Pesan malaikat berwujud manusia

Fauzan Mauludi
Karya Fauzan Mauludi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Juni 2017
Pesan malaikat berwujud manusia

kejadian ini adalah kejadian yang bisa di sebut sebagai teguran atau pengingat atau bahkan apapun saja yang membuat diri ini tersadar akan lemahnya sebuah tekad, rendahnya sebuh mimpi.

Kemarin baru saja, terjadi sebuah momen cukup aneh.
 ketika aku saat sedang mencuci motor bersama kawan di depan sebuah asrama pesantren berlantai tiga, ketika itu langit menunjukan kemurungannya, mendung sudah menguasi langit, padahal pada hari itu waktu menunjukan pukul 14:00, yang pada seharusnya panas sudah menyengat kesekujur kulit dan menaikkan temperature badanl

Tapi pada saat itu angit menunjukkan keramhannya kepada kami, mendung menguasi langit dan angina yang berhembus terasa sangan memanjakan, membuat kami semakin nyaman elakukan kegiatan yang sudah menjadi rutinitas setiap motor kami terlihat tidak enka untuk di pandang.

Setiap kata canda dan gelak tawa terlempar seketika mewarnai suasana yang  begitu membuat kami lupa akan suasana sekitar.
setelah beres mengurusi motor yang sudah terlihat gagah, ketika proses pengeringan datangalah seorang laki-laki berbadan tegap dan bermuka kecoklat-coklatan.
aku merasa asing padanya, tapi nampaknya di mengenalku dengan sangat akrab.

Fauzan yah? Saya hadi” sambil menjulurkan tangan ke arahku”

Aku menaymbutnya dengan ramah.

Aku mengerutkan wajah dan mencoba mengingat dan memasuki ruang memori ingatan ku yang berantakan, kubongkar setiap sudut dan koridor-koridor di ruang otakku, tapi aku tidak menemukakn list bernama hadi tersebut.

Pangling, saya gak inget, “jawabku dengan polos dan jujur”

Saya yang waktu itu pernah kerumah.

Aku kembali mengerutkan dahi, mencoba membongkar dan mencari nama hadi, tapi tetap aku tidak menemukannya, aku tetap tidak mengingatnya.

A, fauzan disini?

Iya, fauzan disini, tapi udah jadi alumni.

Ooooh, anak saya juga kebetulan disini, nama raka.

Aku tersenyum, mencba mensuasati keadaan, yang pada sejujurnya aku sangat bingung, bagaiana menghadapi ini, berhadapan dengan orang yang tak di kenal tapi dia sangat akrab denganku.

Oooh, yaudah  lanjutin aja nyucinya, rajin juga a fauzan, saya tunggu disitu” sambil menunjuk kea rah warung depan asrama”

Zan, siapa?”kata habib kawanku yang mengusap-usap motornya?

Nggak tau bib, “kataku, sambil meneruskan pekerjaan”

Tak lama, hujan sudah mulai jatuh satu persatu, kami langsung mengamankan kendaraan kami ke depan warung dan mengeringkannya.

Singkat cerita, aku menghampiri orang yang bernama Hadi tadi.

Bapak, dari mana?

Saya, dari bayah.

Lalu dia bercerita tentang pengamalannya bekerja, pengalaman yang sangat dia kenang, sebab dia bekerja menjadi orang yang di hampiri orang misterius, umurnya ketika itu masih 16 tahun dan masih duduk di bangku dua SMA.

 Tapi saat itu dialah satu-satunya murid yang sudah memwaba mobil kesekolahannya dengan tidak tanggung bermerk BMW zaman normal ketiika orde baru tahun 1945.

Lalu akhir cerita bahwa itu hanya mimpi dahulunya, hanya bermodalkan keyakinan dan tak putus ibadah serta cita-cita yang selalu di sebutkan dan dilangitkan dalam do’a dia percaya bahwa allah bersamanya, dan akan mengabulkan segala hajatnya, dan tak mustahil, dia mendapatkannya dengan waktu secepat dan semuda mungkin.

Dia, perpesan, namun pesan ini penulis rahasiakan, dia tepat mengetahui segala cita-citaku, dia tepat membidik dan menebak dimana keinginanku, dia seolah tau siapa aku.

Dalam benakku, aku berkata “ orang ini bukan manusia”
ini hanya berupa dzohirnya saja berjasad manusia, lisannya menunjukkan dan mengarahkan ketenangan.

A fauzan, tanamkan pada hati a fauzan sebuah cita-cita tadi, yakin ! seyakin-yakinnya, percayalah! “katanya”

Lalu ketka itu hujan reda, dan dia pamit pulang.

 

 

 

  • view 330