Scuba Diving

fatkhul kareem
Karya fatkhul kareem Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 November 2017
Scuba Diving

Mesin kapal bergetar, gemuruh terdengar. Pinggir pantai yang beralas ribuan pasir putih, tinggal garis melintang sepanjang mata memandang. Angin memberi kesejukan dalam diri. Kapal yang melintas membelah ombak lautan, meninggalkan jejak yang melebar dan pudar.

            Dingin air terasa di tangan, saat mencoba bersahabat dengannya. Membentuk garis memanjang tak berujung. Terpesona oleh damainya senyuman laut yang menyapa. Betapa tak terhitung apa yang sulit dilupakan saat itu.

            Berbaring melihat awan, tersenyum. Angin yang berada di sampingku, tidak pernah berhenti. Berkhayal akan terwujudnya  impian dan harapan. Tersenyum dengan satu arah untuk terhapusnya masa lalu. Hidup akan indah.

            Kapal terhenti, pertanda kami sudah sampai. Bayangannya tak terliahat dari atas. Aku bersiap dengan kostum baruku. Tak lupa dengan semua pelengkapan. Menunggu adalah hal yang membosankan, tapi ini adalah caranya. Ini adalah tempat untuk bertemu dengan semua hal yang tak akan dilihat oleh orang lain. Nafasku mulai tak beraturan, aku adalah penyelam.

            Menarik nafas dalam, memandang birunya air. Tangan yang diayunkan, membuat sebuah keyakinan untuk memulai satu hal yang harus ditempuh. Mata menajam, memperkuat arah tujuan. Jantung berdetak dengan melodi yang menahan waktu. Berkata dalam hati, mulai menghitung mundur. Aku siap.

Tubuh tertarik ke belakang. Lompatan yang memberikan perubahan tercipta.
Merasa dibinasakan oleh air yang mulai menemukan tempat di tubuh dengan cepat. Darah menghangat. Gelembung-gelembung di depan mata yang menari-nari mulai pergi ke atas. Sunyi mulai terasa, mata mencari-mencari kerumunan kehidupan. Ikan yang berenang berurutan membentuk pola melingkar, mengitari pandangan yang takjub. Berpesan kepada mereka; panggilah semua saudaramu kemari!

            Aku mulai menggerakkan tubuh untuk condong mengarah ke atas. Mataku menangkap tujuan, lurus kedalamnya lautan. Kaki yang menari-nari mendorong-dorong, membuatku mulai kedalam, semakin dalam. Aku adalah penyelam.

            Sinar matahari tidak menyilaukan dari atas. Layaknya sinar rembulan yang kucintai bagai saudara, selalu terang. Dunia bawah mulai kugapai. Aku terhipnotis. Lalu-lintas negri indah nan padat. Insang-insang mencari udara dalam setiap butir air. Warna-warni karang yang berpadu dengan goyangan ekor. Perlahan aku lepas nafas pertamaku.

            Barisan tumbuhan yang kokoh, aku terbang di atas semua itu, menyatu dengan itu, menyatu dengannya. Menggapai apa yang kulihat. Coret-coret di tubuh ikan menarik perhatian. Raut wajah yang berkata; “Selamat datang di dunia kami, kamu tidak akan melihatnya di layar, tak terlalu cantik, tapi kami tahu bagaimana cara mengatur segalanya.” Aku coba untuk merabanya, dan berakhir dengan pelarian yang menyakitkan. Dasar bodoh.

            Monster besar melintas di pundakku, membuat ngeri dan kaku. Yang kemudian berganti menjadi sebuah senyum tanda kagum. Dengan sangat cepat meninggalkanku. Putih gelap yang menjadi pengingat dirimu, menciptakan kenangan.

            Sebuah negri di bawah lindungan perisai yang tak akan mungkin pudar. Surga yang tak semua orang sanggup untuk mencapainya. Penuh warna mengkokohkan perjuangan untuk mencapainya. Penuh warna dan mengkokohkan perjuangan untuk menuju lebih dalam. Semua kenangan manis yang pudar mulai berdatangan kembali, menggantikan apa yang telah sirna. Sebuah kehormatan dan kenikmatan yang kurasa hanya diriku. Tak ada orang yang lebih bahagia dariku.

            Melihat ke atas, mengingat kehidupan yang nyata. Waktuku hanya sebentar, ini akan segera berakhir. Terasa sulit meninggalkan surga yang hanya bisa aku lihat sendiri. Melepas semua pandang dari ramahnya masyarakat. Nafasku terasa sesak, oksigen mulai kosong. Aku harus cepat menuju permukaan.

            Sinar putih matahari mulai menyinari menyilaukan mataku. Ini adalah awal dari akhir. Sebuah senyum aku bentuk, kata-kata hati mulai tersusun: “selamat tinggal, kita akan berjumpa lagi,bukan?”

            Tak ada tangisan, air mata tertahan, ini adalah pilihanku. Air laut masih melekat di tubuhku.

_________________________

Pernah dipublikasikan dengan judul yang sama dihttp://hsm.pim.sch.id/2017/03/cerpen-siswa.html

               

  • view 73