72 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Refleksi Kita dan Harapan Pejuang Terdahulu

Fauzia Azzahra
Karya Fauzia Azzahra Kategori Renungan
dipublikasikan 18 Agustus 2017
72 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Refleksi Kita dan Harapan Pejuang Terdahulu

Hari itu, pertanyaan Dokter Radjiman mengenai landasan filosofis negara sebelum kemerdekaannya ini membuat diam anggota BPUPKI yang hadir. Menurut kesaksian Bung Hatta dalam buku Politik dan Islam karya Buya Syafii, mereka tidak mau menjawab sebab khawatir akan mengundang perpecahan dan memakan waktu lama. Selain khawatir, rasanya juga bukan hal yang mudah berfilsafat dalam kondisi yang mendesak tersebut. 

Namun berbeda dengan beberapa tokoh lainnya, masih menurut kesaksian Bung Hatta, yang siap menjawab pertanyaan dr. Radjiman hanya Soekarno dan Muhammad Yamin dari golongan Nasionalis, serta Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah yang mewakili golongan Islam. Bung Karno dan M. Yamin mengajukan Lima Prinsip Dasar, sedang Ki Bagus Hadikusumo mengajukan Islam sebagai landasan Indonesia. 

Berawal dari dua pemikiran yang berbeda ini, BPUPKI membentuk panitia guna memusyawarahkan landasan tersebut. Kesembilan yang tergabung tak lain adalah Soekarno, Mohammad Hatta, M. Yamin, Wahid Hasyim, Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir, Achmad Subardjo, Abikusno dan A.A Maramis. Setelah melalui permusyawarahan, tepatnya pada tanggal 22 Juni 1945 lahirlah sintesis atau paduan dari kedua usulan tersebut, yakni Piagam Jakarta. 

Dalam Piagam Jakarta, Pancasila diterima sebagai dasar negara. Namun urutan silanya berganti. Pada tanggal 1 Juni 1945 Soekarno menyampaikan lima asas bangsa Indonesia dengan urutan: (1) Kebangsaan Indonesia, (2) Perikemanusiaan, (3) Mufakat atau Demokrasi, (4) Kesejahteraan Sosial, (5) Ketuhanan yang Maha Esa. Kemudian oleh panitia sembilan diubah menjadi lima sila yang kini lebih kita kenal sebagai Pancasila, dengan tambahan di sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Sampai di sini, kita mencoba menarik hikmah dari sejarah di atas. Bagaimana kira-kira jika kita yang berada di posisi tokoh-tokoh tersebut? Mendapati dua perbedaan pikir yang kemudian dirumuskan agar menjadi selaras. Bagi saya pribadi pekerjaan ini bukan pekerjaan orang-orang biasa. Di dalamnya ada sekumpulan cita-cita plus jiwa-jiwa besar akan negara ini. Tokoh-tokoh yang mampu menyampingkan ego untuk kebaikan bersama, tokoh-tokoh cerdas yang mengajarkan kita bagaimana beragama dan bernegara menjadi paduan yang kuat tuk lebih memajukan Indonesia.

Kemudian kita kenal dengan sejarah terhapusnya tujuh kata Piagam Jakarta, yaitu terhapusnya kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” pada sila pertama. Saya belum mendalami betul kronologi sejarahnya, hanya saja mari kita menilik bagaimana akhirnya kemerdekaan Indonesia disahkan dengan diawali pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. 

Entah pertolongan apa lagi yang Allah berikan kepada pejuang terdahulu, hingga lahir diksi yang membuat kita bertanya-tanya, siapa yang merumuskan pembukaan UUD kita ini? Mengatasnamakan Allah sebagai berkat pertama atas merdekanya negara Indonesia. Kita tentu mengenali kalimat pembukaan “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Tapi mungkin selama ini kita tidak betul-betul memahami, bahwa sejatinya inilah harapan tokoh-tokoh terdahulu untuk Indonesia. Negara yang bebas dan diberkati Allah. 

Tidak cukup di pembukaan UUD, ketika kita melihat kembali perubahan lima asas bangsa Indonesia menjadi Pancasila kini, lalu muncul lagi di benak-benak kita pertanyaan, bagaimana para tokoh merumuskan dasar negara menjadi lebih baik dan penuh makna dalam waktu begitu terbatas? Melahirkan kata hikmah, adil, beradab, yang bila kita kupas tuntas maknanya mungkin berlembar-lembar pelajaran yang akan kita dapat.

Adalah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yang telah menulis artikel mengenai kata-kata ajaib tersebut. “Maka ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan’ menggambarkan nilai sebuah sistem yang dikusai oleh semangat hikmat,” jelas beliau, “artinya sistem kenegaraan Indonesia harus berada di tangan orang-orang yang hakim. Yaitu orang yang berilmu hikmah, yang pasti tahu kebenaran yang berkata benar; yang tahu dan berani memutuskan yang salah itu salah dan yang benar itu benar; yang tahu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya; tidak akan pernah meletakkan kepentingan dirinya diatas kepentingan rakyat atau umat, tidak meletakkan perbuatan dosa atau maksiat dalam dirinya yang fitri dan seterusnya.” 

Tidak berpanjang mengenai diksi-diksi yang dipilih para tokoh di detik-detik kemerdekaan, kini saatnya kita merenung, mungkin banyak yang telah dikorbankan pejuang terdahulu hingga Allah memberikan hidayah-Nya melindungi bangsa dan agama ini. Mungkin hati-hati pendahulu tak lepas dari mengingat Allah sehingga Ia buka urusan demi urusan sampai kenikmatannya bisa kita rasakan sekarang. Lalu bagaimana kita? Apa yang tengah kita pikirkan, lakukan, perjuangkan untuk Indonesia lebih baik lagi? Apakah lantas bingung menyikapi sistem negara yang belum banyak sesuai harapan? Putus asa akan hutang-hutang yang semakin meninggi? Lalu menyerah dari peduli,  berbuat baik dan berprestasi hanya sebab aturan negara yang dipandang bukan urusan agama? 

Dr. Adian Husaini mengingatkan, bukankah justru di masa penjajahan lahir ulama-ulama pejuang mukhlis dari penjuru pesantren? Bukankah justru di masa penjajahan, api tauhid dalam dada umat muslim yang berkobar melawan kolonial? Bukankah justru di masa penjajahan, hati-hati besar bangsa Indonesia berpadu merangkul perbedaan dalam semangat satu, manusiakan Indonesia, adilkan Indonesia? Bukankah justru di masa genting tak berdayanya Indonesia, masih ada harapan-harapan tulus tuk generasi masa depan dari tokoh-tokoh kita terdahulu?

Maka apa yang tengah terjadi di negara ini, tetapkan yakin ada masa di mana Allah menguji orang dan bangsa yang Ia cinta. Ya, yang masih terdapat di dalamnya orang-orang yang senantiasa saling menasihati pada kebaikan dan terus menginsafi diri. Estafet harapan ini tak boleh terhenti. Lakukan apa yang bisa kita kerjakan. Manfaatkan peluang-peluang yang telah diperjuangkan tokoh-tokoh hanif terdahulu.

“Indonesia memang bukan negara agama, tapi Indonesia adalah negara orang yang beragama. Karenanya, keimanan merupakan unsur penting membangun negeri ini.” (KH. Zainuddin MZ)

Wallahu A’lam bis showab.

  • view 27