Coffee Latte #Part1

Febrianti Fitriani
Karya Febrianti Fitriani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Juli 2016
Coffee Latte #Part1

Malam itu jalanan tampak basah, bau petrikor menyeruak masuk hingga rongga dada. Kendaraan dan manusia sibuk bergerak tak tentu arah - Jakarta tidak pernah tidur. Panggung kecil disudut ruang ini mengalunkan nyanyian merdu yang tercampur nada gitar musisi jalanan.

“kenapa selalu latte?”, tanyamu menghamburkan lamunanku.
“gak apa, enak aja”, jawabku asal.
“katanya setiap jenis kopi punya filosofi kepribadian si penikmatnya tau”, kamu berhenti sesaat untuk menyeruput espresso dihadapanmu. “penikmat espresso itu orangnya simple juga tegas. Oh ya latte kan perpaduan pas antara espresso plus susu. Katanya sih mereka penikmat latte termasuk orang yang serba ribet”, lanjutmu mengalihkan acuhanku.
Aku hanya mengangkat sebelah alis sambil menatap lekat ke arahmu. Kamu tersenyum tipis.

"minggu depan aku berangkat ke Manhattan”, katamu tiba-tiba. Aku terdiam - beberapa menit. 
“Oh iya? bagus dong! Congrats ya”, jawabku kala itu. Aku hanya tersenyum sambil mengarahkan pandanganku ke arah lain menutupi keterkejutanku - yang penting tak menatap ke sepasang mata dihadapanku.
Kemudian kita hanya terdiam. Sibuk dengan pikiran kita masing-masing. Kamu hanya menatap secangkir kopi di hadapanmu - dan sesekali melirik ke arahku. Sedangkan aku menatap kosong pada jalanan dibalik kaca ruangan segi empat ini.

“kamu udah kabarin dia?”, tanyaku dengan suara sedikit bergetar. Sial! Suara dan pertanyaan macam apa ini, pikirku dalam hati.
“ya. Dan aku janji tetap nunggu dia sama seperti empat tahun lalu, sampai waktu yang tepat”, jawabmu sambil menatap sayu tepat pada bola mataku - aku tidak cukup paham arti tatapanmu kala itu.

Napasku memburu, kali ini dadaku terasa sesak. Aku merogoh tas disampingku, mencari kotak itu. Sial! Aku mengutuk diriku untuk kedua kalinya dan tanpa sadar menyuarakan pikiranku.
“Kamu kenapa? Engga bawa obat, eh?”, tanyamu dengan nada khawatir. Ya. Kamu masih saja jadi orang yang paling mengerti gelagatku sampai detik ini. Aku hanya tersenyum miris membalas tatapanmu sambil menyesap secangkir latte dihadapanku. Udara di ruangan ini habis, serasa terserap black hole tak kasat mata. Dan hujan diluar sana seperti bekerja sama pada skenario kali ini, mendramatisir suasana.

Aku dan kamu seperti Jakarta dan Manhattan. Terpisah jarak juga waktu.
Aku berdiri memandang matahari terbit, sedangkan kamu akan pergi mengunjungi mimpi tentangnya.
Dan kala aku lelah menghitung bintang, kamu akan menggeliat bangun dari tidurmu, bangun untuk menepati janjimu empat tahun yang lalu.
Dan begitu seterusnya - sehingga kisah kita hanya jadi bait kata tiada akhir.

Malam itu adalah kali terakhir aku menyesap secangkir kopi dihadapanku - karena kehilangan alasan untuk meminumnya. Pahit dan manis memang perpaduan yang pas. Seperti latte. Dan aku mengerti filosofi secangkir latte kali ini.

  • view 164