Biarkan Jodoh Datang tanpa Harus Ditunggu

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 04 Januari 2017
Biarkan Jodoh Datang tanpa Harus Ditunggu

Sowan ke kediaman seorang kiai ternyata bukan sekadar ajang silaturahmi, kata guru-guruku, juga ajang untuk menabur keberkahan hidup. Namun, berkunjung ke kediaman kiai bagiku adalah bagian dari hobi. Aku selalu senyum-senyum bila mencium tangan kiai, bertutur sapa hingga menyaksikan abdi dhalem kiai yang membawa aneka jenis makanan dan minuman dengan begitu sangat sopan. Tentu, kebahagiaan lainnya bila dikasih aneka jenis tausiyah.

"Sampean sudah menikah?" tanya seorang kiai yang begitu tersohor di kecamatan Manding, kabupaten Sumenep, kepadaku suatu waktu.

"Belum. Belum ada hasrat menikah. Masih senang keliling, pak kiai," jawabku.

"Lhoo, bila sudah siap. Jangan ditunda. Tak semua hasrat jalan-jalan harus dipenuhi, kan. Rem dulu hasrat-hasrat lain," kata kiai itu.

"Kasihan kan, bila pasanganmu menunggu hanya karena sampean tak serius mencari?" tegurnya.

Apa? Pasanganku menungguku. Di mana dia sekarang, di mana dia bertempat tinggal?

Seketika telingaku menjadi ada angin peneduh. Ternyata aku ditunggu seseorang. Meskipun, yang kutahu kiai itu memberikan tafsir bahwa setiap orang diberi amanah mencintai dan mencari seseorang. Untuk dinikahi.

Kiai itu terus berbicara dan sesekali dibarengi tausia. Tepatnya, siraman rohani. Gara-gara pertanyaan itu, para tamu yang ada di ruangan itu pun menatap ke arahku.


Yang lain pada senyum-senyum. Aku pura-pura mengambil kopi dan menyeruputnya, biar keadaan menjadi seperti biasa. Seolah tak ada apa-apa. Tentunya, aku tak menjadi objek perhatian. Sungguh, tak enak rasanya saat duduk dengan tatapan orang-orang dalam keadaan seperti itu.

Aku menyimak kembali kata-kata kiai itu. Di dalam pikiranku membuncah aneka alasan-alasan lain, yang tak kuungkapkan.

Aku hanya berpikir begini. Bila memikirkan jodoh, semua kukembalikan kepada yang di atas. Tuhan pun sebenarnya juga memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih dan pilihan itu senantiasa hadir di setiap saat.

Bila merenungkan kembali, aku teringat obrolan dengan teman gadis yang setiap saat menjadi patner diskusi. Begini kira-kira perkataan gadis itu. Kalian ngga kepo siapa dia, kan?

"Mungkin benar sih, kenapa kita belum berjodoh. Sebab. Kita masih memiliki harapan-harapan lain, mencari ilmu, fokus membangun karir dan itu sebabnya mungkin jodoh kita tertahan untuk sementara waktu," kata dia.

Bila diperhatikan lebih jauh, ungkap dia lagi.

"Urusan jodoh, rejeki dan mati, benar-benar misteri. Tak tertebak. Jika jodoh hanya soal harta. Maka, banyak yang berharta, tapi tak kunjung menikah. Bila berjodoh soal ketampanan. Banyak yang tampan. Tapi memilih single hingga usia empat puluhan," tegasnya.

Apakah jodohku juga tertahan untuk sementara waktu?

hahaha ... kami tertawa ...

"Iyaa, pasangan itu sosok-sosok yang kerapkali hadir di dalam kehidupan kita kok. Kita ngga akan paham kecuali kita berniat untuk menemukannya," ujar dia.

Bila memang jodoh, percayalah, semua akan dimudahkan jalannya. Yang jauh pun akan dijadikan dekat. Sayang, kita tak bisa bersikap seperti itu terus menerus kan?

"Tak ada salahnya, jodoh itu juga dicari. Benar kata kiai itu, jodoh pun menunggu kita. Kita ngga pernah tahu, kan. Di saat kita sibuk ternyata ada sosok yang diam-diam mengharapkan kehadirannya kita," ujarnya.

"Iyaa. itulah yang tak pernah kita sadari dan itu seringkali terjadi."

 

 

 

 

  • view 214