Aku Ingin Menulis seperti Dia

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 20 Januari 2017
Aku Ingin Menulis seperti Dia

Waktu belajar menulis, aku membayangkan terampil seperti penulis-penulis besar. Penulis itu karya-karyanya dikagumi, disanjung, dibedah, menjadi bahan perbincangan, diviralkan, hingga tak kalah ngeri diinjak-injak oleh kubu pembenci.

"Sampah, karya tak penting!"

Hal-hal seperti itu malah seringkali terjadi, di negeri ini ataupun di belahan dunia lainnya. Setidaknya, kita bisa membuka mata lebar-lebar, jika di dunia ini sebagus-bagusnya karya, pasti selalu mengundang para pemuja dan pembenci.

Dalam benakku, aku ingin menjadi penulis yang dikagumi saja. Berharap dijauhkan dari deretan para pembenci. Tetapi, saat dipikir-pikir lagi, ternyata aku salah. Aku semakin salah karena jika karya-karya terus dipuja-puja, lama-lama kita menjadi penulis kacangan juga.

Mengutip kata A.S Laksana, penulis yang baik. Jika dipuji-puji terus lama-lama hancur, sebab dikasih tulisan buruk pun para pembaca bilang, mantab!

Inilah ruang berpikir bagiku.

Menulis bukan sekadar memikirkan hari ini, tapi esok hari. Banyak penulis tak diakui saat penulisnya masih hidup, tetapi saat penulisnya mati. Karya-karya mereka diburu dan dicari para pembaca.

Mungkin aku atau kalian masih belum menemukan tujuan yang jelas. Kenapa kita menulis hingga saat ini? Dan kita hendak menulis seperti siapa? Kira-kira tema apa yang harus kita angkat dengan getol hingga kita meninggalkan dunia fana ini?

Saat seperti itulah, aku menjadi lebih paham. Aku adalah bagian dari hidup manusia, yang sejak lahir memiliki persoalan hidup, cara bersuara. Sayangnya, semua kubiarkan berlalu sebab aku banyak berpikir menjadi lebih lain. 

Menjadi orang lain penting di saat kita hendak bercermin bagaimana menjadi sosok ideal. Tapi, membayangkan diri seperti yang lain, sama persis adalah ancaman. 

Bukan sekadar mengancam tumbuh berkembangnya keanekaragaman hidup, tapi membuat kita tidak nyaman karena harus berjalan membawa bayangan orang lain di saat kita memiliki bayangan sendiri. 

Akhirnya, aku pun berpikir, apa jadinya jika terus menerus aku menjadi orang lain? Kapankah bisa menjadi diri sendiri?

Bukankah setiap mahluk tuhan spesial dan unik. Lantaskah, apakah kita takut menjadi diri sendiri dengan karya atas suara hati dan pengalaman sendiri?

Bukankah setiap hari, hati dan pikiran kita memiliki kenangan, suara yang layak didengarkan? Kapankah kita ada waktu mendengarkannya jika harus menjadi orang lain.

O, tuhan!
O, tuhan! 

Kemana saja aku selama ini?

Jika para penulis besar seperti dia. Iya, Dia yang kukagumi karena tulisan-tulisannya saja dihujat di antara deretan para pemujinya yang fanatik.

Lantas, kenapa kita takut menjadi diri sendiri, yang pada akhirnya pasti memiliki pengagum dan pembenci.

Diam-diam aku mulai berpikir tentang apa yang tak kupikirkan tentang diriku sendiri selama ini. Bagaimana denganmu? 

  • view 93