Hati-hati, Si Mata Satu Mengancam Berjuta-juta Mata

Fauzi Muhammad
Karya Fauzi Muhammad Kategori Lainnya
dipublikasikan 12 Februari 2016
Hati-hati, Si Mata Satu Mengancam Berjuta-juta Mata

?Hati-hati, Si Mata Satu Mengancam Berjuta-juta Mata?

Oleh: Muhammad Fauzi Amirulloh

Salah satu tanda akan berkahirnya zaman ditunjukkan oleh peristiwa kedatangan Dajjal yang akan menguasai lingkaran bumi. Seperti manusia pada umumnya, Dajjal memiliki sepasang mata. Namun, dalam satu riwayat disebutkan bahwa mata sebelah kanan Dajjal buta, sedangkan mata sebelah kiri masih bisa memantau. Tersebutlah Dajjal sebagai sang mata satu. Diriwayatkan bahwa mata kanan dajjal hilang penglihatannya, sedangkan Nabi Isa hilang penglihatan kirinya. Ini mengartikan bahwa Dajjal tidak memiliki akhlak terpuji, sedangkan Nabi Isa memiliki keluhuran akhlak yang tinggi. Manusia yang disebut Dajjal dan dijuluki sebagai mata satu itu benar-benar ada. Dia adalah sesosok manusia yang diberikan kelebihan oleh penciptanya. Namun, selamanya ia tidak akan taat kepada Allah. Kelak, ia akan menggunakan seluruh kekuatan dan kelebihannya untuk menggiring dan mempengaruhi manusia menjadi pengikutnya untuk memerangi Agama Allah.

Banyak analogi yang merepresentasi mengenai mata satu ini. Adalah televisi, sebuah piranti yang memiliki deskripsi layaknya mata satu. Televisi adalah jelmaan Dajjal dalam bentuk benda mati, namun tetap memiliki ?nyawa?. Piranti ini merupakan alat penampung berbagai senjata yang dapat menyerang pikiran dan perasaan. Hasil penelitian A. C. Nielsen menunjukkan bahwa hampir 40 juta rumah tangga di Indonesia memiliki televisi. Setiap harinya, jumlah penikmat siaran televisi di Indonesia mencapai 55 juta pemirsa. Konsumsi media televisi masih mendominasi konsumsi media di Indonesia, yakni mencapai 94%. Dalam sehari, masyarakat penikmat televisi di Indonesia menghabiskan sekitar 4,5 jam untuk menonton program televisi.

Ironis, ketika fakta lain menunjukkan bahwa peringkat atas rating dan share televisi didominasi oleh program-program bualan yang tidak memiliki esensi berkualitas. Akibat yang terjadi tidak mungkin tanpa sebab. Pertelevisian adalah lahan bisnis yang menggiurkan. Bagi pelaku bisnis ini, ?wajib? hukumnya untuk menggunakan berbagai cara agar program yang disajikan mendongkrak rating dan share, meskipun tidak berkualitas sama sekali. Tak pelak, konsumsi media televisi yang menembus angka 94% akan mempengaruhi mindset masyarakat Indonesia yang secara tidak langsung digiring ke arah yang negatif, layaknya Dajjal yang kelak akan mempengaruhi umat manusia untuk mengikuti jalan sesatnya.

Lewat media televisi, masyarakat gencar diasupi faham hedonisme atau cinta dunia. Mayoritas siaran televisi mengajarkan masyarakat untuk terpaku pada kesenangan semata tanpa hikmah, sekaligus memberikan pengaruh kesedihan terhadap masyarakat. Katakanlah, program komedi yang menayangkan tingkah-tingkah pelawak yang memancing tawa. Tidak jarang, mereka saling melemparkan perkataan-perkataan kotor dan kasar yang tidak selayaknya diucapkan hanya demi mengundang tawa. Bahkan, aksi mentoyor kepala sudah menjadi hal lumrah. Setali tiga uang, liputan kemewahan para artis yang dikemas melalui acara infotainment atau gosip menyimpan luka tersendiri bagi masyarakat yang berada di bawah garis standar perekonomian. Mereka hanya mampu menelan ludah saat melihat kehidupan mewah para artis yang diekspos ke permukaan. Sebagai muslim, kita tahu bahwa agama Islam mengajarkan perilaku terpuji dan memerintahkan umatnya untuk menutup aib saudara seimannya. Tapi lihat saja, acara gosip mengumbar segala macam keburukan seseorang. Dampaknya, masyarakat luas mengetahui dan otomatis terus dijejali aib-aib para pelaku hiburan. Pada akhirnya, ghibah dan fitnah terus meluas dari mulut ke mulut. Kondisi ini diperparah oleh maraknya program televisi yang ditujukan untuk mendoktrin pola pikir remaja. Hampir semua stasiun televisi memiliki program yang digandrungi para remaja. Lewat tayangan sinetron, mereka menggempur remaja dengan adegan-adegan yang berbenturan dengan ajaran agama. Inilah salah satu senjata ampuh untuk melenyapkan akal sehat para remaja. Televisi memborbardir kesehatan ruhani remaja dengan menembakkan peluru faham-faham yang menyesatkan.

Beberapa bulan yang lalu, pernyataan seorang doktor berkebangsaan Israel yang bernama Dr. Malhom Akhnauf sempat menjadi viral di internet. Dia adalah pemrakarsa sebuah program televisi internasional yang bertujuan untuk menjauhkan umat muslim dari agamanya. Begitu bahayanya pengaruh televisi terhadap kehidupan umat islam, khususnya di Indonesia. Televisi memberikan ruang seluas-luasnya untuk menyebar fitnah berdasarkan opini terselubung yang diprakarsai oleh pengendali media dan pihak tertentu yang ingin melancarkan kepentingannya. Beberapa waktu yang lalu, Indonesia sempat dihebohkan dengan pemberitaan mengejutkan yang ditayangkan salah satu stasiun televisi. Disebutkan, bahwa ekstrakurikuler agama di sekolah atau biasa disebut rohis adalah sarang teroris. Tentu saja hal ini menjadi kekhawatiran para orang tua yang termakan fitnah untuk menjauhkan umat dari agamanya. Dengan mudahnya fitnah televisi disebar dan memakan banyak ?korban? hingga menyebabkan sesat fikir dan menjauhkan manusia dari agamanya.

Jika ditinjau kembali, keberadaan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atau Lembaga Sensor Indonesia (LSI) tidak membantu dalam pengontrolan siaran program televisi yang tepat untuk disuguhkan. Seakan-akan KPI dan LSI tidak mampu memilah program yang layak tayang. Buktinya, program televisi didominasi acara yang tidak memiliki mutu untuk kemajuan negara. Tak bisa disangkal, peristiwa ini memiliki tujuan khusus untuk menghancurkan umat. Ditambah sistem kapitalisme yang sudah merasuk di dalam diri landasan negara saat ini, mengakibatkan manusia-manusia pelaku bisnis khususnya pertelevisian, menggunakan berbagai cara untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempedulikan nasib anak cucu mereka di masa depan. Akankah kebathilan ini akan terus menggerus pola pikir masyarakat negeri ini? Atau si mata satu akan mengakhiri zaman ini dengan kehancuran?

Sudah saatnya, kita harus waspada terhadap ancaman serius ini. Upaya untuk mencegah berkembangnya pengaruh tayangan televisi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Kita harus benar-benar menerapkan sistem pilah super selektif. Baik dalam memfilter informasi atau menikmati tayangan mana yang bisa memberikan manfaat terhadap kehidupan kita. Selain itu, kita dapat saling menuntun dan bertukar fikiran untuk mencapai titik solusi. Sudah umum diketahui, bahwa keluarga adalah sekolah pertama bagi semua orang. Interaksi keluarga yang baik, bisa menjadi media sebagai ruang untuk diasupi saran-saran konstruktif dalam pembentukan pola pikir masing-masing keluarga, dalam melihat mana yang baik dan mana yang tidak baik, khususnya melihat unsur yang terkandung dalam program tayangan televisi. Adanya bimbingan, arahan, dan perhatian dapat menjadi satu kekuatan yang mampu menghindari kita dari bahaya ancaman tayangan televisi. Bisa jadi, dengan sinergitas elemen-elemen positif, seperti kebijakan pemerintah bekerja sama dengan petinggi media televisi di Indonesia, untuk merencanakan program televisi yang lebih mengedukasi dan memberikan kontribusi untuk melesatkan prestasi masyarakat dapat terwujud sempurna, tidak parsial. Harapan di masa depan, kita akan menguasai media pertelevisian dengan segala kebermanfaatannya. Ini cita-cita besar dan membutuhkan langkah yang lebih besar pula. Sudah semestinya, jadikanlah Allah sebagi tempat bersandar, karena tidak ada yang lebih besar dibanding Dia yang Maha Besar.

?

?
?

  • view 285