Necromancer - 1

fatkhul kareem
Karya fatkhul kareem Kategori Project
dipublikasikan 25 Februari 2018
Someone Named El Nino

Someone Named El Nino


"My name is Nino, and I will save you."

Kategori Fantasi

164 Hak Cipta Terlindungi
Necromancer - 1

​Aku baru saja pulang dari sekolah, ketika ada beberapa orang yang berhenti di depan rumahku. Mereka terlihat seperti mengamati sesuatu. Mereka terdiam berdiri beberapa saat sebelum mereka saling menatap satu sama lain dengan wajah bingung. Apa yang mereka sedang pikirkan? Ini tak seperti biasanya. Aku berlari menghampiri mereka.  David ada di sana. Dia bersama ayahnya berdiri terdiam dan terus mengamati rumahku.

“Ada apa?”

“Oh, Nino, ayahmu, dia kedatangan tamu.”  David berbicara padaku, tapi dia tetap ingin mengamati rumahku.

“Apa?” Aku penasaran.

Aku berlari masuk ke rumahku. Beberapa lampu masih menyala. Tidak ada orang. Bahkan ayah juga tidak ada. Di sini tidak ada siapapun. Tapi, mengapa ada banyak orang yang berdiri di depan rumahku?

“Ayah!” Aku memanggil beberapa kali dan tidak ada apapun.

Ini aneh. Aku tak pernah menemui rumahku sepi seperti ini—ayah tak pernah meninggalkan rumah saat Stella dan aku di sekolah. Stella sedang di sekolah, dan ibu tak akan pernah pulang. Ayah yang merawatku dan Stella selama ini—sampai saat dia menghilang hari ini. Dan hari ini dia hilang.

“Wanda?”

“Ya, Nino.” Wanda, dia masih aktif.

“Di mana Ayah?”

“Dia pergi ke The Prophet.”

The Prophet?” aku tak pernah memikirkan itu, ”untuk apa dia ke sana?” kenapa dia pergi ke tempat itu?

“Menteri Pertahanan menginginkannya.”

“Mengapa Tuan Menteri membutuhkannya,” Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, “aku tak tahu kalau Ayah punya hubungan dengan Tuan Menteri.”

“Untuk beberapa keperluan.”

“Bisa kau tunjukkan rekaman sebelum ia pergi?”

“Tentu.”

                Ada seseorang yang mengenakan baju rapi. Itu mungkin anak buah Tuan Menteri. Mereka berbicara sebentar di ruang tamu. Mereka bedua tampak akrab. Ayah terlihat agak kebingungan.  Orang itu memberikan sesuatu kepada ayah. Ia tampak sedikit memikirkan sesuatu. Ia memandang orang asing itu  dan kemudian Ayah pergi mengambil bajunya. Ia meninggalkan sesuatu di atas monitor—sepertinya itu adalah barang yang diberikan kepadanya tadi. Kemudian ia pergi dengan orang itu.

“Apa Ayah meninggalkan pesan untukku?”

“Ya, dia ingin agar kau tetap di rumah bersama Stella.”

“Tapi, mengapa ada banyak orang di luar?”

“Tuan Menteri ingin agar kita pindah ke tempat lain. Jadi, dia mengirimkan orang-orangnya mengemasi barang-barang.”

“Pindah...rumah?”

“Ya.”

“Di mana? Untuk apa?”

“Aku tidak tahu.”

                Aku sedang memikirkan sesuatu sebelum seseorang dengan pakaian aneh berjalan melewatiku. Mereka membawa buku-buku Stella.

“Apakah mereka orang-orang itu?” Aku berbisik kepada Wanda.

“Ya,Nino.”

“Tapi, Ayah ingin aku tetap di sini.”

“Ayahmu akan kembali 16 menit lagi.”

                Aku agak bingung dengan semua ini. Kenapa Menteri Pertahanan memanggil Ayahku? Untuk apa kami harus berpindah?

“Nino, Stella sudah tiba.”

“Nino?” Itu suara Kakakku.

“Selamat datang Stella.” Wanda menyambutnya.

“Ada apa di sini?” Stella melihat sekitar dengan perasaan aneh, “dan, dimana Ayah?”

“Dia dipanggil oleh Tuan Menteri Pertahanan.”

“Apa?” ia seperti baru saja terkena serangan jantung, “untuk apa?”

“Aku tidak tahu.” Aku masih merasa bingung dengan semua hal yang terjadi bersamaan ini.

“Wanda, kenapa ada banyak orang berkostum aneh di dalam sini?”

“Mereka memindahkan barang-barang, Stella.”

“Untuk apa mereka melakukannya?”

“Mempersiapkan untuk pindah.”

“Pindah?”

“Ya, Tuan Menteri ingin kita pindah.” Kataku.

“Bagaimana kau tahu?”

“Wanda punya rekamannya.”

“Kalian berdua akan berjumpa dengan Ayah sebentar lagi,” Wanda memotong percakapanku dan Stella. Ia seperrtinya tak ingin kami membahas ini lagi. “tolong ganti baju kalian sebelum ia datang.”

  • view 37