Kedai kopi dan 32 tahun

fayza sari
Karya fayza sari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Juni 2016
Kedai kopi dan 32 tahun

Nomaden, 10 Mei 2016.

Kami suka kopi, meskipun kadang kami memesan kopi dengan jenis yang berbeda. Maka hari itu kami memutuskan untuk bertemu di sebuah kedai kopi. Kedai kopi yang aman di kantong ketika akhir bulan (hehe) namun menyajikan kopi berkualitas dengan view kota Malang yang mahal. Tepat di tengah kota.

Hari itu dan beberapa hari sebelumnya, pekerjaan bikin saya pening. Sering megang kening dan di siang hari selepas Dhuhur saya berkaca dan berbicara dengan diri sendiri, “Faiz, faiz, kalo sedikit-sedikit dipikir, kayaknya kerutan akan bertambah.” Oh nooo.

Lega ketika saya inget, di sore hari saya berjanjian dengan Fifit dan Rendi (sepasang suami istri) untuk mengopi sembari (mungkin) menertawakan diri sendiri. Hehe. Kedai kopi favorit kami menjadi penyemangat saya hari itu untuk segera menyelesaikan pekerjaan dengan fokus, lalu merapikan meja kerja dan ruangan, me-list pekerjaan di esok hari, lalu pulaaaaaang. Meninggalkan sedikit kejenuhan di laci meja kerja. Lalu perjalanan di angkot saya udah mikir, nanti pesen es kopi hitam. Kangen americano. Yang nemenin nyelesein tugas pas kuliah. Kangen kuliah. *mewek*

Jam 18.00 tet, kita bertemu. Suasana kedai kopi menyenangkan. Berlampu warna kuning, dengan keramahan barista yang tiada duanya. Dan view di bilangan basra (Sebutan untuk jalan Basuki Rahmat, namun sebutan yang paling terkenal adalah jalan kayutangan) yang pasti kalau pindah keluar kota, jalanan ini bikin kangen setengah mati. Mumpung belum ditakdirkan Allah untuk pindah, maka saya menikmatinya. Hehe.

Disambut sapaan cool Fifit dan Rendi, belum dipanasin ya. Jadi masih cool. Entah kenapa hari itu, Rendi ribet. Nyobain meja-lah, atau maksa foto-in saya lah. Biasanya kalo Rendi ribet, pasti Fifit marah. Nah beda hari itu. Fifit senyum-senyum aja, meskipun tetap cool.

Eh btw, niat pesen kopi hitam tadi, tiba-tiba pudar. Hehe, kali ini kopi susu coklat. Dengan metode seduh, yang pake alat penyaringan gitu. Kopi udah kayak perempuan ya, ribet. Hehe.

Biasanya kami mengopi berdua, dan beberapa tahun belakangan, setelah Fifit menikah, maka kami sering mengopi bertiga. Dan beberapa tahun belakangan ini, banyak kejadian berat yang saya alami, dan Allah mengirimkan 2 pasang telinga yang rela dengar keluhan dan kadang tangisan saya, dan dihibur pula dengan cerita ajaibnya Rendi yang bikin ngakak. Ya Allah, semoga Allah juga mengirimkan sesosok yang sebaik mereka untuk melengkapi persahabatan kami. Hehe. Diaminin ya pemirsaah.:)

Balik lagi ke hari itu, setelah becanda-becanda dan saling menanyakan kopi pesanan masing-masing, tibalah salah satu mas barista datang dengan membawa nampan berisi cup cake ber-lilin lalu back-sound yang tiba-tiba berganti lagu ulang tahun. Malu? Iya, terharu? Ya iyalaaaah.

.

Nomaden, 10 Mei 2016

Fellas, hari itu berat banget. Dan ada mereka yang rela nasehatin panjang kali lebar sama dengan luas adalah bikin saya mewek pas nyampe rumah. Setelahnya bukain tumpukan kado dan surat dari mereka.

Terima kasih untuk Fitrotul Maulidiyah dan Rendi Yoga Saputra, untuk doa kalian dan selalu ada di saat berat sekalipun. Dan juga yang meminta ijin ke mas-mas barista supaya hari itu Nomaden menetap di hati saya. Hehe. Apasih.

“Habis gelap, terbitlah terang.” Mengutip kata Bu Kartini di potongan suratnya Fifit. What can i do without you, dengan nasehat panjaaaang. Membenarkan ketika benar dan menyalahkan ketika salah.
Yes, she’s taking care everything for me and make sure i got the best. Lalu mengingatkan bahwa saya berhak bahagia.

And this crazy in life,
And trough these crazy time.
It’s you, it’s you.
You make me sing
You’re every line,
You’re every word,
You’re everything.
-Everything, Michael Buble-

(Nomaden dan backsound malam itu, terima kasih)

Rumah Aries | 22 Mei 2016

 

  • view 97