BONEKA DAN PEREMPUAN

Fatayati Widya  Putri
Karya Fatayati Widya  Putri Kategori Psikologi
dipublikasikan 30 Januari 2016
BONEKA DAN PEREMPUAN

Boneka. Salah satu yang melekat dengan identitas anak perempuan setelah pita, bunga, dan warna merah muda. Bagi mayoritas anak perempuan yang sudah melepas masa anak-anaknya, beberapa hal benda kekanak-kanakannya ga bisa turut serta dilepas begitu saja. Salah satunya boneka.


Aku pribadi masih sangat butuh boneka. Entah mininal untuk dijadikan sebagai alas kepala, temen ngobrol (bagi yang kesepiannya tingkat akut atau imajinasinya terlampau tinggi), atau buat dipeluk, diusel-usel.


Ya, pada dasarnya semua wanita suka dipeluk. Terlebih saat bahagia dan sedih berlebihan. Pelampiasan terbaik adalah sebuah pelukan. Menurut banyak penelitian juga disebutkan bahwa pelukan merangsang kinerja horman baik yaitu serotonin dan oksitosin. Ke dua hormon ini akan menimbulkan perasaan tenang, bahagia dan menjauhkan dari rasa kesepian.


Beberapa waktu yang lalu dalam acara hitam putih, wali kota Bandung yang kece memaparkan hasil penelitian (lupa penelitian siapa) bahwa pelukan terbaik adalah minimal 20 detik, karena di detik 10 transfer chemistry antara orang yang berpelukan sedang terjadi.


Selain efek luar biasa dari pelukan yang dikemukakan para pakar melalui penelitian ilmiahnya, bagiku sebuah pelukan mengajarkan arti memberi sekaligus menerima. Ah, damai aja rasanya kalau berpelukan.

Begitu pentingnya sebuah pelukan bagi perempuan dan kebutuhannya ga bisa ditunda saat dibutuhkan, terlebih sebagai pengganti sesiapa yang belum seharusnya dipeluk maka pelampiasan terbaik untuk berpelukan adalah dengan boneka. Jadi tahu kan alasannya kenapa perempuan suka boneka?

  • view 223