Allah Tidak Pernah Tidur

Febrina Amel
Karya Febrina Amel Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2017
Allah Tidak Pernah Tidur

Sebuah taksi menepi di salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di Thamrin. Sang supir melihat sekeliling mencari peruntungan, siapa tahu ada yang memerlukan jasanya. Tak lama kemudian ia melihat seorang laki-laki dan perempuan berjalan kearah taksinya, sambil memberikan isyarat bertanya. Seakan mengetahui maksudnya, sang supirpun menganggukan kepalanya. Dua orang tersebut langsung masuk ke dalam taksi.

“Selamat siang Bapak dan Ibu, mau diantarkan kemana?”, kata Supir.

“Ke arah Kelapa Gading ya, Pak”, jawab si Ibu.

“Baik, Bu. Apakah AC nya sudah cukup dingin?”, Supir bertanya kembali.

“Naikin jadi 2 ya, Pak. Panas banget nih”, kata si Ibu.

Taksi mulai berjalan, mengambil jalan menuju daerah Kebon Sirih dan menembus kemacetan di Tugu Tani. Kedua penumpang membahas pembicaraan mereka sebelum memasuki taksi tadi. Belum sampai di perempatan Pasar Senen, telepon genggam sang Supir berbunyi. Jalanan masih macet karena lampu merah, Supir pun meminta izin pada penumpang untuk mengangkat teleponnya.

“Maaf Bapak dan Ibu, boleh Saya angkat teleponnya?”

“Silahkan, Pak”.

Sang Supir mengangkat teleponnya.

“Halo, Assalamu’alaikum, iya, ini sedang ada tamu. Mau nganter dulu ke Kelapa Gading.”

“Gimana keadannya sudah sadar?”, kemudian hening agak lama.

“Iya, kita tidak punya itu. Ayah sudah coba ke kantor tapi masih belum bisa karena belum tiga bulan.”

“Iya, Ayah usahakan. Tadi sudah minta tolong Pak Adi jualin TV kita, tapi susah karena yang mau beli pengennya LCD. Nanti kalo sudah terjual Ayah langsung ambil uangnya di Pak Adi dan kesana.”

“Kalau nanti Ibu telepon dari Kampung, bilang saja kita sehat semuanya ya. Jangan beritahu Ibu. Nanti Ibu khawatir. Nanti penyakit jantungnya kambuh. Sudah, kamu sabar dulu, tenang”, kemudian hening kembali.

“Dokter bilang apa? Iya, Ayah tahu kita harus bayar Rumah Sakit, Insya Allah nanti Ayah bayar. Dokter sudah bilang bayar separuh dulu, kemarin sudah bayar tujuh ratus ribu dulu. Kurang tujuh ratus nanti tunggu TV nya laku ya?”, ia mencoba menenangkan lawan bicaranya. Kedua penumpang yang ada di belakangpun menjadi hening. Mendengarkan sang Supir yang menelepon.

“Ayah belum sholat, kamu sholat dulu ya, kita berdoa sama Gusti Allah untuk kesembuhannya. Sekarang tenang dulu, tadi sudah dikasih oksigen dan infus kan? Dokter bilang apa? Kira-kira kapan dia sadarnya?”.

“Astaghfirullahaladzim, jangan berkata seperti itu. Doa orang tua akan didengar Allah. Jangan berkata yang tidak-tidak. Insya Allah, Gusti Allah mendengar harapan kita. Allah gak tidur kok.” Sang Supir mulai menangis.

“Kamu tenang ya, yang sabar. Jangan nangis terus. Jangan berpikiran kita akan kehilangan anak kita. Kamu sekarang ambil air wudhu, sholat dhuhur sama berdoa sama Gusti Allah. Abis nganter tamu nanti, Ayah juga sholat.”, suara sang supir mulai berubah, seperti menahan tangis. Namun tetap dengan suara yang bisa menenangkan lawan bicaranya.

“Allah tidak tidur, Allah dengar doa kita. Sudah jangan menangis. Ini memang cobaan. Ayah sedang menunggu kabar dari Pak Adi. Kata Pak Adi, ia akan telepon Ayah kalo TV nya terjual atau tidak. Nanti Ayah mau izin ke kantor, setelah dari kantor Ayah kesana ya”, ia menunggu jawaban.

“Iya, nanti Ayah kabarin kalo uang TV nya sudah ada. Ini Ayah juga dipinjemin temen tiga ratus ribu untuk nambahin bayar Rumah Sakit. Kamu yang sabar ya. Kita berdoa ke Gusti Allah semoga cepat sadar”.

“Ayah tutup teleponnya dulu ya, nanti Ayah kabari. Jangan lupa selalu doakan anak kita. Assalamu’alaikum”. Ia menutup teleponnya dan menyeka air matanya.

“Terima kasih Bapak dan Ibu, sudah mengizinkan saya mengangkat telepon” katanya dengan suara yang parau.

“Sama-sama, Pak. Siapa yang sakit Pak?”, tanya Si Bapak.

“Anak saya Pak”, jawab Supir.

“Sakit apa anaknya Pak?”, tanya si Ibu.

“Demam berdarah, Bu. Sudah hari kelima panas, sudah keluar darah dari hidung dan mulutnya. Hari ketiga lalu dibawa ke klinik, tapi kata dokternya itu hanya panas biasa. Tapi semakin lama semakin panas, akhirnya dibawa ke Rumah Sakit dan sampai sekarang masih belum sadar”, Supir kembali menyeka matanya dengan lengan bajunya. Suaranya masih parau. Ia masih menahan tangisnya.

“Saya tidak ada BPJS. Saya juga bukan penduduk KTP Jakarta. Kemarin saya disuruh bayar satu koma empat juta rupiah. Tapi alhamdulillah dokternya baik, saya diminta bayar separuhnya dulu. Tapi hari ini harus dibayar lunas”, ia kembali melanjutkan.

“Saya minta bantuan tetangga saya untuk menjual TV saya saja. Tapi ternyata tidak semudah itu. Rata-rata orang mintanya TV LCD, punya saya masih TV lama”, ia bercerita.

“Dari kantor Taksi Bapak, apa tidak ada asuransinya, Pak?”, si Ibu bertanya.

“Ada, Bu. Tapi saya harus jadi pegawai minimal tiga bulan dulu, sebelum akhirnya mendapatkan asuransi itu. Saya baru dua minggu jadi supir taksi, Bu. Saya baru sebulan lebih dua hari pindah ke Jakarta.”

“Di Jakarta, Bapak tinggal dimana?”

“Saya tinggal di Jakarta Barat, Pak. Disana sebulan tujuh ratus ribu rupiah, temboknya triplek, ruangannya kecil. Disini kontrakan mahal-mahal ya, Pak”, suaranya masih parau saat menjawabnya.

“Bapak asalnya mana?”

“Saya dari Kuningan, Pak. Di Kabupaten Kuningan perbatasan dengan Cirebon. Dekat Kraton.”

Taksi melaju di jalan Boulevard Kelapa Gading. Saat itu kondisi jalan padat merayap. Di dalam taksi hening. Sesekali sang Supir masih menyeka air matanya yang terus turun dengan lengan bajunya.

“Maaf ya Pak, Bu. Jalannya macet”, kata Supir.

“Tak apa, Pak. Kami tidak buru-buru”, jawab si Ibu.

Sesampainya di tujuan, penumpang bertanya berapa total biaya perjalanan.

“Lima puluh enam ribu dua ratus rupiah, Pak. Mohon diperiksa kembali agar tidak ada barang bawaan yang tertinggal di taksi. HP dan tasnya mohon diperiksa”

“Ini biaya taksinya. Dan sisanya, ini dari kami, mudah-mudahan bisa membantu biaya perawatan anak Bapak”, kata penumpang laki-laki sambil menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah.

“Kami doakan anak Bapak cepat sembuh Pak. Dan Bapak yang sabar ya”, tambah si Ibu.

Supir taksi itu kaget dan sangat tergesa-gesa berkata, “Terima kasih Bapak dan Ibu. Terima kasih. Alhamdulillah. Baik Bu. Terima kasih.”

Kedua penumpang itu menutup pintu taksi dan berjalan menjauh. Dalam hati keduanya berdoa, semoga sang anak cepat sadar dan cepat sembuh, semoga doa-doa kedua orang tuanya dikabulkan, dan semoga mereka diberikan jalan keluar atas masalah mereka.

 

 

Jakarta, 26 Februari 2017

Dilihat 84