Tangisan awal seorang santri

Fauzan Mauludi
Karya Fauzan Mauludi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Juni 2017
Tangisan awal seorang santri

Tangisan awal mondok.

Barangkali pesantren adalah hal yang tidak lagi asing di dengar oleh semua warga terkhusus Indonesia, sebuah lembaga yang menyajikan pendidikan formal dan non formal berbasis salafi ataupun modern.


sebuah lembaga yang mampu mendidik santri-santrinya untuk bisa menghadapi problematika umat di zaman sekarang, lembaga yang siap tempur dengan apapun dan dalam medan apapun.

Pendidikan yang ada di pesantren tidak lagi diragukan, banyak orang yang mengira bahwa pesantren adalah sebuah lembaga yang MADESU (masa depan suram). Mengapa demikian?

Karna pemikiran serta kerealistisan mereka terlalu terbelakang menilai sosok manusia bernama santri.

Karna dizaman sekarang santri sudah didik serta di bina untuk menjadi manusia yang berkemampuan multitalenta.

Tidak sedikit santri yang zaman sekarang yang sengaja di terjunkan di dunia perpolitikkan, pemerintahan, bahasa asing, teknologi, kedokteran, atau apapun saja, mereka sengaja di terjunkan agara bisa menjadi bukti bukan lagi sekedar retorika dan omong kosong belaka.

Tapi semua itu adalah perjalanan santri yang sudah berhasil melewati ujian –ujian mondok, dimana semua tercipta dan terkenang tiada habisnya.

Biasanya, ketika seseorang yang baru saja dinyatakan lulus di bangku SD atau SMP, dan orang tuanya merasa khawatir dengan pergaulan zaman yang terlampau bebas dan membahayakan, maka orang tua berinisiatif untuk memasukkan anaknya ke lembaga pesantren.

Dalam hal ini, orang tua kadang juga di timpa rasa plin plan, atau labil, atau juga sangat berat menyiasati setiap keputusan, banyak orang tua yang memilah milih, lembaga mana yang paling baik untuk anaknya, sebab awal penentuan cita-cita serta masa depan anak di tentukan di langkah awal ini.

Sudahlah, itu hanya sebuah pilihan, dan pada dasar dan hakikatnya hidup memang sebuah pilihan, apapun keputusan akhirnya, semua kembali pada hati dan skenario bernama takdir, kita di atur oleh sang maha pengatur, keputusan dan pilihan hati kita tak lepas dari aturan sang dzat yang maha agung.

Dan dari sinilah awal kita di latih untuk menjadi manusia yang tawakkakl sambil berikhtiar.

Barangkali, banyak anak yang berpikir bahwa dia adalah anak yang sengaja di buang orangtuanya ke lembaga bernama pesantren, karna pesantren hanya fokus dan menitik beratkan pendidikan ke ranah agama, banyak anak yang mengira bahwa dia telah di buang orangtuanya karna dia nakal, lalu dia di pondokkan.

Tapi lihatlah, nak, keputusan orang tua selalu tepat, mereka tidak serta merta menempatkan anaknya, mereka tidak asal menitipkan dan mendidik anaknya, mereka selalu berpikir untuk masa depan anaknya.

Seringkah kah kita sebagai anak ditanya, kau mau jadi apa nak?

Lalu kita menjawabnya dengan profesi-profesi tinggi seperti ingin menjadi dokter, atau arsitektur, atau juga, ahli matematika dan fisika. Dan semua itu dengan alasan-alasan sederhana.

Lalu apa? Mereka hanya tersenyum melihatdan mendengar kita sebagai anak menjawab demikian.

Lalu waktu terus berjalan, pola pikir serta keinginan yang kembali mengalami fase naik turun, kembali mengalami perubahan dengan segala alasan.

Dan itu sekilas untuk masa depan yang kita perbincangkan, kali ini kita akan memulainya dari seorang anak yang sengaja di tempatkan di pesantren.

Siapa yang tak mengalami rasa sedih dan berat hati ketika orangtua mendampingi kita untuk pergi ke pesantren, mereka menghibur dengan segala macam cara.

Membelikan kita makanan yang banyak atau uang yang lebih dari biasanya, membantu menyiapkan dan membereskan kasur serta lemari kita.

Lalu sesudahnya kita akan di ajak membicarakan hal-hal tentang kesungguhan dan bagaimana kita membahagiakan orangtua.

Nak, yang rajin yah di pondoknya, jangan kecewain mamah sama ayah, semoga kamu bisa jadi anak yang soleh.”orangtua”

Sebuah pembicaraan singkat yang membuat si anak terasa tertegun, tersontak, membuat tersedu dan mengeluarkan airmata cengengnya.

Dan disinilah awal cerita kita sebagai santri dimulai.

Iya mah, yah, do’ain ade yah supaya ade bisa jadi orang yang soleh dan banggain mamah sama ayah.

Lalu setelah itu mereka pergi dan meninggalkan kita sebagai anaknya untuk pertama kali.

Dan ternyata kita tidak sendiri, banyak orang sama senasib dengan kita, mereka juga manangis, mungkin tragdinya sama,

Sampai saat kita sampai kamar, semua belum ada yang berbincang  atau berkenalan asik, mereka masih sibuk dengan lemari dan makanannya masing-masing, atau bahkan uang saku yang sangat membahagiakan.

Tangisan pertama kita mungkin sangat bebanding dengan keberatan hati seklaigus kebahagiaan orangtua.

Mari mondok, masih banyak yang belum ita ceritakan di tempat ajaib yang biasa aku sebut dengan taman surga. Mengapa taman surga?

Karna bagiku pondok memang seperti surga, dan santri adalah para penghuninya.  

 kedepannya mari kita usut bagaimana santri berbcerita dengan pengalamannya, mari bantu dengan judul apa yang asik yang pernah kamu alami selama mondok.

Salam manis, Fauzan mauludi.

  • view 136