Kadang Kabut, Kadang Menjadi Hujan

Fatin Hamama
Karya Fatin Hamama Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 17 Februari 2016
Kadang Kabut, Kadang Menjadi Hujan

?

Catatan Puisi: Timur Sinar Suprabana

???????????????

Sebenarnya saya tidak sedang bermimpi menjadi Kafka, lengkapnya Franz Kafka, ketika tiba-tiba saya ingat dan menyetuji beberapa siakapnya yang radikal tentang sebuah karya sastra. Mendadak, saya seperti bergairah ketika mengingat kata-katanya, bahwa ?Kita harus menulis karya buku serupa kapak yang tajam bagi sebuah laut beku, di dalam diri kita. Sebuah buku harus mencederai pembacanya, percuma saja buku itu ditulis kalau tidak berdampak apa-apa bagi kita.

Bagi saya, Timur Sinar Suprabana, buku yang saya tulis itu adalah puisi. Namun yang berbaris dan ditulis pendek, belum tentu puisi. Yang ditulis dengan kata indah, tidak harus disebut puisi. Puisi adalah kapak saya untuk mencederai siapa pun yang menikmatinya, termasuk juga saya.

Maka, pusi kadang menciptakan keperihan, kadang kebahagiaan. Atau dalam istilah penyair Belanda Hendrik Marsman, puisi bisa ditulis seperti bercerita (Lihat puisi Twi Friends yang dibuka dengan dua baris naratif seperti ini: The moon makes a snowwhite field of the night/ a man has told a friend all about his life ??). Tapi saya tidak, puisi bisa ditulis dengan sangat tidak tuntut, tersedak, bahkan memberikan kebebasan pada penikmatnya untuk entah bertafsir apa saja.

Yang saya tulis kadang serupa kabut, kadang menjadi indah. Kadang syahdu, kadang pilu, kadang pula mencekam:


di dalam kabut. bersama kabut.
kupungut sejumput demi sejumput
yang berulang direpihkan maut
: cinta yang melingsut dalam Taut

semacam kenangan. namanya Kesedihan

?

(kabut)

?

???????????

??????????? Bisa saja saya membayangkan diri sebagai burung, yang berlari berkejar-kejaran di antara ribuan burung yang lain, karena akan turun hujan:

?

tak ada yang tersisa
bahkan rasa putusasa Habis pula
kenangan, juga cinta, berlumur upas dan bisa
: rindu yang Dulu tiada kini mengandung gula

menjadi Hujan. menguji nuh

?

(Menjadi Hujan)?

??????????? Apakah karena media yang saya hadapi adalah Puisi Mini Multimedia, sehingga saya akan begitu saja rela dipaksa menulis pendek? Kesadaran untuk memberontak, saya rasa dimiliki oleh semua penyair. Tidak ada keberanian buat saya untuk menjadi air sungai yang mengalir tanpa satu dua alas an yang saya sertakan.

??????????? Begitu ceriwisnya puisi ?Tentang Cinta,?? meski narasinya pendek (aku mulai mencintaimu/ pelahan, tak kentara, namun Jelas mencintaimu./ lalu angin, setelah melintas di dahan,/

menghembusi harapan dengan rasa Jauh yang kehilangan/ ?pegangan?.), namun racikan visualnya sangat cerewet. Saya tidak boleh terganggu ketika penafsir audio visual yang membantu saya memiliki ide-ide. Mungkin bukan ide yang besar, sebaliknya, tim audio visual menawarkan ide yang membatasi keliaran saya dalam menampilkan puisi.

??????????? Siapakah yang sudi memahami penampilan puisi-puisi multimedia seperti ini? Bahkan penyair klasik pun tidak. Ha ha ha? saya jadi tertawa terbahak ketika lagi-lagi teringat Kafka. Pasti ia akan mengumpat habis puisi semacam ini. Jika ia masih hidup, Kafka akan menawarkan gagasan visual yang lebih melotehkan darah, daripada harus berpuisi melankolik seperti ini. Tapi tidak.

??????????? Harus diyakini, bahwa dunia dan alam semesta bergerak. Mungkin dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, kita sudah tidak bisa lagi mendapati puisi yang ditulis pada selembar kertas. Seperti ketika sekarang menjadi aneh kalau ada penggemar puisi menanyakan ?Di kulit pohon atau daun lontar mana puisi bisa kutemukan?? Atau kalau pun masih ada, hal itu akan menjadi peninggalan sejarah sebagai situs. Atas semua pergulatan pikiran yang semacam itu, saya pun menulis satu baris penutup berbunyi, ? itulah sebab maut Tak perlu bergegas?? pada puisi ?Sandiwara.?

??????????? Kadang, tak bisa lepas dari rasa kanak-kanak, yang memandang segala sesuatu dengan hati, pikiran dan mata yang bening. Kadang, saya tidak ingin berpretensi apa pun terhadap kehidupan. Meski ketika saya meloncat di kamar kecerdasan yang lain, pretensi itu demikian kuatnya. Situasi itu termunculkan dengan puisi yang sederhana, enteng, namun masih saja indah. Di sini saya bertanya-tanya, keindahan memang tidak bisa saya lepaskan dari puisi-puisi saya.

?

suatu Sore

di Muram
semua rasa jadi asam
cuaca luput dari segala kalam
: jiwa dalam diri mulai Suam

kupilih diam dalam sekam

?

Rima dan persajakan bukan hal yang manipulative. Apa lagi jika kita berharap, kelak jika dibacakan akan mengumbar keindahan. Tidak. Keindahan puisi dtengarai karena muncul dari dalam. Ia berangkat dari nafas yang dihembuskan perlahan, menyatu dan membentuk kekuatan. Keindahan yang direka-reka dan dibuat-buat hanyalah melahirkan kepura-puraan.

Puisi di atas benar-benar berangkat dari pendalaman yang sederhana. Suatu sore, saya jalan-jalan di pelabuhan, memandang laut dan kapal-kapal nelayan, memotret pemandangan itu, lantas kelelahan. Saya diam, terduduk bahkan sesekali tertidur di dak kapal, atau nongkrong di tepiannya. Selintas saya mencatat cuaca, alam yang muram, jiwa yang merunduk karam. Hanya diam.

Menulis puisi dengan tema-tema besar tidak harus berangkat ke medan perang terlebih dahulu, atau merasakan betapa pedihnya lapar. Tema besar ada di dalam pergulatan batin kita sendiri, atau di rasa panas pelupuk mata lantaran menyaksikan yang tidak kita kehendaki. Amarah kita membara, tapi bisa apa? Dalam situasi yang tidak terkata, saya mengumpamakan diri serupa api. Dahsyat, menulis puisi tentang Api, pasti membara. Tidak.


ia kekal
meliuk dalam Sengal
biru dingin
: membakar segala ingin

seperti cinta yang tak terutara

?

(api)

?

??????????? Betapa syahdunya api, saya menulis dengan pola sikap yang berbeda. Selain memanfaatkan kekuatan visual, puisi harus terintegrasi dengan performa artistiknya. Saya pun mulai mendapatkan kegembiraan dengan genre puisi mini multimedia ini. Karena ada ?ketengilan? kreatif tersendiri yang harus berproses, terjalani dan berpikir agak teknis dalam menciptakannya.

??????????? Ini sebuah ajakan, atau paling tidak sebuah pengalaman baru untuk survive di dunia sastra digital. Seperti sedang mempersiapkan diri untuk melepas romantisme lama, puisi ditulis di selembar kayu, daun atau kertas. Kini puisi ditulis di awing-awang, dan bisa dinikmati tanpa batas area dan waktu.

??????????? Namun juga harus diuji, sampai sejauh mana puisi digital ini mencapai kebesarannya? dibanding sastra dengan media kertas. Tanpa sadar, tentu dengan perasaan penuh was-was, saya ikut masuk di dunia ?keniscayaan? yang memang belum teruji ini. Namun saya tidak sendiri, banyak teman ikut memulai. Siapa tahu, dunia masa depan kita dipaksa seperti ini.

??????????? Akhirnya, saya akan menutup bahasan catatan puisi saya ini dengan satu judul puisi yang memang saya persiapkan untuk puisi visual saya, seperti di bawah ini:



telah usai Cinta
tinggal sisa cat
memucat
: tuhan tak lagi berkatakata

??????????????????????????????????????????????? (usai)

?

?

?

?

  • view 279