Langit pesantren 1

Fauzan Mauludi
Karya Fauzan Mauludi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Juni 2016
Langit pesantren 1


Langit pesantren 


“Waktu-waktu yang yang sering mengingatkanku adalah tentang tempat dimana seluruh kenangan pahit-manis  dimulai dan berakhir di tempat yang sama, langit pesantren”.
Semua terasa bagaikan pelangi yang menghiasi hati, suara tahrim yang menggema keseluruh penjuru pesantren, keprikan pengurus dengan senjata mematikannya kayu dan seember air, muka yang masih di selimuti rasa kantuk, namun itulah kehidupan pelangi yang penuh di warnai dengan keterpaksaan.
Buku-buku yang tergeletak di atas mejaku mengingatkanku saat enam tahun lalu ketika aku berada di tempat ajaib itu, dimana aku bisa merasakan dan mengenal  persaudaraan, penderitaan, kebahagiaan, cinta, agama, dan dunia, semua pengalaman bisa aku rasakan dari tempat ini, sebuah tempat dimana segala-galanya tercipta, layaknya tuhan menciptakan dunia.

Pagi yang diselimuti kabut putih dan udaranya yang dingin menusuk tulang, aku duduk  di depan meja belajarku yang terbuat dari akar-akaran kayu jati sembari menikmati secangkir teh panas  dan pisang goreng yang telah aku buat, menyatu dengan dinginya angin pagi dan kabut yang masih menyelimutinya, gunung-gunung belum tampak pada pagi ini, namun matahari mulai merangkak ke atas untuk mengalahkan suasana yang begitu membuat seseorang yang merasakannya ingin kembali ke kamar dan berselimut, suasana mulai menjadi hangat dengan semua ini, aku selalu rindu akan tempat itu, tempat dimana aku di bimbing, di bina dan di didik sedimikian rupa, selalu ada catatan dalam buku yang selalu aku sediakan setiap harinya untuk aku isi dengan memori yang pernah aku lewati, entah aku senang sekali dengan menulis,  dan aku tau aku hanya sekedar hobi, aku hanya sekedar mengisi waktu luang untuk menciptakan sebuah karya amatiranku.

Aku ambil buku itu dengan tangan kiriku dan tangan kananku membukanya, saat itu aku terlepar pada masa lalu, dimana semuanya berawal dan dimulai.

******

“Kita jadi berangkat ke pesantren bu?”tanyaku.

“Iya kita jadi nanti jam sembilan”jawab ibuku yang baru saja keluar dari kamarnya.

Sementara aku masih duduk santai sembari menonton TV, aku belum begitu mengerti tentang pesantren , yang aku tau pesantren adalah tempat dimana aku harus belajar dan menimba ilmu agama disana menetap disana selama beberapa tahun, itulah yang aku tau sekilas tentang pesantren, semua kakak ku menemaniku kala itu di depan TV, mereka bercerita tentang dunia pesantren yang sebelumnya pernah mereka alami, dan mengiming-imngiku untuk menjadi orang yang hebat dipesantren, aku menghayal dengan tingginya, akan semua iming-imingan itu.

Semua perlengkapan yang harus disiapkan sudah dimasukan kedalam mobil, dan aku sudah mandi setelah subuh tadi, aku hanya menunggu ibu, beberpa hal yang muncul dalam pikiranku tentang pesantren adalah, seperti apa kehidupan di pesantren yang sebenarnya ?
aku akan merasakanya sebentar lagi, orang-orang anak yang di masukan ke pesantren itu adalah anak buangan yang orang tuanya sudah lelah mengurusinya, berarti singkatnya mereka adalah anak-anak nakal, apa aku nakal ?
serasaku tidak, waktu terus berjalan layaknya angin yang selalu berhembus mengelelilingi samudra dan semesta, mobilku melaju kearah jalan tol menuju bogor, kota yang di juluki sebagai kota hujan, entah mengapa bisa disebuut kota hujan mungkin karna setiap harinya selalu hujan?

saat itu aku duduk di kursi depan sembari memandangi jutaan pohon dan ribuan mobil yang aku lewati, sementara ibuku tertidur pulas di belakang, wajahnya selalu membuatku ingin bersamanya, kasih sayang yang tiada dua.

Dua jam berlalu aku sudah sampai di kawasan bogor sekarang, ibuku terbangun dari tidurnya, aku masih terdiam menatap kedepan memerhatikan daerah ini, tidak ada yang beda dari wilayahku, semua terlihat normal dan biasa-biasa saja, dan tak lama sampailah aku di Pondok pesantren Darul-Muttaqien, aku segera membetulkan posisi dudukku dan menatap serius akan pesantren yang akan ku tempati ini, nampaknya bayak sekali orang-orang yang hendak mendaftarkan sekaligus menempatkan anaknya untuk bermukim dan menunut ilmu di pondok pesantren ini, apa keistimewaan pesantren sebenarnya Aku masih bertanya-tanya.

Kudengar salah satu sepupuku ada di pesantren ini, tapi aku belum begitu mengenalnya, mobilku terparkir di lapangan yang dijadikan sebagai lapangan multi fungsi, ada tiang basket dan gawang futsal.
asik bisa main futsal”pikirku”

Aku turun dan memandangi pesantren ini sejauh mata memangdang, akan tempat yang masih menjadi pertanyaan bagiku, pesantren?
se-istimewa apakah pesantren?
mengapa begitu banyak yang ingin daftar ke pesantren?
apakah jumlah kenakalan di setiap keluarga selalu bertambah? Hingga para orang tua putus asa dalam mendidik anaknya dan akhirnya di pesantrenkan saja?
dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada kepalaku saat itu.

Disini aku berdiri dan menatap langit yang membiru dengan awan putih yang menghiasinya serta terik matahari yang menyilaukan mata, sejauh mata  memandang hanya keindahan tuhanlah yang bisa kudapatkan dalam potretan mata, aku hanyalah seorang lelaki yang polos, lugu, dan masih belum tau apa-apa, seorang anak yang masih ingin bersandar pada bahu kasih sayang orang tua, seorang anak yang mengira bahwa aku adalah anak krimial, seorang anak nakal yang tengah di buang orangtuanya untuk di tempa, mungkin inilah sebutan banyak orang  tentang sebuah tempat yang bernama penjara suci, tapi inilah karya tuhan, lukisan alam yang diperuntukan bagi khalifah dimuka bumi ini.

                Wahai angina yang berdesir .
                Wahai pepohonan yang terdam.
                Wahai matahari yang besinar.
                Aku memang memang tak dapat mendengarmu berujar.
                Aku memang tak dapat mendengarmu berucap.
                Tapi aku yakin, engkau sedang bertasbih kini.
                Engkau sedang berdzikir saat ini.

                Memuji TUHAN kita.
                Mensyukuri limpahan kasihsayang-Nya untuk kita. (1)

 

  • Ahmad Ubaidillah,”Memuji tuhan kita”,Sabda rindu, 2015

  • view 112