Ajaklah Berislam, Ajaklah Beriman

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Januari 2017
Ajaklah Berislam, Ajaklah Beriman

Di acara Kemah Perdamaian beberapa tahun yang lalu, aku dipertemukan dengan banyak sekelompok anak muda yang berbeda agama.

Saat duduk berdua dengan salah satu dari mereka, aku mengajukan pertanyaan meski kedengarannya agak konyol.

"Apakah kamu tidak takut duduk denganku. Lalu, bagaimana jika nanti aku mengajakmu beragama Islam?" tanyaku.

Dia menepuk pundakku. Seolah mau tersenyum. Lalu, menjawab dengan sesuatu yang tidak kubayangkan sebelumnya.

"Haha. Jika mau mengajakku beragama seperti agama sampean. Jangan dibicarakan denganku. Minta dulu kepada tuhan Sampean. Dia yang menaruh kepercayaan berbeda antara aku dengan sampean," katanya.

Wow! Aku terkejut. Aku mengira dia akan membalas dengan jawaban datar. Jawaban itu benar-benar mengena di hati ini.

Lalu, kami berbicara banyak hal dengan penuh keakraban dan seolah-olah kami sudah berteman begitu lama. Sepanjang acara berlangsung, aku lebih banyak duduk satu meja dengan dia. Bicara tentang kebesaran Tuhan, Cita-cita, hingga mengulas jenis pasangan yang harus dicari.

Pertemuan dengan pemuda non muslim ini. Mengingatkan impianku saat berusia belasan tahun silam. Yaitu usia saat sekolah menengah pertama.

Saat itu, aku membayangkan. Orang-orang non muslim itu sosok yang layak diperangi, diajak berdebat hingga mereka keok dan menyadari jika agama Islam agama yang benar, diajak berkompetisi dan selebihnya jangan banyak berteman dengan mereka. Tanpa aku sadari, ternyata diam-diam aku malah menjadi penasaran, bagaimana jika suatu hari nanti aku memiliki banyak teman non muslim. Kataku dalam hati.

Aku sempat berdoa berhari-hari. Semoga tuhan memberikanku kesempatan berteman banyak non muslim biar aku belajar memperkenalkan islam.

Jika mengingat impian itu, aku tersenyum sendiri. Geli.

Di kampung halamanku sendiri, di salah satu desa di pinggiran kota Sumenep. Aku kerapkali bertemu komunitas non muslim dari etnis Tionghoa yang hidup rukun dengan warga setempat. Dan tentunya, aku juga bertemu dengan gadis-gadis muda dari kalangan mereka yang seusia denganku. Mereka gadis non muslim dan wajahnya aduhai bersih sekali.

Sayang, aku ngga bisa bersahabat dengan mereka. Kami seolah bisa digambarkan sebagai anak muda yang susah akrab. Meskipun diam-diam kami saling melemparkan senyum pertanda persahabatan. Dari jauh kami ingin berteman, tapi dari dekat, kami menjadi takut sendiri. Apalagi, di keluargaku berkenalan berlebihan dengan perempuan menjadi larangan tak tertulis. Lebih-lebih dengan non muslim yang beretnis Tionghoa.

Hari ini, jika mengingat kembali impian yang pernah hadir dalam rentang tahun 2000-2001 sebagai abad Milineum itu. Aku tak percaya jika detik ini bisa bergaul begitu akrab dengan teman-teman non muslim. Sama akrabnya dengan teman-teman Muslim. Boleh dibilang. Aku sudah mengoleksi sejumlah pertemanan menarik dengan orang-orang berbeda keyakinan denganku.

Tiba-tiba aku berpikir, apakah masih ngotot mau mengajak mereka berislam dan beriman?

Hahaha ...

Di era yang sangat berlimpah informasi saat ini. Penjelasan tentang agama islam dan kaum beriman sudah dengan mudah diakses di mana-mana.
Mereka, anak-anak non muslim itu pasti sudah membaca tentang agama Islam dan ajaran-ajaran mulia yang dikandungnya. Jika pun mereka tidak membaca dengan serius, setidaknya mengetahui jika ada agama bernama "Islam".

Tapi, apakah dengan informasi itu mereka menjadi berislam dan beriman?

Semua kembali lagi kepada Gusti Allah.

Setiap dari kita. Menganut suatu agama atau mengimani kebesaran tuhan. Jika bukan karena faktor keturunan juga bisa lewat perantara pencarian diri terhadap hakikat hidup yang membentangkan banyak keagungan sang pencipta.

Hari ini aku tetap berkesempatan memperkenalkan Islam kepada non muslim. Namun, tak lagi ngotot agar mereka harus berislam dan beriman. Namun, lebih pada momen untuk barter pengalaman, bagaimana hidup untuk menjaga kebersamaan dan kerukunan.

Aku hanya percaya kenyataan ini.

Setiap dari kita pasti memiliki alasan menganut agama tertentu. Sesuatu yang kemudian diyakini di dalam hati. Tentu, hati itulah yang diam-diam menerima kehadiran tuhan. Kita beragama. Karena di dalam agama itu, kita mengenal tuhan.

Dengan demikian, kita pun memercayai kehadiran dan kebesaran tuhan di dalam diri kita. Tuhan yang memuliakan hamba-Nya dan mengajarkannya untuk hidup memuliakan Asma-Nya.

Dan ternyata aku terlahir mengenal nama tuhan melalui agama Islam. Yang dengan serius diajarkan orang tua dan guru-guru di sekolah.

Jika kalian tak berislam. Tapi kalian tetaplah teman-teman yang layak dihormati dan dicintai di dalam kehidupanku. Mari jaga persahabatan dan kerukunan hidup bersama-sama.

Yuk !

 

 

  • view 57