Saat keangkuhan berujung pembelajaran

Fauzi Noerwenda
Karya Fauzi Noerwenda Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Januari 2017
Saat keangkuhan berujung pembelajaran

Awal tahun 2016 silam, saya melakukan perjalanan ke Yogyakarta bersama Pak Hilman, Teh Nati dan Nurul. Kami berempat pergi dalam rangka belajar dan mengeksplorasi diri melalui perjalanan.

Kereta adalah kendaraan yang kami pilih sebagai teman perjalanan. Dengan jarak tempuh yang cukup lama, saya merasa bahwa selama perjalanan di kereta akan banyak pembelajaran yang saya ambil. Benar saja, belum juga sampai Yogyakarta, kumpulan hikmah mulai berdatangan.

Berawal dengan interaksi dengan teman duduk yang membersamai perjalanan. Kami banyak ngobrol terkait kehidupan karir serta mengenal lebih dekat. Saat itu kami belum terlalu dekat, sehingga perjalanan tersebut mendekatkan jarak serta ruang hati kami berdua.

Darinya, saya belajar tentang perjuangan. Iya, hidup memang tak akan pernah lepas dengan perjuangan. Tak ayal, apa yang kita inginkan dalam hidup akan membutuhkan perjuangan untuk mencapainya.

Obrolan tersebut makin membuat saya tak sabar untuk segera tiba di Yogyakarta. Kota yang penuh dengan cinta dan juga kenangan. Sebagian orang mengatakan bahwa Yogyakarta adalah tempat syahdu dalam belajar dan menumbuhkan cinta. Benarkah?

Hingga akhirnya saya terlelap dalam perjalanan dan tanpa terasa sudah sampai di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Akhirnya, perjalanan yang ditunggupun akan segera dimulai.

Selama di Yogya, kami mengunjungi beberapa tempat. Dari mulai Candi Borobudur, Gua Pindul, Maiyyah Cak Nun serta Malioboro.

Kalo saya ceritakan semua, kayaknya bakal panjang banget dan bisa jadi cerpen mungkin. Hahaha. So, saya hanya akan ceritakan satu kisah menarik yang membuat hidup saya mengalami perbedaan. Kisah yang akhirnya membuat saya bertemu dengan kehidupan yang penuh dengan cinta.

Berawal saat kami pergi jalan malam di seputaran Malioboro. Karena masing-masing dari kami mempunyai target yang berbeda, akhirnya sesi jalan di Malioboro terbagi menjadi dua grup. Saya pergi dengan seorang teman dan kedua guru saya pergi berbarengan.

Sambil melanjutkan interaksi, kami pun berjalan menyusuri sudut daerah Malioboro. Berbagai took kami kunjungi untuk mencari oleh-oleh bagi keluarga di rumah. Sampai akhirnya kami berdua tiba di sebuah toko, yang kalo tidak salah namanya adalah Batik Komar. Tempat dimana ragam batik serta budaya jawa dijual.

Dari sinilah saya mendapat pembelajaran yang terus saya ingat hingga saat ini. Tentunya, saat kejadian berlangsung saya tidak menyadari hal tersebut. Saya merasa baik-baik saja dan tetap menjadi Fauzi yang apa adanya.

Feedback tersebut hadir saat perjalanan usai dan kami melanjutkan interaksi saat berada di kereta menuju  Bandung. Karena saya senang belajar dan  bertumbuh, maka saya meminta feedback dari teman yang membersamai saya selama perjalanan.

Ada dua pertanyaan yang saya ajukan.

  1. Satu kata atau sifat yang menggambarkan diri saya.
  2. Momen yang paling diingat tentang saya.

Well, jawabannya cukup membuat saya berpikir dan tergerak untuk berubah. Dan taraaaa, ini dia jawabannya.

  1. Pembelajar yang angkuh. Why?

Hal positif: angkuh dalam belajar, membuat bertambahnya ilmu yang dimilikinya. Dengan sifat pembelajarnya, Nurul seneng banget liat beliau aktif. Mungkin karena beliau dilahirkan hiperaktif.

Hal negatif: karena keangkuhannya tak mau disalahkan.

  1. Momen yang paling diingat saat jadi asisten di Yogya, saat berjalan malam di Malioboro. Why? Karena baru pertama jadi asisten orang angkuh.

Sometimes, sejak kejadian itu saya berpikir. Benarkah saya seperti itu?

Awalnya saya merasa enggan mengakui hal tersebut. Namun tiba-tiba saya merasa, “jika hal itu enggan saya akui, mungkinkah saya benar-benar angkuh?”

Perlahan saya mulai luluh dan mencoba menerima setiap masukan yang hadir. Akhirnya saya menyadari satu hal. Ternyata selama ini banyak orang yang kecewa atau mungkin tersakiti karena keangkuhan saya. Saya pun mendapati kabar bahwa Nurul sempat sebel ketika di Malioboro karena malah jadi asistennya. Padahal tak ada niatan sama sekali untuk menganggap dia sebagai asisten.

Sambil menghembuskan nafas, saya mencoba merasakan kejadian demi kejadian. Ya, saya mesti sadar. Bukan kali ini saya angkuh. Bukan kali ini saya egois. Lalu seberapa sering?

Saya coba gali lebih dalam, “apa yang membuat orang beranggapan saya angkuh?” Ternyata, salah satu akarnya karena saya TIDAK PEKA!

Tidak peka dengan sekitar, tidak peka dengan teman dan lainnya. Barulah muncul pretelan cerita dari Nurul yang membuat dia kesal dengan saya. Dari mulai Nurul yang bawa tas saat jalan di Malioboro sementara saya nggak dan banyak hal lainnya.

Jlebbb!!! Dan disitulah saya akui, iya saya memang GAK PEKA!

Perjalanan pulang pun terasa panjang. Banyak hal yang akhirnya saya sadari. Banyak hal yang awalnya merupakan blind spot bagi saya, kini menjadi hal yang bisa saya perbaiki.

Lalu kenapa saya tulis cerita ini?

Alasannya sederhana. Saya percaya setiap orang bisa berubah asalkan mau belajar. Sudah setahun sejak kejadian itu, saya pun tetap belajar. Apakah saya sudah berubah jadi orang yang tidak angkuh dan mulai peka? Belum juga.

Perubahan itu tidak instan. Butuh proses yang boleh jadi memakan waktu. Tapi saya terus belajar agar sikap tersebut tidak terulang dan perlahan saya menjadi semakin peka dan tidak angkuh. Jadi, jangan pernah berhenti untuk belajar dan jadilah pribadi terbaik dengan terus belajar.

Tulisan ini juga hadir sebagai ucapan terima kasih kepada Pak Hilman, Teh Nati juga Nurul yang sudah membersamai saya selama perjalanan.  Kalian sudah memberikan banyak hal dalam kehidupan saya. Banyak hal berubah dan menjadi lebih baik saat bersama kalian. Terima kasih banyak.

Juga teruntuk Nurul Fadhilah, terima kasih banyak untuk semuanya. Agar semakin lega, saya pengen minta maaf lagi atas rasa kesal yang kamu alami karena keangkuhan diri yang tak disadari.

Sampai jumpa di kehidupan yang lebih indah dan penuh dengan tantangan. Moga-moga kedepannya, apapun tantatangan yang hadir, kita bisa melewatinya dengan rasa tulus dan sikap bijak. Karena sejatinya tantangan hadir sebagai upaya agar diri kita terus bertumbuh.

Ditulis dengan penuh cinta.

Bandung, 11 Januari 2017

Fauzi Noerwenda

 

  • view 77