MENUDUH

Fauzi Muhammad
Karya Fauzi Muhammad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
MENUDUH

Dentuman keras terdengar memekakkan telinga. Pintu digebrak sangat kencang. Pagi itu, suara kegaduhan tidak berhenti di ujung menit ke-lima. Tidak seperti biasanya, kemarahan tiba-tiba memberangus keluarga ini. Biasanya sebentar saja, hanya sebatas saling beradu argumen dan setelahnya akan mereda kurang dari lima menit. Namun saat itu, banyak barang-barang terlempar dan mengenai kaca jendela. Pecahan kaca berhamburan dan mengenai mata ibu. Ayah melakukan kesalahan yang tidak mungkin termaafkan. Ibu jatuh terkapar dan menangis karena kesakitan yang dirasakan. Sedangkan ayah hanya tertegun melamun, pandangannya kabur, seketika gelap, hilang kesadaran, ia tergeletak tak berdaya. Seorang anak laki-laki mengintip dari kejauhan di balik pintu kamar, ia melihat cairan merah mengalir di ujung kedua mata ibu. Ibu masih dalam kesakitannya, dan anak laki-laki itu masih dalam ketakutan dan tidak bisa berbuat apa-apa.

***
Satu hari sebelum kejadian itu, tidak ada permasalahan yang terlihat. Namun, ada hal yang dipendam ayah. Pertanyaan besar yang selalu memenuhi benak dan pikirannya. Ayah selalu sabar dan tidak memperpanjang masalah. Ayah tidak pernah menunjukkan kekesalannya, ayah sangat mencintai ibu. Namun, beberapa minggu belakangan ini, ibu menunjukkan sikap yang berbeda. Ia lebih banyak diam dan terlihat sangat murung. Dengan sabar, Ayah menemani ibu dan berkali-kali bertanya pada ibu, namun jawaban ibu selalu sama.
Ia hanya tersenyum dan menjawab, “Tidak apa-apa, ayah, hanya sedikit lelah saja”.


Bersamaan dengan perubahan sikap ibu yang demikian berbeda, setiap malamnya, ibu selalu menjaga jarak ketika tidur bersama ayah. Ia tak pernah bersedia lagi melayani ayah. Ayah benar-benar tersiksa dengan perubahan sikap ibu yang seperti itu. Tapi, ayah masih bisa sabar menghadapi masalah yang ia anggap sebagai ujian untuk rumah tangga mereka. Berminggu-minggu lamanya ayah menyimpan pertanyaan besar dan kekesalan yang belum terluapkan, menunggu waktu saja, ia membatin.
Suatu malam ketika ibu menolak permintaan ayah, ayah berbicara dengan nada kesal,
“Asal ibu tahu saja, kesabaran ayah ada batasnya.”


Ibu tetap diam tidak menanggapi. Ayah beranjak dari tempat tidur, ia keluar kamar lalu menggebrak pintu sekencang-kencangnya. Tanpa ayah tahu, ibu menangis sejadi-jadinya. Ia merasa bersalah karena telah mengecewakan suaminya berulang kali.

***
“Kau pikir, kau bisa melakukan semua hal semaumu? Aku sudah sabar menghadapi sikapmu yang tidak kumengerti. Tapi kau sama sekali tidak menghargaiku. Kau kenapa, hah?” Emosi ayah meluap-luap tak terkendali, ia benar-benar emosi. Ibu hanya terdiam sambil menangis dan tertunduk. Ia tidak bisa menjawab apa-apa. “Kau punya selingkuhan? Kau ingin bercerai denganku karena pria lain? Brengsek kau!” Emosi yang telah terbakar kekesalan membuat ayah berani menampar pipi ibu. Ibu terjatuh dengan kondisi pipi yang memar. Ibu menangis sejadi-jadinya.
“Ayah, percayalah, ibu tidak seperti itu.” Ibu membuka suara dengan terbata-bata, saranya lirih tercampur isakan tangis yang terdengar pilu.
“Lalu apa hah? Alasan saja kau!”
Hati yang sudah terjerembab gejolak emosi yang membara membuat akal pikiran ayah terputus. Ia memecahkan kaca dengan tangannya sendiri. Serpihan kaca mengenai mata ibu. Matanya berdarah, ibu kesakitan. Melihat keadaan istrinya yang seperti itu, seketika, kesadaran ayah kembali disertai rasa penyesalan yang sangat dalam. Ayah lemas tak berdaya, ia tak sadarkan diri.


***
Semenjak itu, ayah selalu berdo’a dan memberikan yang terbaik untuk ibu. Seperti saat sikap ibu belum berubah. Ayah selalu menangis taktala melihat ibu kesulitan karena kehilangan penglihatannya. Ibu tidak pernah menyalahkan ayah. Ibu sangat bersyukur mempunyai suami seperti ayah yang selalu mendampinginya saat sehat maupun sakit, bahkan sampai ibu dalam keadaan buta, ayah selalu mendampingi. Tiga bulan lamanya, ayah merawat ibu dengan sangat telaten. Ia berdo’a setiap malam untuk istrinya, ia menyiapkan makanan untuk istrinya, ia menyucikan baju istrinya, hingga ia lupa kebutuhan dirinya sendiri. Ia hanya ingin membuat istrinya bahagia. Ia ingin menebus penyesalan atas perbuatannya dengan memberikan segala hal terbaik dan terindah kepada istrinya. Nampaknya, ayah sudah menunaikan kewajibannya dengan baik sebagai suami. Sekarang, ibu sudah tenang. Sudah tidak menderita karena tidak bisa melihat. Ibu sudah menemukan kehidupan abadinya.
Ayah tak kuasa membendung airmatanya taktala mengingat masa-masa indah bersama ibu. Ia hanya ingin membersamai istrinya sehidup sesurga. Di dunia hidup bersama dan berbahagia di surga nanti.


***
Ayah, asal kau tahu. Aku adalah anak laki-laki yang sedang ketakutan saat itu. Aku sempat ingin memisahkan kalian berdua saat itu dan memberikan surat yang ibu berikan kepadaku. Tapi ibu memberitahuku bahwa surat itu harus disimpan hingga aku dewasa. Jangan sampai ayah tahu. Aku membaca surat itu, aku sudah berumur sepuluh tahun, aku mengerti isi surat itu. Ayah, kau tak bisa menganggap ibu perempuan seperti itu. Ibu mencintaimu ayah. Ia mengalami sakit yang tak bisa diungkapkan kepadamu. Sakit yang menyebabkan ibu tidak bisa melayanimu. Ayah, kau harus tahu, di usia senjamu kini, kau adalah suami yang setia pada istrimu. Aku melihatmu sering termenung menatap potret yang dibingkai pigura indah, foto pernikahan ayah dan ibu. Hingga saat ini, kau lebih memilih untuk duduk sendirian saja. Barangkali kau tidak akan pernah tahu alasan mengapa waktu itu ibu berubah. Yang perlu ayah tahu, bahwa cinta ibu pada ayah tulus, seperti tulus cinta yang diberikan ayah kepada ibu. Aku hanya bisa berdoa semoga cinta ayah dan ibu sehidup sesurga yang menetap dalam keabadian Tuhan Sang Penggenggam Cinta.

  • view 5.6 K