Untukmu, Yang tak Terlupakan

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 22 Januari 2017
Untukmu, Yang tak Terlupakan

Bayangkan seandainya orang yang kamu sukai dan terus menerus dirindukan diam-diam ditakdirkan berpisah dengan dirimu! 

Sakit. Kecewa. Tersiksa. Itu deretan kata yang mewakili hati. 

Aku pun sama. Merasakan itu sebagai kenyataan paling menggelapkan seluruh kesenangan dan kemeriahannya dunia.

Dunia yang ramai. Tiba-tiba senyap. 

Di sini aku membayangkan betapa kamu. Kamu yang kurindukan dengan segala nafas yang diberikan tuhan ini, tiba-tiba terus menerus menyesakkan dada. Aku merasakan kehilangan.

Mengharapkanmu tetaplah asa. Tapi, semua berjalan seperti abu-abu. Tak jelas. Dengan keadaan seperti itu, tiba-tiba aku berpikir tentang Tuhan.

Kenapa dia menciptakan pertemuan ini? Jika pada waktu selanjutnya dan tidak bisa dipercaya. Aku tidak bisa membeli harapan itu, mirip seperti kesempatan membeli makanan, minuman, untuk menyehatkan diri ini.

Aku sedih saja. Diam-diam aku jadi teringat obrolan dengan Misduri, rekan yang sama-sama senang menulis dua tahun silam.

Pada setiap perjalanan hidup manusia , setiap dari kita harus belajar merelakan perpisahan. Yang pada hari yang tak bisa ditentukan. Perpisahan itu melahirkan tangis dan kekecewaan. 

Aku setuju. Jika perpisahan bukan sesuatu yang layak ditertawakan. Perpisahan adalah bagian paling berat sekali dirasakan. Apalagi, jika mereka adalah orang-orang tercinta.

Kata Misduri, bayangkan saja jika kita berpisah dikarenakan kematian dengan sanak keluarga.

Kapan bisa bertemu dengan mereka?

Mereka pun hanya menjadi kenangan. Diam-diam saat rindu datang. Kita hanya bisa menangis. Menangis karena hasrat pertemuan yang selama-lamanya tak akan terwujud.

Aku membayangkan. Mereka tak lagi bisa ditemui. Dikasih senyuman. Dikasih canda tawa. Mereka hilang untuk selama-lamanya. Meninggalkan diri kita yang hidup di dunia. Kita sendiri pun belumlah tentu bertemu mereka kembali.

Tiba-tiba aku juga membayangkan. Jika itu yang terjadi di dalam hubungan yang kita cetuskan untuk belajar saling mencintai ini pada suatu waktu terjadi perpisahan.

Bagaimana aku menghibur diri saat hati terus menerus menyatakan rasa sedih?

Aku tak tahu. Berat sekali dirasakan meskipun kita harus belajar mengikhlaskannya.

Jika ternyata kamu dimiliki yang lain. Namun di hati ini masih bertahan rasa cinta untukmu. Aku seperti pembeli yang tak mendapatkan kesempatan memelihara dirimu. Harapanku untuk merawatkan pun tak terwujud. Saat-saat demikian. Aku benar-benar merasa kehilangan.

Aku tersiksa. Perpisahan itu tetaplah momen terberat. Dan kamu senantiasa menjadi nafas dari setiap kerinduanku. Tak terlupakan. 


 

  • view 85