Memilih Saja Tidaklah Cukup

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Januari 2017
Memilih Saja Tidaklah Cukup

Masih ingatkah kamu tentang seorang lelaki saat memutuskan untuk memilih bunga di sebuah taman atas perintah gurunya.

Masih ingatkah kamu tentang murid tersebut. Iya, akhirnya dia memilih bunga terbaik yang dilihatnya menyenangkan hatinya. Bunga itu dibawanya keluar dari taman. Bunga itu dipegangnya. Diperlihatkan kepada gurunya.

Si guru bertanya, kenapa kamu memilih bunga itu? Bukankah di taman itu banyak sekali bunga-bunga yang lebih elok nan membuat siapapun betah memandangnya.

Kenapa pula kamu hanya membawa satu bunga?

Si murid terdiam sejenak dan kemudian memberikan jawaban kepad gurunya itu. Bunga itulah yang membuatku jatuh hati. Aku yakin dialah bunga paling elok yang kulihat di taman itu.

Biarkan diriku memilih satu saja. Kata si murid.

Baiklah. Jagalah bunga itu. Kata si guru sambil tersenyum.

Si lelaki tersenyum dan bahagia. Si lelaki seolah-olah sudah merasa selesai dengan cara memilih. Ternyata tidaklah demikian.

Hidup ini memiliki berlapis-lapis alam realitas dan sesekali membuyarkan harapan paling manis yang dimilik seseorang.

Pada saat yang tak pernah dipikirkannya. Si pemilik bunga, si empunya taman menyuruh si lelaki untuk mengembalikan bunga itu.

Dalam keadaan menangis, dia mendatangiku lalu menyuruhku menuliskan tentang nasibnya, tentang pengharapannya dan sesekali dia menuturkan jika memilih saja tidaklah cukup. 

Lalu, kutulis kisah si lelaki dan bunga yang dipilihnya seperti ini. Terciptalah kisah ini. Bacalah dengan khusyuk! 

"Hai kembalikan bunga itu. Bunga itu sudah lama aku tanam dan aku rawat selama bertahun-tahun," pintanya galak.

"Kembalikan!" bentak si pemilik bunga sekali lagi.

Si lelaki hendak berdebat. Si lelaki sudah kadung menyukai bunga yang sedang dipegangnya. Bunga itu benar-benar menarik perhatiannya. Tapi saat dipikirkan kembali, si lelaki sadar jika bunga itu tidak lahir begitu saja.

Bunga itu lahir dari tangan-tangan pemilik bunga. Mereka sosok yang bertahun-tahun. Menjaganya dan memberinya doa-doa agar bunga itu tumbuh dengan baik.

Sejenak tumbuh hasrat nakal dari si lelaki. Dia hendak membawa lari si bunga. Dia pandangi keelokan bunga itu.

Namun, saat dibayangkan kembali. Bunga itu hendak berteriak. Berteriak dan menyuruh dirinya agar mengembalikan bunga itu.

"Kembalikan aku ke tempatnya. Jika kamu menginginkanku. Mintalah aku kepada pemilik taman itu," tandasnya.

"Baiklah. Baiklah," kata si lelaki.

Bunga itu pun berbicara. Bunga itu pun menyuruh si lelaki untuk tak putus asa.

Bila suatu hari kamu tetap menyukaiku, sebagai bunga terindah menurut versimu di taman ini.

"Belilah aku!"
"Belilah aku!"

Jadikan dirimu kaya dulu. Aku tak bermaksud kamu harus benar-benar kaya. Tapi hanya yang kaya yang bisa membeli seluruh hasrat dirinya.

"Jangan sampai aku dibeli orang lain. Setelah kamu meletakkan tubuhku di taman itu lagi," mohon si bunga.

Lama sekali si lelaki merenung. Dia merenung dengan kata-kata si bunga yang di pegangnya.

Si lelaki menangis. Menangis menyadari bunga yang dipegangnya disuruh untuk ditaruh kembali.

Si lelaki semakin menangis saat menyadari dirinya begitu miskin. Dia melihat orang-orang di sekitarnya. Semua terlihat gagah. Semua terlihat berprestasi. Semua terlihat gagah dengan jabatan paling memesona semua orang.

Sedangkan dirinya, hanya pengharap yang kebetulan mendapatkan perintah memetik bunga oleh gurunya.

Kini. Lama dia tak berjumpa lagi dengan gurunya. Lama dia tak lagi mendapatkan siraman rohani dan kata-kata penyemangat.

Lagi-lagi si lelaki menangis. Dia menangis. Pada saat-saat seperti itu. Dia teringat kata-kata bunga yang dulu pernah dipegangnya.

"Belilah aku!" suara itu terdengar sangat nyaring di telinganya.

"Baiklah. Aku akan berjuang untuk membeli mu, hai bunga!" katanya terisak.

Pada saat mengucapkan itu, dia teringat penulis termasyur yang dikenalnya. Penulis itu benar-benar menyirami jiwanya. The Alchemist, nama novel itu ditulis Paulo Coelho dan memberinya kekuatan untuk berharap saat hendak mewujudkan cita-citanya.

"Jika kamu punya impian. Semesta akan turut mendukung untuk mewujudkan cita-citamu," begitu petikan mantra yang dibaca dari novel penulis hebat itu.

Si lelaki duduk dan sesekali tetap terisak. Dia sendirian. Dia duduk di atas sebuah ruangan suci. Menyampaikan hasray kepada sang pemilik semesta.

Ya Tuhan. Berilah aku kekuatan. Berilah aku kekayaan. Berilah aku bagian dari keindahan dunia yang engkau perlihatkan di taman itu.

Sesekali dia menangis kembali. Menangis kembali.

"Memilih saja tidaklah cukup, dan kecukupan untuk mewujudkan harapan itu agar menjadi kenyataan dan menjadi pilihan terbaik ada di tangan Engkau, ya tuhan," kata dia memohon.

Dia duduk dan kembali menyusun semangat sore itu. Dibuatlah jiwanya tersenyum. Pada dunia. Pada apa yang diharapkannya itu.

Bacalah tulisanku sebelumnya di bawah ini :

https://www.inspirasi.co/post/details/26288/memilihmu

  • view 65