Yang Kita Tangisi Hanya Sesuatu Yang Tak Dimiliki

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Januari 2017
Yang Kita Tangisi Hanya Sesuatu Yang Tak Dimiliki

Yang sering kita sesalkan adalah sesuatu yang tak kita miliki. Sesuatu yang melekat pada diri kita malah kita lupakan keberadaannya.

Anugerah untuk menikmati tidur nyenyak, bernafas di alam yang menyegarkan pikiran, kesempatan melihat, mendengar maupun berbicara, bahkan kesempatan berjalan pun kita lupakan. Untuk dinikmati dan disyukuri kehadirannya.

Kita hanya sibuk mencari nilai kebahagiaan lain. Standar harapan lain dan sederet harapan lainnya yang menjauhkan diri ini dari hasrat bersyukur pada apa yang ada. Sesuatu yang lebih pantas dinikmati dan disyukuri.

Jika mengingat kisah Jan Koun, miliader kelahiran Ukraina, yang diboyong keluarganya ke Amerika Serikat demi mengejar American Dream barangkali akan membuat kita berpikir betapa pentingnya menikmati apapun disekitar kita, utamanya kehadiran keluarga.

Sepotong kisah tentang Jan Koun, si pembuat WatsApp itu dikisahkan dengan begitu memikat oleh J Sumardianta dalam buku, Habis Galau Terbitlah Move on terutama saat Jan Koun melakukan ritual mengharukan. Jan mendatangi asrama tempat dia mengantre jatah makan saat remaja. Ia duduk sambil menyandarkan diri ke dinding. Air matanya meleleh. Mengingat masa-masa antre makanan dan hidup penuh kemiskinan. Ia ingat ibunya yang menjahit baju dengan menghemat pengeluaran.

Sayangnya, lelaki miskin yang kini jadi miliader setelah watsApp dibeli 211 triliuan rupiah itu pun juga tak bisa menyampaikan kabar gembira itu kepada ibunya. Sebab sang ibu telah tiada ...

Kisah Jan Koun adalah refleksi buat kita semua. Kita ditakdirkan memiliki segala hal, keluarga yang mencintai tanpa syarat, teman-teman yang siap menghibur, namun tak sedikit dari kita melupakan kehadiran mereka.

Kita menangisi segala sesuatu yang tidak kita miliki, jabatan prestisius, hidup berkecukupan, kendaraan berharga di atas puluhan juta, rumah mewah. Kita menangisi itu semua. Sedangkan, hal-hal lain yang justru menjadi bagian hidup kita. Kita lupakan keberadaannya.

Apa yang kita cari? Apa yang akan kita nikmati?

Mari kita menjawab dengan hati dan dengan akal pikiran tentang hal-hal yang ada di dalam diri kita ... sudahkah kita bersyukur akan kehadirannya?

 

  • view 54