Polemik Kehidupan

Fauzan Mauludi
Karya Fauzan Mauludi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Juni 2017
Polemik Kehidupan

Polemik kehidupan

Kita hidup dimana semuanya serba realstis, semuanya serba mengedepankan materi dan teknologi.
apa lagi?

Rasanya memang hanya itu, lantas apa yang kita lakukan untuk menyikap persaingan secara meng-global ini?

Kita hidup dimana internet sudah masuk ke daerah pelosok, dimana kita bisa mengetahui kabar dan keadaan di Negara lain pada hari, jam dan detik itu juga, gadget yang sudah mendarah daging atau apapun saja, dan ini sudah menjadi polemik di era kekinian.

Tidak si kaya mauppun si miskin, entah si pemalas maupun si pekerja keras, semuanya berlomba untuk menjadikan dirinya lebih hebat dari sebelumnya, si kaya ingin menginginkan dirinya bertambah kaya, si miskin juga tentunya ingin kaya, siapa yang tak ingin kaya?
mereka mempunyai cara masing-masing untuk merubah keadaan ekonomi mereka dan keluarga mereka.

Si pekerja ingin kaya, si pemalaspun ingin kaya, mereka tetap berlomba merubah dan mencoba menyiasati hidup bernama takdir.

Apa ada yang salah disini?

Ya, disini ada yang salah, dengan keberlanjutan sepertinya tidak sedikit didunia ini merasa putus asa, mereka menganggap bahwa tuhan tidaklah adil, mereka beranggapan bahwa mereka hidup hanya sebagai penghias, hanya sebatas figuran pemeran dalam kehidupan, mereka  sebenarnya menunggu kapan ajal mereka tiba.
mengapa?

Sebab apa lagi yang mereka harapkan?
sementara itu berbalik dengan orang yang menginginkan dirinya bertambah kaya, rumah-rumah dibeli, mobil dibeli, tanah-tanah dibeli, saham perusahaan dibeli, bahkan jika langit dan lautan di jual maka mereka mungkin saja ingin membelinya, mereka cenderung lebih takut pada kematian, mengapa?

Mereka takut akan kematian. Mereka takut kemana harta mereka nantinya.

Apa ada yang salah disini?

Sudah kubilang hidp ini butuh nalar yang lebih mantap untuk mengurusi hal sosial seperti ini.

Dan semua jawaban pasti berporos terhadap bagaimana kita menjalani kehidupan kita sendiri, mengapa?
karna kita yang menjalani.

Kita hidup dan di terjunkan ke muka bumi bukan tanpa sebab, bukan hanya sekedar figuran dan peramai dunia, kita semua disini adalah pemeran utama dari perfilman kita sendiri.
allahlah, produsernya, kita pemain utamanya, skenarionya sudah di atur.
jangan Tanya allah se-professional apa?
tapi bertnyalah pada kita sendiri, mampukan kita memerankan peran yang sudah di beri allah?
professional kah kita?

banyak-orang-orang yang berkomentar atau seringkali menyinyir kehidupan kita, yang pada faktanya kehidupan dia sendiri tidak lebih baik dari pada kehidupan kita. Mengapa ?

itu sudah tabi’at manusia, karna mereka memang sering kali menilai seseorang, belajar untuk tidak menjadi seseorang seperti demikian, fokus pada kehidupan kita sendiri, rubahlah secara perlahan, negosiasikan semuanya pada sang pemilik kehidupan, berbaiki hubungan dengan allah.

Lalu?

Semua berporos dan berbalik, bagaimana kita menjalani kehidupan, dan bagaimana kita berhubungan dengan allah, menegosiasikan dan menyiasati takdir.

Jangan fokus pada polemiknya, itu memang sudah otomatis berjalan dan sudah sengaja juga diciptakan, untuk apa?
untuk mewarnai dan menciptakan kehidupan, karna kita butuh keseimbangan Dalam menjalaninya.

Terkadang hidup itu ada saja yang harus tidak dipikirkan, hidup juga ada saja yang harus dinikmati secara keseluruhan, mengistirahatkan pikiran terhadap problematika kehidupan yang tidak ada habisnya.

Lantas, jika hidup kita terus mengalami fase penurunan kehidupan dan kita juga merasakan ingin mengakhiri hidup bagaimana?

Itu, urusan anda dengan tuhan.

Hidup ini tanggung jawab, kita bertanggung jawab atas kehiudpan kita, sekarang dan di masa depan.

Kita bertanggung jawab atas pilihan kita, untuk sekarang dan masa depan, semuanya akan menunggu hasil dari pilihan yang kita pilih, tekadang manusia tidak ingin mengetahui proses, mereka hanya ingin menikmati hasil.
kita di tunggu atas setiap pilihan kita, oleh siapa?
oleh orang-orang tekasih dan keluarga kita, bertanggung jawablah.

Benahi lagi semuanya.

Jangan fokus pada polemik, fokuslah pada pembenahan diri.
kita yang menjalani, maka kita pula yang merubah.

  • view 95