Mario Teguh, Figur Publik, Mata Masyarakat dan Kata Nuturi

Fauzia  Yani
Karya Fauzia  Yani Kategori Renungan
dipublikasikan 18 September 2016
Mario Teguh, Figur Publik, Mata Masyarakat dan Kata Nuturi

Menyikapi kabar tak sedap yang beredar saat ini tentang Mario Teguh, sejujurnya saya tidak merasa,
"oh,ternyata begitu.."

Mengapa? Padahal Pak Mario notabene motivator terkenal,bukan? Tentunya kabar ini sangat tragis mengingat sang motivator selalu memiliki banyak stok kata bijak, inspiratif,  serta publikasi perjalanan hidupnya yang romantis dan terlihat sempurna. Siapa sih yang nggak kepingin seperti itu?

Padahal sebenarnya, kasus kasus  semacam itu banyak sekali terjadi dalam masyarakat. Kasus yang berbanding terbalik soal siapa seseorang itu dan siapa sebenarnya seseorang itu.
Ah, masa sih? Iya.. betul. Hanya saja si aktornya bukan Figur Publik, orang terkenal atau sejenisnya. Melainkan hanya orang orang yang tidak luar biasa. Para wong cilik seperti kita. Mungkin saja ceritanya hanya jadi konsumsi tetangga sekitar, rekan kerja atau kawan sekolah. Nah, lain lagi kalau si aktornya sekaliber Mario Teguh. Berapa pasang Mata Masyarakat yang mengawasi gerak geriknya. Betul tidak?

Saya ingat, teman dekat saya dulu sekali pernah berpendapat soal memberi nasihat. Kalau orang Jawa bilang "Nuturi". Beliau bilang bahwa beliau tidak ingin "nuturi", sedapat mungkin tidak bersikap seakan bijak dan selalu berhati hati dalam memberi nasihat yang baik. Padahal teman saya itu termasuk sepuh juga. Tentunya pengalaman hidupnya lebih luas daripada saya.

Ya memang sih, kita semestinya saling mengingatkan dalam kebaikan. Tapi satu kata dari mulut yang terucap, kita menanggung beban untuk membuktikannya. Maka, berhati hatilah dalam "nuturi". Begitu kata beliau

Mungkin ya itu tadi. Apa yang terucap dari mulut kita, diminta pertanggung jawaban realnya oleh Pencipta Kehidupan. Nah, kalau kita ternyata gak bisa konsisten, yang terjadi ya seperti itu. Kasus yang berbanding terbalik. 

Saya kira, saya tak ingin ikut ikutan menghakimi mana yang benar mana yang salah. Toh, sayapun bukanlah manusia yang suci juga. Yang terpenting sekarang, bisakah kita hidup sedapat mungkin tetap konsisten di jalur yang benar. Tentu saja jalur yang benar itu tiap orang punya pandangannya sendiri sendiri.  

  • view 189