Naiknya Harga Cabai, Penjual Makanan Berpotensi Dipermalukan Pelanggan

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Ekonomi
dipublikasikan 19 Januari 2017
Naiknya Harga Cabai, Penjual Makanan Berpotensi Dipermalukan Pelanggan

Mular adalah lelaki humoris di kos yang kutempati. Setiap malam bersama teman-teman satu kos, kami selalu duduk bareng hingga larut malam.

Kami bercerita apa saja. Mulai persaingan siapa pemenang Pilgub DKI Jakarta hingga obrolan ringan seputar aktivitas kami sehari-hari.

Dari banyaknya obrolan, malam itu tiba-tiba kami membahas hargai cabai yang naik. Dari berita-berita yang kami baca dan kami dengarkan, harga cabai menembus angka Rp. 90.000/kg.

Mahalnya harga cabai itu menyebabkan beberapa gorengan di warung burjo langganan kami kehilangan pasangannya, cabai. Apalah arti gorengan bila dinikmati tanpa cabai. Mirip malam minggu tanpa pacar. Tak enak dinikmati.

Kembali ke Mular. Teman kami ini baru tiba di kos. Sebelumnya, dia bekerja di Jakarta, tak betah. Dia balik lagi ke Jogja.

Malam itu Mular bercerita bila naiknya harga cabai berpotensi para penjual makanan dipermalukan pelanggan. Apa pasal?

Saat itu Mular benar-benar ngidam pada makanan gado-gado. Hanya gado-gado yang membuat selera makannya naik. Pedasnya, apalagi.

Tanpa tawar menawar, Mular langsung pakai jurus sakti ke penjual makanan itu.

"Buk, cabainya dibanyikin ya, pengen gado-gado dengan aroma pedas merakyat," pinta dia.

"Waduh, harga cabai mahal, Mas!" jawab si penjual.

Mular melongo di depan penjual gado-gado itu. Tak lama setelah itu, Mular bilang ke penjual itu. "Tunggu ya, buk. Nanti saya ke sini lagi. Saya cari cabai dulu."

Secepat kilat. Mular memberikan sejumlah buah cabai kepada penjual makanan gado-gado tadi.

"Ini buk. Saya baru beli di dekat pasar!"

Si penjual terdiam dan mengambil cabai yang diberikan si pembeli. Agaknya, dia merasa malu sebagai penjual yang seharusnya melayani konsumen. Malah, saat ini dilayani konsumen. Hahahah ...

"Abis. Aku ngga bisa menikmati gado-gado bila tak sepedas yang kuinginkan. Sayangnya, si penjual kehabisan stok paling," kata Mular disambuk tawa ngakak teman-teman.

Lain halnya dengan Dani. Dia teman kos kami juga. Doyan juga ke cabai. Utamanya saat menikmati gorengan.

Pernah saat membeli gorengan, dia tidak melihat cabai di sekitar meja gorengan itu biasa dijual. Tak nyaman dengan keadaan seperti itu, dia pun pergi sebentar mencari cabai.

Di tempat jual beli cabai. Dia harus mengeluarkan uang Rp. 2.000 untuk 3 cabai yang dibelinya. Miris!

Aku juga sama. Saat mengambil cabai di Angkringan sebagai pasangan gorengan yang kubeli. 

Aku dibuat sungkan-sungkan dikit kepeda si penjual. Apalagi, bila membeli dua gorengan, ngambil 4 cabai. Hahahaha ... 

Demikianlah keadaan negeri kit tercinta saat ini.

Naiknya harga cabai terus menerus membuat kita merindukan hal-hal pedas. 

Ya, pedas mengkritik pemerintah! 

Yuk kita kritik pemerintahan Jokowi-JK sepedas-pedasnya kritikan. 

Sebab, bangsa ini memang pecinta makanan pedas. Tak pedas ya tak enak. 

Melihat kritikan pedas dengan sejumlah naiknya harga barang-barang saat ini. Pemerintah memang perlu dipertanyakan. Rakyat pun juga perlu bertanya? Kenapa semua barang-barang dinaikkan harganya?

Apakah bangsa ini akan bangkrut bila harga dibuat stabil?

Hahaha. Okelah. Aku bukan pakar perekonomian. Menurutku, mendingan kita biasakan menanam pohon cabai. 

Satu pohon, aku pikir cukuplah memenuhi satu orang jika benar-benar maniak cabai sebagai menu makanan. 

Negeri ini terbilang negeri subur. Apa-apa yang ditanam pasti tumbuh. 

Sayangnya, masyarakat di negeri ini lebih senang menyuburkan cacian dan makin pedas sebagai menu makanan sehari-hari.

Ya ya ... sepedas membayangkan nikmatnya menyantap gorengan dengan tambahan cabai yang bikin tubuh keringatan. Hahaha.... 

 

 

  • view 255