hidup adalah tanggung jawab

Fauzan Mauludi
Karya Fauzan Mauludi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Juni 2017
hidup adalah tanggung jawab

Hidup adalah sebuah tanggung jawab.

Ini semua bermula ketika aku masih duduk di kelas 3 Aliyah program keagamaan di pondok pesantren dulu, semua kawan seperjuanganku ketika itu sibuk menguusi karya ilmiahnya masing-masing sebuah karya pribadi yang menjadi syarat kelulusan yang ada di pesantren kami tercinta.

Di samping itu, kami juga disibukkan dengan iming-iming kuliah yang sudah menggema dimana-mana, masing-masing dari kami sudah menentukan kampus idolanya, mengejar target sebuah cita-cita masa depan.
terkecuali aku, aku yang begitu santainya tidak ada angin yang mengarahkanku unuk meneruskan ke perguruan tinggi, semuanya berjalan datar, mengalir seperti air.

Saat itu kami mencoba mensiasati takdir kami masing-masing, takdir yang selalu saja menjadi tanda Tanya kehidupan, sebuah rahasia yang menentukan bagaimana keadaan kami di masa depan.
aku serius, aku tidak ada keinginan kuliah.

Namun keadaan dirumah berbeda ketika semua keluargaku menentutku untuk kuliah, entah jurusan kedokteranlah, perminyakanlah,teknik sipil atau arsitekturlah, semuanya.
namun saat itu hati kecilku berkata, untuk terus melaju di rel agama, dengan resiko yang sangat amat membahayakan, bukan saja dari segi tanggung jawab melainkan dari semua aspek.

Zan, kamu harus kuliah, kalo kam gak kuliah gimana masa depan kamu?”kata salah satu kakakku”

Saat itu aku yang masih bertingkah polos hanya mengikuti dan menuruti segala keinginan mereka, statemen tadi nampaknya agak rancu!
masa depan? Kasudnya materi?
setauku manusia memang sudah di jatah tentang rizki sewaktu di zaman azalinya, kanapa kita harus khawatir?

Gak, kak, fauzan mau tetep pesantren”jawabku sambil menundukkan kepala”

Mau ngapain kamu pesantren? Mau jadi kyai? Heh, asal kamu tau aja yah, keluarga kita gak ada darah buat kearah situ, cukup psantren dan mempunyai dasar yang bisa di manfaatin aja.”balasnya, dengan nada rada marah”

Dengan segala lika-liku, mencari celah dan alasan supaya aku bisa kembali pesantren.
saat itu posisiku masih sangat terikat dan sulit, sampai pada akhirnya aku di bawa orang tuaku ke guru yang memang berkompeten mengurusi anak labil yang baru saja akan lulus Aliyah seperti aku.

Suasaana ketika terasa sangat ancu, hidupku seolah tidak menapak pada bumi dan tak melayang di tengah udara, semua terasa taka da asa, pikiranku berkontradiksi, diriku mengalami kedilematisan yang cukup membuat kepala stress. Angina katika itupun seolah tak berpihak padaku, semuanya seolah menjauh dan saat itulah aku mengalami fase bagaimana rasanya hidup dengan datar, hdiup dengan mrasakan segala-galanya menjauh dan tidak ada yang berpihak kepadaku, aku sendiri!

Fauzan, fauzan kenapa gak mau kuliah?” Tanya guruku”
enggak mau mi, fauzan masih pengen ngaji”jawabku”

Ada alasan lain?”balasnya”

Gak ada, fauzan Cuma masih pengen ngaji aja”jawabku sambil merunduk”

Fauzan pikirannya jangan sempit, sekarang kuliah itu udah jadi keharusan, karna kita hidup di zaman persaingan dimana semuanya harus saja memunyai gelar”ceramahnya”

Aku hanya bisa mengangguk ketika itu.

Yaudah sekarang  fauzan kuliah ya, cari dimana aja fauzan suka.

Pikiranku terasa kacau tak ada sama sekali rasa yang bisa dinikmati, yang ada hanya kontradiksi.

Sebenarnya apa yang di khawatirkan para orang tua?

Materi?
kenapa para orang tua selalu saja memaksakan kehendak? Padahal itu sangat berakibat fatal bagi pemikiran anak.

Ketahuilah, bahwasannya setiap anak memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda, jadi bukan memaksakan, tapi ikuti kehendak anak serta mengarahkannya dengan telaten.

Setelah itu keadaan berjalan sangat tidak normal, hati dan pikiranku terisah, semua pemikiranku saat itu selalu berkontradiksi dengan segala gala yang ada di depanku.

Disini pemikiranku berlayar bebas, aku nahkodanya, bahteraku sangat rapuh dan aku jelas memerlukan  pelabuhan untuk melakukan perbaikan.
dalah hati aku seperti tidak terima, mengapa santri selalu di rendahkan, mengapa santri selalu di anggap sebelah mata.dianggap madesu.

Aku merindukan malam yang dimana setiap manusia asyik berain dalam mimpi, sementara aku memanfaatkannya untuk bergenosiasi tentang segala keluh kesahku pada kehidupan.
mencurahkan segalanya, membuat semuanya kembali tenang.
mencoba mensiasati takdir.

Tentang kehidupan, takdir manusia memang sudah di atur, kita tidak bisa merubahnya secara paksa. Memang ada takdir yang bisa dirubah, itu tensinya hanya tertentu, seperti nasib, itu sebuah takdir kehidupan yang bisa di siasati bukan dirubah.

Sampai setelah itu aku tetap mengikuti keadaan sebagaimana mestinya, aku mengikuti setiap tes di banyak perguruan tinggi, dan hasilnya nihil, kenapa?
allah, tak merestuinya, aku berpikir nampaknya allah berpihak kepada keinginanku.

Fauzan, pokoknya kalau kamu sampai milih untuk mondok lagi, jangan salahin kami sebagai keluarga kalau masa depan kamu tak terjamin”pesan salah seorang keluargaku”

Oke, kak hidup adalah sebuah tanggung jawab, dan fauzan akan mengambil resiko di jalan yang udah fauzan tetapkan, dan fauzan akan bertanggung jawab akan semuanya, dan sekali lagi, hidup adalah sebuah pilihan, dan fauzan memilih jalan ini untuk di pertaruhkan di masa yang akan datang.


dalam batinku, aku bergumam, ya allah, bantu aku, buktikan kepada mereka, bahwa orang yang berjuang di jalanmu pantas mendapatkan keistimewaan.

sesungguhnya setiap manusia mempunyai keistimewaan alamiah, ataupun keistimewaan yang bisa di asah. Fokus saja pada jalan yang dimana hati kita menyetujuinya, fokus saja berjalan secara alami, mengalir seperti air.
tapi, jangan lupa bernegosiasi, merayu tuhan untuk segala pertaruhan kehidupan, dan biarkanlah tuhan yang bertangung jawab akan semuanya.

Dan bertanggung jawabnya, suatu saat jika berhasil, semua akan memberi tepukannya pada orang yang telah dihinanya.

Dan perlu kita ketahui juga, banyak lulusan perguruan tinggi yang sudah menyandang gelar tapi mereka tidak bekerja di kantoran, ataupun jika ada, mereka anya menjadi kacung atau karyawan atau sejenisnya.
ini membuktikan bahwasannya kesuksesan setiap orang tidak diukur pada seberapa tinggi gelarnya, namun semua itu di kur dari segi mana aku, kamu, kita atau siapa saja bisa bermanfaat untuk sesame manusia, ketahuilah rizki sudah di jamin, dan setiap tingkah kita, pola pikir, keinginana dan cita-cita sudah terbagi rata.

Jika hati condong pada kuliah, kuliahlah namun ingatlah jangan merengek pekerjaan nantinya ingat juga, tanggung jawab untuk hidupmu sendiri.

Tapi jika pesantren atau pendidikan yang non formal yang dipilih, berjuanglah seperih-perihnya,
disini tidak akan ada yang membantu selain usaha dan do’a dari para orang tua dan guru sendiri.
disini tidak ada nilai, di jalan ini tidak ada gelar, disini hanya ada kemliaan yang bersifat merahasia.

ingat, apapun pilihan hidup yang kita ambil, semuanya mempunyai resiko terburuk untuk gagal, namun jangan berpikiran seperti itu, berpikirlah positife thingking, dan bertangung jawablah!

Karna hidup adalah sebuah umur yang dipertaruhkan, harga diri yang di pertangung jawabkan!

Dilihat 61