SWEEPING WARTEG DAN LOGIKA GILA

Fauzan Mauludi
Karya Fauzan Mauludi Kategori Politik
dipublikasikan 19 Juni 2016
SWEEPING WARTEG DAN LOGIKA GILA

               Sweeping warteg       

#Logikagila
“Syukur Alhamdulillah kita masih bisa berjumpa di bulan suci ramadhan ini, bulan yang penuh dengan keberkahan sekaligus maghfirah, bulan yang dimana pahala dilipat gandakan (obral pahala), pintu surga di buka dan di hias seindah-indahnya, setan-setan di belenggu, dan hal-hal lainnya.
kali ini kita dihebohkan oleh berita sweeping warteg oleh satpol pp, nampaknya kasus ini juga sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, tapi kenapa baru ramai dan booming pada rezim ini?
ini bukan pertama kalinya kita berpuasakan?
dan sekarang sedang berkembang tentang logika gila yang menyebar,mendoktrin pemikiran umat tentang logika gila seperti ini:
- Yang puasa harus menghormati yang tidak berpuasa
- Yang gak mengonsumsi narkotika harus menghormati orang yang mengonsumsi narkotika
- Yang mempunyai SIM harus menghargai orang yang tidak mempunyai SIM, polisi harus menghargai orang yang tidak mempunyai SIM.
- Yang benar harus menghormati yang salah
“Logika ini udah bener-bener gila, diamana moral bangsa ini?
sangat berbahaya jika Logika gila ini di kembangkan.
Saya rasa bangsa Indonesia bukan kekurangan orang-orang pintar tapi Indonesia kekurangan orang-orang jujur, apa mungkin mereka terlalu pintar dan akhirnya kebelenger? Sampe mereka gak tau mana yang salah dan mana yang bener.
Kemana aja waktu sekolah pak ?
Kemana aja waktu kuliah pak ?
Dimulai dari berita sweeping warteg dan merambat hingga kasus penghapusan perda berlandaskan syari’at.
Islam bukan agama yang keras, tapi islam merupakan agama yang tegas.
“Qulillhaqq walaukaana murron” katakanlah yang benar walaupun itu pahit.
Kasus ibu eni, yang di razia oleh Satpol PP, dia yang mempunyai 3 outlet warteg di boomingkan beritanya hingga menjadi berita nasional, yang akhirnya agama islam yang menjadi korban.
alasan teknisnya dengan membawa-bawa hukum( HAM ), berita ini menyebar begitu luas, dan sangat menyebar fitnah".

Pertanyaannya, kenapa sealu umat islam yang menjadi korban ?
kenapa selalu agama islam yang menjadi acuan berita ?
Islam tau batasan-batasan, mana yang benar dan mana yang salah, alangkah baiknya kita bertabayyun terlebih dahulu terhadap berita yang ada, dan untuk para peliput berita, jangan terlalu mengedepankan pekerjaan sementara kaian mengadaikan agama kalian, liput berita yang benar-benar faktual.

Mari untuk bertabayyun dan berkaca !
salam,

  • view 122