Surat untuk para orangtua

Fauzan Mauludi
Karya Fauzan Mauludi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 Juni 2017
Surat untuk para orangtua

Surat untuk para orangtua.

Surat ini didedikasikan untuk para orangtua, orang tua yang selalu menuntut hal ang berlebih kepada anaknya.

Surat ini terkhusus untuk para orang tua, orang tua yang sedang berproses mengarahkan anaknya.

Jika surat ini tidak sampai kepada setiapp orang tua, maka anaknya-lah yang harus meninformasikan kepada orangtua, tentang setiap gerik kehidupan, untuk setiap cita-cita yang tersimpan untuk apa saja yang menjadi sebuah angan dimasa depan.

Setiap manusia tentu mempunyai pemikiran dan cita-cita yang berbeda, barangkali itu sengaja diciptakan agar terciptanya keseimbangan kehidupan, hati yang mendorong danmempunyai jebis kesukaan yang berbeda, itu sengaja diciptakan agar dunia yang kita tempati ini begitu berwarna.

Didunia ini, atau disekitar kita, kita bisa melihat danmerasakan langsung, bagaimana kita memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan para karib, sahabat, adik, kaka, atau siapa saja.

Kita suka makan ayam, bisa saja adik kita lebih menyukai ikan daripada ayam, yang padahal menurut kita ayam lebih lezat untuk di santap.

Kita suka bertravelling ke tempat-temat eksotis yang memanjakan mata, menghibur diri sekaligus mengistirahatkan pikiran dengan hiruk-pikuk dunia, menghindari untuk sementara problematika kehidupan, tapi boleh saja, teman kita yang lain lebih suka menjadi orang yang menyendiri, lebih suka berinteraksi dengan dirinya sendiri lewat media yang membuatya merasa nyaman.

Atau ada teman kita yang lebih suka terhadap pelajaran matematika, yang padahal matematika itu cenderung menguras otak, dan kita lebih menyukai pelajaran biologi atau apapun saja yang berbeda dari teman kita itu.

Atau barangkali kita lebih memilih dan mencita-citakan menjadi dokter, karna masa depan yang menjajikan, dan di sisi lain ada teman kita yang lebih memilih menjadi aritektur atau memilih menjadi orang yang sibuk dalam dunia agama, atau apa saja, semuanya ini sengaja diciptakan berbeda.

Untuk itu para orang tua, haruslah mengarahkan anak, bukan memaksa anak untuk mengikuti kehendak orang tua, yang perlu dipahami disini adalah setiap anak mempunyai bakat terpendam, mempunyai keahlan masing-masing, para orang tua hanya perlu mengarahkan dengan baik, memaksimalkan potensi anak agar dapat mewujudkan apa yang didambakan dan dicita-citakan oleh anak.
karna mengapa?

Otak, keinginan, hati, dorongan jiwa, cita-cita serta pemikiran manusia berbeda-beda, skenario ini hanya perlu pemeran professional yang ahli dalam bidangnya.
karna tentu saja, setiap perkara yang diserahkan bukan pada ahlinya maka tunggu saja waktu kehancurnnya.

Seyogyanya, anak adalah sebuah amanat dari tuhan, dan di alam selanjutnya orang tualah yang akan dimintai pertanggung jawabannya, dalam konteks ini kita hanya membahas anak.

Buatlah kontrak dan diskusi dengan anak, dengan tujuan meyakinkan pilihan anak, jangan sekali atau dua kali, tapi lakukanlah berkali-kali.

Ketika anak memilih dan bercita-cita jadi dokter, ikutilah kemauannya, selama orang tua mampu.
bagaimana kalau tidak mampu, berilah pengertian pada anak, dan cobalah mencari solusi agar si anak tidak memberontak dan tetap hebat dalam pilihan keduanya.

Barangkali, kita bisa menyebutnya planning kehidupan kedua.

Tapi, jika orang tua mampu, bersiaplah mendukung secara penuh cita-cita anak.

Jangan seperti hukum newton I dan II, mereka selalu saja saling beradu dan tida kakur, adanya kontradiksi pemikiran antara anak dan orang tua anak  menimbulkan hal yang tidak diinginkan, belajarlah mengerti pada anak, bukan memaksa anak.

Kontrak perjanjian?

Ya, dalam hal ini seharusnya orangtua lebih mendidik anak, dengan membuat perjanjian semu, agar otak dan daya imun anak terpancing untuk lebih serius mempertahankan kemaunnnya, dengan demikian si anak akan merasa mempunyai beban kehidupan, yang harus di pertanggung jawabkan.

Tanya, pada anak, jika ini pilihan kamu, maka apakah kamu siap bertanggung jawab dan mewujudkannya secara sungguh-sunguh?

Secara hipotesis argumentatif, si anak akan mempunyai sebuah dorongan hati, sebuah target yang tidak bisa di abaikan, mengapa? Karna mereka anak- anak tidak ingin merusak kontrak dengan para orangtuanya, jika saja kontrak itu gagal diwujudkan, maka gagal pula si anak untuk membahagiakan orangtuanya.

Kontrak perjanjian bukan hanya sekedar cita-cita,ada juga kontrak perjanjian meliputi materi.


yap, materi juga menjadi bahan dasar, menjadi pokok yang mendorong lancarnya perjalanan anak menyongsong kehidupan di masa yang akan datang, sekali lagi anak adalah amanat.
jangan terlalu memanjakan anak, dan jangan juga mempersulitnya, buat perjanjian yang membuat tentram keduanya, kalkulasikan berapa jatah anak dalam tiap bulannya, dengan demikian si anak akan belajar menjadi orang yang mandiri dalam memanagement keuangan pribadi.

Jika saja orangtua, mempersulit dan tidak mau mewujudkan keinginan dan cita-cita anak, yang padahal si orangtua mampu, maka si anak akan menuntut balasan dan tanggung jawab, serta keadilan di alam selanjutnya.

Disana mungkin saja anak akan menyeret otrantuanya yang sedang berjalan menuju surga tetapi gara-gara anak yang sewaktu hidup di dunianya hak-haknya tidak terpenuhi secari baik dan adil, bisa saja si anak menyeret orangtuanya ke mahkamah keadilah di depan dzat yang maha adil.

Memangnya tega?

Disana tidak ada pandang bulu. So be careful before action.

Bagaimana jika orangtua tetap memaksa khendak, dan menyuruh si anak mengikuti keinginan orangtuanya.
perjalanan disini akan menjadi  Tumpang tindih, si anak akan melakukannya dengan sembrono, tidak sesuai keinginan hati, dan otomatis hasilnya fatal.

Sisi kekeluargaan akan melahirkan demokrasi kecil yang menuntut setiap anggota keluarga untuk berperan mendukung, dan mengarahkan kea rah yang lebih baik tanpa ada unsur paksaan, dan pada hasil akhirnya sehebat apapun perjuangan seseorang titik finisnya akan berporos pada dzat yang maha tunggal dan maha mengatur setiap takdir.

Maka libatkanlah alah dalam setiap langkah untuk menuju persiapan kehebatan.

Barangkali, tulisan ini tidaklah seperti tulisan-tulisan yang sebelumnya, karna tulisan kali ini cenderung lebih serius, dan melibatkan emosi.

Teruntuk ibu, sebagai pengatur segala hal dalam rumah tangga.

Aku tak ingin menyeretmu, aku tak ingin lidah ini bergerak dan bersuara secara otomatis, sebab menjadi orang hebat dimatamu, adalah tujuanku, agar apa?
agar ibu tidak merasa menyesala akan kelahirkanku, agar aku tidak hanya menjadi seorang figuran dalam keluarga.

Doa’ku senantiasa melangit, do’amu senantiasa mengetuk batas-batas pintu langit, lalu do’a kita akan berpadu meluncur dan menggetarkan arsy, wahai ibu sang pecinta, pengorbananmu tiada dua.

 

  • view 96