Makna Damai, Menurut Anak Muda

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Agama
dipublikasikan 23 Januari 2017
Makna Damai, Menurut Anak Muda

Anak-anak muda itu mulai berkumpul sambil duduk lesehan. Sekitar 15 orang.  Mereka adalah perwakilan dari beberapa organisasi ekstra dan intra yang diundang komunitas YIPC Jawa Timur, membicarakan perdamaian.

Bertempat di sekitar Perpustakaan Universitas Trunojoyo Madura, percakapan di antara para peserta pun semakin mengalir. Apalagi, hujan gerimis tiba-tiba turun.

Tema yang diangkat mengenai peluang hubungan Islam dan Kristen dan apa tantangannya. Setiap perwakilan dari organisasi yang hadir diminta presentasi ide dan gagasan mereka terkait peluang hubungan muslim dan nasrani dan apa tantangannya?

Mereka diajak untuk berdialog sekaligus diminta menyampaikan pendapat, apa kira-kira makna damai menurut mereka?

Abd Hamid, adik tingkat yang saat itu sempat kuundang mewakili salah satu organisasi ektra kampus pun ikut nimbrung. Di depan para peserta, dia menyoal tentang piagam Madinah sebagai konsep ideal tentang perdamaian yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw.

Menurut dia, setiap manusia memang sudah sepantasnya menghargai sisi kemanusiaan. Konflik agama sebenarnya jarang terjadi. Jika tidak didukung dengan isu-isu terkait kepentingan politik dan ekonomi.

“Politik dan persaingan ekonomi itulah yang menyulut masalah agama meruncing sehingga menyebabkan hadirnya pertingkaian,” ujarnya.

“Di agama Islam, kami sudah mengenal hadirnya Piagam Madinah yang sebenarnya merupakan gerakan peacemakers yang sebenarnya untuk hidup berdampingan sejumlah komunitas berbeda keyakinan dengan semangat saling menghormati,” tegasnya.

Dia sepakat jika upaya menciptakan perdamaian adalah tugas yang harus diemban para pemuda.

Akan tetapi, para peacemaker  pun harus aktif mengajak tokoh berpengaruh di sekitar lingkungan kita sehari-hari. Sebab, mereka memiliki potensi yang sesekali menjadi otak dari pelaku pemecah kebersamaan.

Tak hanya Hamid, para peserta yang lain juga ikut berbagi pengalaman. 

Menurut peserta diskusi, pada dasarnya, secara kodrati setiap manusia memimpikan kesejahteraan dan harapan-harapan untuk hidup layak dan memiliki pengaruh di dalam kehidupan bermasyarakat. Itulah bagian yang pada waktu tertentu bisa menjadi akar dari penyebab perang kepentingan.

Jadi, jika aku lihat jalannya diskusi selama hampir 3 jam itu. Pesan dari para peserta, yaitu untuk membangun kebersamaan. Setiap dari kita harus belajar membangun kebersamaan dengan semangat menghargai perbedaan.

Para peserta sepakat jika munculnya sekat-sekat dalam pergaulan tentang menimbulkan persepsi yang salah tentang kelompok-kelompok tertentu. Jika tidak diklarifikasi, maka sekat-sekat itu bisa menjadi boomerang dan memisahkan keharmonisan.

Sebagian dari peserta sepakat jika konflik atas nama agama itu tidak ada. Justru yang seringkali muncul adalah konflik kepentingan dan melibatkan agama.  Agama dijadikan bahan komoditas yang dijual dengan dipadukan dengan teks keagamaan. Berkobarlah kebencian satu dengan yang lain.

Menurut mereka, sebenarnya, hubungan antara Muslim dan Nasrani dan peluangnya sangat terbuka lebar. Mereka bisa dijembatani dengan dialog. Namun, setiap manusia memiliki persoalan berbeda-beda. Mereka memiliki persepsi, keinginan, harapan dan tentu upaya untuk mendominasi satu dengan yang lain. Hal-hal seperti itu yang kadang menyebabkan hubungan satu dengan yang lain terkotak-kotak.

Masyarakat cenderung lebih banyak menerima khawatiran dan kecemasan jika berbicara tentang persoalan agama. Hal ini digambarkan dengan baik oleh peserta dalam diskusi ini dengan menyampaikan cerita tentang keluarganya.

“Di keluargaku, orang tua kami cenderung takut jika menyoal tentang hubungan berbeda agama. Mungkin karena mereka sangat jarang berinteraksi satu dengan pihak agama lain. Juga jarang membaca literature-literatur mengenai hubungan lintas agama. Jadi, ketika mendengarkan, aku bergabung dengan orang-orang non muslim. Sepihak mereka mengklaim agar berhati-hati. Ada kristenisasi. Mungkin itu juga dirasakan oleh pihak non muslim?”, ungkap salah satu peserta.

Bagi mereka, inilah titik persoalan yang sangat nyata. Di keluarga sendiri pun tidak semua orang tua bisa mengijinkan anak-anak mereka bergaul dengan orang-orang berbeda keyakinan. Banyak alasan untuk itu. Jika bukan karena pendangkalan iman juga bisa menimbulkan kesesatan.

Dari diskusi kecil dan dibentuk lesehan ini, satu hal yang cukup menarik menurutku, yaitu setiap manusia memang sudah sewajarnya menghormati perbedaan. Jika itu tertanam dngan baik. Maka, kita pun ikut belajar menghargai pihak-pihak lain di sekitar kita.

Baca juga tulisan sebelumnya :

https://www.inspirasi.co/post/details/26244/ajaklah-berislam-ajaklah-beriman

  • view 77