Santri dan Glamour dunia.

Fauzan Mauludi
Karya Fauzan Mauludi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 16 Juni 2017
Santri dan Glamour dunia.

Santri dan kerasnya Glamour dunia.

 

Persaingan secara mengglobal tidaklah lagi menjadi topik asing, semua manusia mendapat giliran dan tekanan dengan bergiliran.
pengusaha, musisi, enterpreuneur, pembisnis, pedagang, bahkan santri sekalipun yang di identikkan hidup di tengah keminiman  informasi dan teknologi, semua mendapatkan jatah secara adil.

Ada yang merasa dirinya mampu, dan ada pula yang merasa dirinya tidak mampu, dengan begitu mungkin setiap dari kita akan merasakan pentingnya sebuah pendidikan dari perguruan tinggi.


pendidikan yang di khususkan untuk mengejar sebuah gelar dan juga profesi.
untuk mengimbangi persaingan global, untuk mengimbangi persaingan yang tidak ada habis dan tiada henti-hentinya.

Ada yang kaya semakin menjadi kaya, dan da juga yang miskin makin miskin.

Hingga dalam keadaan ini semua merealistiskan pemikirannya, menjadikan pemikiran mereka sebagai pemikiran yang harus saja berkaitan dengan ilmu eksak (pasti), agar cita-cita yang di gapai dan di tempuh di dunia perguruan tinggi atau yang biasa kita sebut sebagai universitas itu tecapai dengan mulus dan sukses.

Semua orang berpikran bahwa kuliah adalah suatu hal yang menjadi formalitas, suatu yang harus menjadi keharusan di zaman ini, suatu yang harus saja di tekankan, karna khawatir dengan keadaan masa depan, karna khawatir dengan keadaan minimnya finansial dan juga rendahnya martabat jika tidak bergelar.

dan faktanya, memang begitu.

Berbeda dengan santri,

Memang kuasa allah menciptakan manusia dengan segala software yang di program secara otomatis, mereka beranggapan bahwa dunia hanyalah fatamorgana.

Loh, memangnya selain santri mereka tidak percaya dengan keadaan di hari pembalasan nanti?

Mereka percaya, tapi pada faktanya mereka lebih mengkhawatirkan kehidupan yang akan datang seperti masa depan yang cerah bukan dengan akhirat yang cerah.

Mungkin tulisan ini agak, kasar menilai dan menstigma kaum selain santri berpikir demikian, tapi memang pada faktanya seperti itu, walaupun tidak semuanya.

Lalu baiknya seperti apa?

Baiknya, seimbangkan keduanya, karna santripun di zaman sekarang sudah di arahkan untuk menjadi para pemimpin, untuk menjadi para pemegang saham-saham besar di Indonesia, untuk menjadi para generasi terbaik yang awalnya sudah di asah dan di tempa di lembaga yang mumpuni mencetak akhlak,  sehingga kedepannya mereka bisa mengendalikan diri dari hal-hal yang seharusnya tidak terjadi.

Mengapa demikian? Katanya santri tidak menginginkan hal-hal bersifat duniawi!

Siapa bilang?

Santri memang tidak mengedepankan duniawi, tapi siapa yang tidak greget dengan keadaan yang antah berantah seperti sekarang ini?

Fitnah dimana-mana, berita hoax tersebar seenaknya, website pornografi, politik kotor, korupsi, kolusi dan nepotisme, dan masih banyak lagi.

Mereka para santri hanya ingin merubah keadaan, apalah pentingnya hal-hal yang terlalu memberatkan mereka, mereka hanya sekedar butuh, mereka hanya sekedar ingin cukup.


cukup mengatakan kepada para orang kaya yang arogan, bahwa mereka tidak cukup kaya dari dirinya sebagai santri.

Memangnya siapa yang mengatur materi?

Banyak sekali mutiara-mutiara yang harus di cetak di lembaga bernama pesantren ini, di dalamnya terdapat bibit murni yang belum terkontaminasi glamournya kegelaan politik, gelapnya dunia, gelapnya keadaan sekarang.

Mereka hanya butuh fasilitas untuk menstabilkan keadaan sekarang, mereka hanya butuh di didik untuk  bisa menjadi lebih bak.

Seperti layaknya gusdur, sang santri, sang kyai yang memiliki hati terbuka, dialah santri pertama yang menjadi presiden.

Dizaman sekarang mungkin santri hanya di anggap sebelah mata, sosok manusia yang di nilai masa depanya tidak jelas, buram suram, karna apa problem utamanya?

Karna mereka minim materi?

Ya, tentu saja, karna mereka tidak bisa mencari uang, untuk masa depan.

Kalo, begitu, jangan salahkan untuk kalian-kalian yang hobi menyinyir santri dan lembaga pesantren bahwa dimasa kejayaannya, santrilah yang akan mensabotase aset-aset asing, merekalah para santri yang sudah di didik yang akan menjadi para penguasa, para pemimpin, para pemegang saham.

Sok tau. !

Aku tidak bisa berjanji banyak, tapi untuk merapatkan barisan, untuk meninggikan derajat para santri, untuk memegang teguh keislaman, berjanjilah, bertekadlah kalian para santri untuk menjadi manusia-manusia mulia yang dikenal di seantero dataran bumi dan bentangan luasnya langit.

dikenal oleh khalayak manudia dan tenar diantara para malaikat.

Caranya?

Bernegosiasilah dengan alah, adukanlah bahwa kalian dihinakan, adukanlah bahwa kalian butuh pertolongan allah, mintalah agar kalian dijadikan sebagai orang kaya yang dermawan, bagaimanapun caranya, mintalah agar allah menggerakannya.

Utamakanlah akhlaq dan juga ilmu, kuasailah semuanya dan buktikanlah bahwa kalian adalah Abdurrahman bin auf selanjutnya, semoga tercipta para pembesar dari kalangan santri yang bisa menstabilkan keadaan Negara dan bahkan dunia. Menguatkan agama dan meninggikan kalimah alalh, setinggi-tingginya.

Talk less do more, sedikit berbicara banyak bekerja.

pendidikan formal ataupun non formal, keduanya memang penting.
seimbangkanlah kedunya, dengan tetap mengunggulka di antar salah satunya, agama.

Berusaha sambil berdo’a.

Majulah.

 

  • view 69