri ketiga. Sebab, istri pertama adalah buku dan istri kedua juga buku.

Selama 35 tahun, pasangan Hatta-Rachmi ini hidup Harmonis. Rachmi adalah cinta pertama Hatta kepada perempuan. Hatta tergolong lelaki yang tidak mudah tergoda dengan perempuan.

Di masa mudanya, dia menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis untuk bangsanya.

Nah, bagaimana dengan kalian, wahai anak bangsa?

  • view 164