Rumah

Rara Febtarina
Karya Rara Febtarina Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 16 Mei 2016
Rumah

Rumah, rangkaian lima huruf ini menghasilkan sebuah kata luar biasa penuh makna. Bukan karena bangunannya,  tetapi karena orang-orang yang "hidup" di dalamnya. Berbagi suka duka di dalamnya. Canda dan amarah sebagai bumbunya. Ceria dan tangis menghiasinya.

Ketika, badai itu datang seketika, tahukah kau rumah adalah tempatku berlari mencari perlindungan ? Ketika, kilat petir menyambar sesekali, tahukah kau rumah adalah tempatku berlindung mencari sebuah ketenangan ?

Mereka yang sudah susah payah menghidupkan rumah menjadi begitu hangat membuatku tiada berdaya. Hari demi hari telah kulalui, hal itu membuatku semakin sadar menjadi dingin, acuh, dan tidak peduli adalah kesalahan besar. Kesadaran ini datang bukan dari nasehat yang mereka lontarkan, tapi dari perilaku mereka yang semakin hari semakin hangat. Sebongkah es mana yang tidak mencair jika terus disinari mentari pagi hari ? Mereka tak banyak bicara, tapi aksinya begitu nyata.



Tahukah kau ? Ketika lilin kecil membakar diriku, rumah adalah lautan cinta yang meredamkan amarahku. Sujud syukurku untuk-Mu yang memberikanku kesempatan untuk bisa membahagiakan mereka. Terima kasih karena selalu menyamankan. Kemanapun aku melangkah, kemanapun aku berlari, kemanapun aku pergi, akan ku pastikan aku akan kembali.

Kata terima kasih tidaklah cukup menggambarkan betapa besarnya rasa syukurku memiliki rumah seperti ini. Percayaku pada-Nya, bahwa setiap orang di hidupku selalu memberi arti mengapa aku terlahir di dunia ini. Tuhan jagalah mereka, jagalah rumahku. Jika di persimpangan jalan nanti kau bertanya padaku siapa yang paling berarti setelah Tuhan dan agamaku, aku akan selalu menjawab "rumahku".

Bandung, 16 Mei, 2016

Rara Febtarina