Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 29 Januari 2016   11:07 WIB
SURAT TERBUKA DARI TANAH RANTAU

Semoga ibu sehat dan bahagia ketika membaca surat ini seperti aku yang sedang bahagia.

Sepagi tadi ketika hujan turun di kotaku seperti biasa hal pertama yang aku cari setelah mata terbuka adalah ponsel. Dengan mata agak setengah terkatup aku membuka lina masa di sosial media. Entah kebiasaan buruk itu sudah menjadi semacam candu di zamanku. Berbeda di zaman ibu dulu yang pernah ibu ceritakan padaku. Ketika bangun harus segera berbagi tugas dengan ke sepuluh saudara ibu. Ada yang harus membersihkan rumah, membersihkan kandang, mencabut ubi untuk sarapan, mencuci baju, mengantar sayur ke pasar dll sebelum berangkat ke sekolah. Sungguh aku merasa beruntung tak harus melakukan itu semua sepagi ini.

Bu, wangi tanah yang basah karena hujan membawa rinduku ke rumah sederhana di pinggir kali yang kita tinggali. Seandainya bisa aku ingin turut bersama di sana sepagi ini. Aku rindu. Pun, aku tahu ibu juga sangat rindu padaku. Maafkan aku yang terlalu sering mengabaikan rindumu dengan alasan, masih banyak yang harus aku wujudkan di kotaku termasuk bahagiamu.

Tidak hanya rindu saja yang sering aku abaikan, bu. Aku terlampau banyak mengabaikan ibu. Dulu ketika aku jatuh hati, rasanya ingatan tentang ibu mulai digeser oleh ingatan-ingatan lain. Kemudian sebaliknya ketika aku patah hati hanya telinga ibu yang siap mendengarkan aku sesenggukan berjam-jam via telepon. Meneleponku lebih dari lima kali dalam sehari hanya untuk memastikan aku baik-baik saja di tengah skripsiku yang sudah deadline dan persiapanku untuk pergi ke negeri Jiran yang ibu tahu aku hampir enggan berangkat ke sana. Waktu itu hanya satu yang ada di benakku. Aku ingin pulang sebab aku tahu rumahku adalah hatimu dan hati bapak, bu.

Maafkan aku atas segala kekhawatiran yang aku ciptakan. Seharusnya aku bisa menyembunyikan rapat-rapat segala resahku tanpa harus ibu dan bapak tahu. Tapi terimakasih bu sudah sangat menerima bahwa anakmu ini tak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari ibu. Meskipun pada akhirnya hati ibu seringkali turut merasakan beberapa sakitnya.

Maafkan aku bu, atas segala sakit yang ibu tanggung karenaku. Dari sakit dan nafsu makan ibu yang hilang sewaktu trimester pertama mengandungku hingga segala sakit yang masih ibu rasa saat ini. Maafkan aku yang selalu melibatkanmu untuk merawat sakitku.

Rasanya segala usaha serta hasil yang aku lakukan demi bahagiamu tidak akan pernah cukup untuk mengantikan peluh dan keluh ibu untukku. Semoga Allah menjadikannya pemberat timbangan amal baik ibu di akhirat kelak. Semoga pula aku dan adik-adik dapat menjadi jalan Surga ibu dan bapak, seperti yang ibu inginkan.

Sebagaimana ibu yang tak pernah alpa menyebutku dalam doa yang kadang beriringan dengan peluh. InsyaAllah aku juga tak pernah alpa menemui ibu, bapak juga adik-adik dalam setiap doaku. Terimakasih selalu bersedia menjadikan hatimu sebagai rumahku, bu.

Seluruhku mencintaimu.

?

?

Dari : Anak yang sedang rindu-rindunya dengan rentang peluk ibu.

Karya : Fatayati Widya Putri