Berguru kepada Muhidin M Dahlan

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 01 Januari 2017
Berguru kepada Muhidin M Dahlan

Tak terasa aku sudah meninggalkan tahun 2016. Kini, 2017 hadir seperti pengharapan baru. Untuk menikmati perjalanan baru dengan cerita yang tak sama.

Setidaknya, saat mengawali awal tahun 2017 ini aku memiliki persiapan berupa pengetahuan baru, yang lebih dari apa yang kurasakan di 2016.

Itu bermula dari workshop menulis esai di Jual Buku Sastra (JBS) di Yogyakarta, pada 30 Desember 2016. Diacara tersebut, aku menjadi salah satu di antara 21 peserta workshop menulis esai yang diisi Muhidin M Dahlan.

Menurutku, Muhidin begitu pintar berbagi cerita agar para peserta mencintai aktivitas tulis menulis.

Apa yang disampaikan Muhidin dalam pelatihan tersebut?

Banyak. Aku tak bisa menyebutkan semuanya. Namun, pesan yang paling berkesan buatku adalah saat dia menuturkan bahwa untuk menjadi penulis yang kritis, argumentatif dan menarik dimata publik. Tak lain dan tak lebih, budayakan semangat membaca, menulis, latihan secara disiplin.

"Menulislah di mana saja, bisa juga di sosial media (seperti blog, twitter, facebook, dll) untuk menemukan calon pembaca kalian," tuturnya.

Tulis saja secara kreatif dan tak ditulis orang lain, ungkapnya sekali lagi. Tulislah apa yang diminati publik. Tulislah yang membawa angin perubahan. Tulislah yang membuat tulisan kalian memiliki kekayaan gagasan.

Bila menulis di Sosmed, maka menulislah sesuatu yang membuat publik terhenyak. Lalu bergerak setelah membaca karya itu. Tulislah segala sesuatu. Utamanya, apa yang paling disukai banyak orang. Dishare hingga mencapai ribuan "like" dan "dibagikan" ke berbagai sosmed. "Mari menulis secara serius. Konsisten dan menarik minat para pembaca," tuturnya.

Muhidin M Dahlan sendiri bukan nama asing dijagad literasi di negeri ini. Karya-karyanya sangat menyentuh, kritis dan menarik dibaca.

Itu mengapa aku ingin mengatakan, aku senang belajar ke Muhidin M Dahlan. Bagiku di tahun 2017 ini. Dia guru esai dan guru perubahan.

Aku pejamkan mata pelan-pelan. Lalu kubisikkan ke dalam diriku sendiri. Aku adalah esais di 2017. Biarkan tulisanku menemui kalian. Membuat kalian terinspirasi dan melakukan perubahan.

Bila aku bertanya kepada diriku sendiri, kenapa kamu hendak menulis esai? Jawabannya ada pada ungkapan yang dibubuhkan Muhidin saat memberikan tanda tangan sekaligus dengan sepotong petuah bijak di lembar pertama buku Inilah Esai : Tangkas Menulis bersama Para Pesohor : “Esai itu menghormati karya ilmiah dan puisi”.

Begini pesannya itu : Bila engkau bukan anak orang kaya atau ulama. Menulislah!

Inilah resolusiku di tahun 2017. Aku ingin melahirkan perubahan dengan aktivitas membaca dan menulis. Buat kalian dan diriku sendiri. Menginspirasi dan terinspirasi.

Terima Kasih, Gus!

  • view 314